• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, Agustus 12, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Sorotan

Sasando dan Lontar yang Menyimpan Sejumlah Cerita

Rita Hasugian by Rita Hasugian
3 tahun ago
in Sorotan
Reading Time: 4 mins read
A A
0
Sasando dan Lontar yang Menyimpan Sejumlah Cerita

Alat musik sasando (Ist)

0
SHARES
403
VIEWS

Jakarta – Sasando merupakan alat musik tradisional dari Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sasando  dimainkan dengan cara dipetik menggunakan jari-jari tangan. Alat musik itu memiliki bagian utama berupa tabung panjang seperti harpa yang terbuat dari bambu serta mempunyai ruang resonansi suara.

Terbuat dari sejumlah bahan baku dari alam seperti kayu, daun lontar, dan bambu khusus. Sasando dimainkan untuk mengiringi nyanyian, syair, tarian tradisional, dan menghibur keluarga yang berduka. Dalam perkembangan, juga menyambut atau menghibur tamu-tamu penting.

BacaJuga

Lima perempuan anggota Forum Pelangi Kasih dii Kota Kupang yang melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka sebagai LGBTQ+. Anak-anak mereka sering diejek, didisrkiminasi, dan dilecehkan. (Dok. KatongNTT)

Dipeluk Ibu Saat Dunia Menolak, Cerita dari Forum Pelangi Kasih Kupang

3 Juli 2026
Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

3 Maret 2026

Saat ini sasando sudah lumayan dikenal. Biasanya dimainkan dengan kedua tangan dari arah yang berlawanan. Tangan kanan memainkan akord dan tangan kiri memainkan bass atau melodi. Bermain sasando membutuhkan keterampilan dan harmoni untuk menghasilkan suara yang merdu.

Pemain sasando membutuhkan latihan dan keterampilan memainkan alat musik ini. Keterampilan tangan mempengaruhi tempo dan suara sasando. Sasando, sebagai kekayaan budaya Indonesia, memiliki implikasi penting bagi kehidupan masyarakat. Ini tidak terlepas dari nilai sejarah yang terkandung dari kehidupan masyarakat.

Baca juga: Friets Mone Merawat Budaya Sabu Melalui Kamus

Sasando terikat cincin ke resonator pertama dan sebagai fitur khusus, dilengkapi resonator kedua yang terbuat dari daun lontar. Resonator kedua ini juga berfungsi sebagai aksesori.

Banyak pohon lontar tumbuh liar di daratan Timor atau wilayah NTT lainnya. Meski di areal yang marjinal dan jenis pohon lain tidak mudah tumbuh di daerah ini. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika penduduk setempat sangat bergantung pada pohon lontar selain hasil laut.

Buah lontar muda bisa dimakan, batang pohon sebagai bahan bangunan, akar bisa sebagai obat, dan daun untuk kerajinan tangan. Contohnya wadah air yang disebut haik, gayung, topi, sandal, dan atap. Yang lebih istimewa, lontar bisa digunakan untuk resonator serta aksesoris alat musik sasando.

Daun lontar sangat keras dan tahan lama. Sebelum penemuan kertas, daun lontar digunakan untuk memo dan prasasti di negara-negara Asia seperti India, Pakistan, Bangladesh, Jawa dan Bali. Sejumlah catatan menyebutkan, alat musik Sasando memiliki nilai moral, nilai religius, nilai pendidikan, nilai adat istiadat, dan nilai spiritual atau harapan.

Itulah sebabnya masyarakat NTT, juga bangsa Indonesia terus melestarikan musik tradisional ini yang memiliki sejarah panjang dari perkembangan zaman.

Ilustrasi pohon lontar (Ist)

Sasando ternyata menyimpan sejumlah cerita tentang asal-usulnya. Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali (BPNBB), lembaga yang dinaungi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam laman resminya mengulas sejumlah versi cerita dan legenda sasando.

Baca juga: Budaya Tutu Unu Wolokoli Terancam Punah

Cerita pertama, konon awalnya seorang pemuda bernama Sangguana terdampar di pulau Ndana (dekat Pulau Rote) saat melaut. Dia dibawa penduduk menghadap raja di istana. Selama tinggal di istana inilah bakat seni dari Sangguana memikat sang putri raja. Ia meminta Sangguana menciptakan alat musik yang belum pernah ada.

Suatu malam Sangguana bermimpi sedang memainkan suatu alat musik yang indah bentuk maupun suaranya. Diilhami mimpi tersebut, Sangguana menciptakan alat musik yang diberi nama Sandu (artinya bergetar). Alat musik itupun diberikan kepada Sang Putri yang  menamakannya Depo Hitu yang artinya Sekali Dipetik Tujuh Dawai Bergetar. Cerita ini dimunculkan almarhum Yusuf Nggebu.

Cerita kedua, Sasando ditemukan dua penggembala bernama Lumbilang dan Balialang (diceritakan oleh Jeremias Pah). Ketika meladang bersama domba-domba, mereka membawa sehelai daun lontar. Saat kehausan di siang hari mereka melipat daun lontar tersebut untuk menimba air. Untuk melipat, bagian tengah daun berwarna kuning muda harus dibuang dan ketika hendak melepas, tali tersebut dikencangkannya.

Tanpa disangka, ketika ditarik keras menimbulkan bunyi nada yang berbeda-beda. Tetapi, karena sering terputus keduanya lantas mencungkili lidi-lidi tersebut. Akhirnya, mereka menemukan jika dikaitkan rapat akan membunyikan nada tinggi. Sebaliknya merenggang akan menghasilkan nada rendah.

Cerita ketiga, Sasando diciptakan dua orang sahabat yaitu Lunggi dan Balok Ama Sina yang merupakan seorang penggembala domba sekaligus penyadap tuak. Ketika mereka sedang membuat haik dari daun lontar di antara jari-jari dari lembaran daun lontar terdapat semacam benang/fifik yang apabila dikencangkan akan menimbulkan bunyi.

Baca juga: Terancam Punah, Tujuh Bahasa Daerah Asal NTT Direvitalisasi

Dari pengalaman inilah menimbulkan inspirasi kedua sahabat ini untuk membuat suatu alat musik petik yang dapat meniru suara atau bunyi-bunyian pada gong. Caranya dengan mencungkil tulang-tulang daun lontar yang kemudian disenda dengan batangan kayu. Karena suara yang dihasilkan kurang bagus, lalu diganti dengan batangan bambu yang dicungkil kulitnya serta disenda dengan batangan kayu. Ini cerita versi Djoni L.K. Theedens; Sasando dan Orang Rote, yang ditulis dalam sebuah media lokal.

Cerita keempat, Samuel Ndun alias Sembe Feok (1897-1990) seorang manahelo (ahli silsilah dan syair) di Rote bagian Barat. Menurutnya, penemu sasando adalah seorang yang bernama Pupuk Soroba. Inspirasi  pembuatan sasandu diperoleh Pupuk Soroba saat menyaksikan seekor laba-laba besar sedang asyik memainkan jaring (sarangnya). Sehingga terdengar alunan bunyi yang indah. Dia pun ingin menciptakan alat yang dapat mengeluarkan bunyi yang indah.

Awalnya dia mencungkil lidi-lidi daun lontar yang mentah, lalu disenda, kemudian dipetik. Pikiran Soroba makin berkembang, terakhir ruas bambu dipasang pada haik yang terbuat dari dun lontar, serta senar atau dawai. Mula-mula dibuat dari serat akan pohon beringin, sesudah itu dibuat dari usus musang yang kering. Ternyata menghasilkan resonansi bunyi yang lebih besar. Ulasan ini dikutip dari Paul A. Haning; Sasando, Alat Musik Tradisional Masyarakat Rote Ndao.

Sasando, dalam bidang organologi (ilmu tentang alat-alat musik) tergolong Sitar Tabung Bambu. Menurut para peneliti musik, sitar tabung bambu adalah alat musik asli Asia Tenggara (misalnya, Filipina dan Indonesia). Sitar Tabung Bambu juga ditemukan di Madagaskar dengan sebutan Valiha/Ali. Alat musik ini berasal-usul dari Asia Tenggara melalui perpindahan penduduk (Stanley Sadiebed. The New Grove Dictyonary of Musical Instruments). [Anto]

Tags: #Lontar#Musik#RoteNdao#Sasando
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Lima perempuan anggota Forum Pelangi Kasih dii Kota Kupang yang melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka sebagai LGBTQ+. Anak-anak mereka sering diejek, didisrkiminasi, dan dilecehkan. (Dok. KatongNTT)

Dipeluk Ibu Saat Dunia Menolak, Cerita dari Forum Pelangi Kasih Kupang

by KatongNTT
3 Juli 2026
0

Kupang –Suara tawa lepas lima perempuan lansia memenuhi ruang tamu rumah Pendeta emeritus Aplonia Mariana Mba’u-Lidda pekan terakhir April lalu....

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

by Yanti Mesak
3 Maret 2026
0

Untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 yang dimulai pada 17 Februari 2026 dan berakhir pada 3 Maret 2026, keluarga Frans...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati