Jakarta – Local Media Summit 2023 kembali digelar untuk kedua kalinya. Acara yang digagas Suara.com bersama International Media Support (IMS) dihadiri para pendiri dan pengelola media lokal dari berbagai daerah.
Salah satu isu yang mendapat banyak perhatian dalam pertemuan ini adalah tentang upaya media lokal memilih model bisnis yang tepat di era digital yang terus berkembang dan hadirnya media sosial yang semakin diminati masyarakat.
Dalam sesi Conference “Media Start Up Towards Capital”, Suwarjono sebagai CEO Suara.com menjelaskan tentang perjalanan media yang dipimpinnya untuk melantai di bursa . Ini keputusan besar yang diambil, tentunya dengan mempertimbangkan resiko, demi mempertahankan independensi media.
Berbisnis di media itu itu tidak seperti berbisnis warung kopi atau warung makan yang hari itu produk dijual hari itu juga mendapatkan hasil.
Suwarjono memilih masuk bursa karena mempertimbangkan independesi media yang berdasarkan pengalaman selama ini, pemilik modal atau investor kerap mengintervensi kerja-kerja jurnalistik.
“Jadi, yang paling independen itu pasar saham ,” kata Suwarjono.
“Tidak ada intervensi karena ownernya banyak.”
Suwarjono juga memberikan beberapa syarat untuk bisa melantai di bursa di antaranya trafik yang terus berkembang, pengembangan publik, dan menggandeng mitra iklan. Dan yang penting juga, ujarnya membuat laporan keuangan yang harus bagus.
Tentu saja semuanya butuh proses, ketekunan dan keberanian mengubah mindset tentang bisnis media agar tetap independen dalam menjalankan bisnisnya.
Hingga saat ini, ada 17 media yang melantai di bursa saham.
10 Tips Bertahan di Bisnis Media
Dalam sesi Media Advertising Landscape, VP Dentsu Indonesia, Janoe Arijanto mengatakan, media ke depan harus semakin kreatif. Apalagi munculnya aturan-aturan baru baik dari Google dan pemerintah . Nah, jika ingin tetap bertahan di bisnis media, ada 10 tips yang harus dilakukan:
1.Belanja iklan kedua mega platform di atas 70 persen.
2. Kampanye jangka pendek kontek pendek yang lebih pendek.
3. Pemasaran influencer, ekonomi influencer.
4. Monetisasi streaming langsung.
5. Munculnya platform hiburan dan video pendek.
6. Perdagangan elektronik dan optimasi perdagangan sosial.
7. Tanggung jawab sosial sebagai kampanye prioritas.
8. Konten untuk perdagangan dan pemasaran afiliasi.
9. Data pihak pertama.
10. Personalisasi hiper atau bentuk pendekatan.
“Data ini penting bagi pengelola news portal online karena menawarkan wawasan mendalam tentang perilaku dan preferensi pembaca, karena memungkinkan untuk personalitas konten,” katanya.
“Pendekatan yang menggunakan data dan teknologi atau menyediakan konten, produk atau pesan iklan yang sangat sesuai dengan kebutuhan konsumen,” ujar Janoe lagi.
Janoe juga menyampaikan bahwa tantangan di jurnalisme dan bisnis media ke depan akan semakin sulit. Hal ini karena banyak yang membuat media dibangun oleh semangat jurnalisme. Seperti, bentuk yang akan menyulitkan jurnalisme dan bisnis media itu dari ketergantungan kepada ke media platform, data audience dikuasai oleh platform teknologi, masuk dalam lingkaran dilematis SEO, melemahnya posisi tawar publisher.
Kemudian, pudarnya hubungan langsung penerbit dan pengiklan, bersaing dengan crowd content, menghadapi kendala transparansi data dan Influencer marketing.
Meski hal itu perlahan sudah ada, dia juga menjelaskan ada pekerjaan rumah yang sangat panjang ke depan bagi bisnis media dan jurnalisme.
“Yakni mendorong fairness mega platform, dari ruang iklan integrasi aset digital, penguatan First Party Data, Penguatan data audiens di aset multi platform, community and multi segment engagement, Memposisikan media sebagai brand dan memperkuat proses dan model bisnis multi platform,” jelasnya.
Local Media Summit 2023 yang berlangsung di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat berlangsung dari 11-12 Oktober 2023. Suara.com dan IMS menghadirkan sejumlah narasumber untuk berdiskusi bersama pendiri dan pengelola media lokal untuk meningkatkan kapasitas dan networking . *****




