• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Senin, Maret 9, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Sorotan

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

Yanti Mesak by Yanti Mesak
6 hari ago
in Sorotan
Reading Time: 5 mins read
A A
0
Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

0
SHARES
37
VIEWS

Untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 yang dimulai pada 17 Februari 2026 dan berakhir pada 3 Maret 2026, keluarga Frans Xaver Saka melakukan tradisi sembayang malam tahun baru Imlek sebagai penghormatan kepada leluhur juga sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas penyertaannya selama ini. Sembayang malam tahun baru Imlek ini diadakan di rumahnya yang terletak  di Weluli, Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, NTT.

Weluli sendiri sudah dikenal sejak berabad-abad lalu dengan kehadiran para pedagang dari Cina pada tahun 1700-an untuk mencari malam (lilin), kayu cendana, dan madu. Menyebut kata Cina disini tidaklah rasis karena orang-orang Timor pada umumnya tidak mengenal kata Thionghoa. Kata Cina lebih familiar di telinga orang-orang Timor.

Baca juga: Perayaan Imlek di Gedung Tua Warisan Marga Lay di Kota Kupang

BacaJuga

Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

18 Agustus 2025
Kampung adat Ratenggaro di Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT (Dok.Antara)

Bukan Hanya Soal Dipalak: Belajar dari Ribut-ribut Jajago di Sumba

23 Mei 2025

 

Kedatangan Pertama Orang Cina
Menurut catatan para misionaris yang dikutip dari Buku Sejarah Nualain yang diakses di Paroki Nualain menyebutkan tentang ini:

“Pada tahun 1879 Pater Krasivanger, SJ, pergi ke Lamaknen, lewat Asumanu menuju Weluli. Di Weluli, Pater tinggal dengan Orang Cina. Orang Cina di Weluli banyak sekali dan boleh dikatakan Kampung Cina. Mereka sudah tinggal di sana selama 80 tahun dan sudah selama 10 tahun mereka tanam kopi dan ketika panen mereka mendapat kopi 60 hingga 70 karung setiap tahun. Daerah sekitar Weluli subur dengan air yang melimpah. Dari Weluli Pater mengunjungi semua kampung utama sampai perbatasan Maukatar.”

Orang Cina yang datang ke Weluli pada tahun 1799  tidak kembali ke tanah kelahirannya tapi memilih menetap di Weluli. Leluhur Frans, akrab di sapa Bapak Apin datang pertama kali dari Cina ke Atambua itu sebanyak 6 orang. Apo (nenek) dan Akun (kakek) bersama 3 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan.

“Menurut cerita turun-temurun dari leluhur terdahulu itu, para leluhur yang pertama kali datang dari Cina itu 6 orang. Apo dan Akun bersama 3 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan. Mereka sempat sampai di Atambua tetapi karena Jepang sudah datang untuk menjajah Indonesia sehingga mereka lari bersembunyi di Balibo, tepatnya di sebuah tempat yang bernama Kowa. Kowa itu berada di Timor Leste. Setelah Jepang pulang, keluarga ini kembali ke Atambua dan beranak cucu hingga hari ini,” ungkap Frans.

Anak cucunya tersebar di Atambua, Nurobo, Kefa, Kupang, Flores, Jakarta, Surabaya, Malang, dan Timor Leste.

Baca  juga: Siapa Ang Hauw Lang, Penyelundup Surat Rahasia Soekarno?

 

Berbagai macam persembahan kurban Imlek keluarga Frans Xaver Saka. (Yanti Mesak/KatongNTT)
Berbagai macam persembahan kurban Imlek keluarga Frans Xaver Saka. (Yanti Mesak/KatongNTT)

 

Sembayang Imlek
Salah satu tradisi yang diwariskan oleh leluhur kepada anak cucu adalah sembayang malam tahun baru Imlek. Tradisi ini pula yang masih dilakukan oleh keluarga Apin  hingga saat ini.

“Dulu itu sembayang tepat jam 12 malam. Waktu masih kecil dibangunkan Meme jam 12 malam supaya bisa ikut sembayang,” kenang Clotilde Min Mesak, istri Apin.

Menurut Amin, sapaan akrab Clotilde Min Mesak,  saat dia kecil waktu yang tepat untuk melakukan sembayang Imlek itu adalah pukul 00.00 WITA.  Ibunya selalu membangunkannya dan saudara-saudaranya supaya bisa mengikuti sembayang. Meja yang digunakan sebagai altar  untuk meletakkan kurban persembahan diletakkan tepat di dekat pintu. Ini adalah sembayang kedua setelah sembayang pertama yang dilakukan di teras depan. Sembayang pertama dilakukan untuk Tuhan.  Sembayang kali ini dilakukan untuk menghormati arwah leluhur.

Dua batang lilin merah diletakkan di bagian depan mengapit gelas yang berisi beras yang berfungsi sebagai tempat untuk menancapkan hio. Di belakang lilin diletakkan 7 buah cangkir yang nantinya akan diisi anggur kolesom. Di belakang cangkir itu ada 5 cangkir yang akan diisi teh tawar. Di bagian jejeran cangkir itu diletakkan 5 stoples kue kering yang bervariasi baik itu bentuk maupun rasanya. Di bagian kanan tepatnya di sebelah jajaran stoples kue diletakkan sebaki penuh buah-buahan. Sementara di bagian kiri diletakkan uang kertas yang pada akhir ritual ini akan dibakar. Di belakang jejeran stoples kue-kue kering diletakkan kue cake, kue cangkir (kue mangkok) dan kue isi unti (kue mendut).

Baca juga: Membungkam Ingatan: Takedown Mei 1998 dan Perlawanan Digital Masyarakat Sipil

 

Setiap kurban persembahan Imlek harus berjumlah ganjil sesuai tradisi yang dirawat oleh keluarag Frans Xaver Saka . (Yanti Mesak/Katongntt)
Setiap kurban persembahan Imlek harus berjumlah ganjil sesuai tradisi yang dirawat oleh keluarag Frans Xaver Saka . (Yanti Mesak/KatongNTT)

Pada bagian paling belakang diletakkan daging babi yang telah direbus, daging ayam utuh yang telah direbus dan dikeluarkan bagian dalamnya, daging bulat (bola daging cincang), daging terigu (daging babi dicampur tepung terigu) dan ikan goreng yang telah dikeluarkan bagian dalamnya tanpa membelah perutnya.

“Semua kurban persembahan yang ada di atas meja sembayang ini jumlahnya harus ganjil,” ujar Amin menjelaskan.

Jumlah korban persembahan harus ganjil, menurut Amin, sesuai dengan tradisi. Kue-kue kering itu sebelum diisi ke dalam stoples harus dihitung demikian juga dengan bahan-bahan persembahan lainnya yang berjumlah banyak itu harus dihitung juga sehingga tidak salah.

Sembayang Imlek dimulai dengan membakar dua batang lilin merah. Setelah itu salah satu anggota keluarga akan menyulut hio lalu melakukan sayang atau soja sebagai pertanda dimulainya sembayang Imlek. Malam itu, Erik Saka, salah satu anak Bapak Apin yang bertugas untuk menyulut hio. Erik  juga yang akan melakukan semua hal dari awal sembayang hingga akhir sembayang nanti seperti menuang anggur kolesom, menuang teh, dan melakukan sayang menggunakan kertas dan membakar kertas di bagian akhir.

Erik kemudian membagikan hio pada anggota keluarga yang lain untuk melakukan sayang secara bergantian. Setelah itu ia menuangkan teh tawar dan anggur kolesom ke dalam cangkir yang kosong itu. Teh dan anggur merah akan dituang 3 kali dengan mengikuti nyala hio. Jika hionya sudah berkurang maka akan dituang lagi teh tawar dan anggur kolesom. Menurut Apin, istrinya lebih paham soal tata cara sembayang Imlek ini.

“Sejak kecil diajak Papa dan Meme (mama) untuk mengikuti sembayang dan diajari tata caranya jadi sudah paham dan mengerti sehingga bisa melakukan sendiri ketika sudah berumah tangga,” kata  Amin.

Hal ini juga yang diterapkan dalam keluarganya. Semua anak-anaknya diajarkan tata cara sembayang agar mereka paham dan tahu.

 

Sirih, pinang, kapur sirih, dan rokok disertakan sebagai kurban persembahan Imlek keluarga Frans Xaver Saka. (Yanti Mesak/KatongNTT)
Sirih, pinang, kapur sirih, dan rokok disertakan sebagai kurban persembahan Imlek keluarga Frans Xaver Saka. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi yang Menyublim

Orang-orang Cina di zaman dahulu melakukan sembayang Imlek biasanya pada pukul 00.00 WITA akan tetapi semakin ke sini semakin ada perubahan waktunya. Pada saat ini ada keluarga-keluarga yang melakukan sembayang Imlek pada jam 16.00 WITA, jam18.00 WITA dan ada pula yang melakukan sembayang pada jam 20.00 WITA seperti yang dilakukan oleh keluarga Apin.

“Pengaruh perkembangan zaman membuat orang-orang zaman sekarang memajukan jam sembayang dari jam 12 malam menjadi jam 9, jam 6, maupun jam 4 sore. Mereka melakukan itu sesuai penafsiran masing-masing. Yang paling penting adalah tentang bagaimana menghormati leluhur. Itulah inti dari sembayang Imlek ini,” kata Apin.

Selain perbedaan waktu untuk bersembayang Imlek, ada lagi perbedaan pada kurban persembahan yaitu kue-kue yang ditaruh di meja persembahan. Ada jenis kue yang masih bertahan hingga hari ini yaitu kue cangkir (kue mangkok) dan kue isi unti (kue mendut).

“Kue yang tetap digunakan dari dulu sampai sekarang itu kue cangkir dan kue isi unti sedangkan Thiam Pan itu tidak digunakan lagi,” ujar Ibu Amin.

Thiam Pan yang dimaksud adalah kue keranjang. Di keluarga ini Thiam Pan tidak lagi digunakan sebagai kue yang menjadi bahan persembahan. Selain itu, ada lagi perbedaan dalam menyiapkan kurban persembahan. Jika di zaman dulu biasanya disiapkan sendiri di rumah mulai dari menyiapkan kue, daging, dan buah-buahan. Akan tetapi di zaman sekarang semua bahan persembahan akan dibeli saja jika tidak sempat membuatnya.

“Orang-orang tua dulu biasanya menyiapkan sendiri sedangkan pada saat ini bisa dibeli saja,” ujar  Amin.

Baca juga: Cerita Perampasan Tanah Ulayat Demi Berburu Mangan di Pulau Timor

 

Keluarga Frans Xaver Saka, istrinya Clotilde Min Mesak dan anak-anak mereka merawat tradisi sembahyang Imlek. (Yanti Mesak/KatongNTT)
Keluarga Frans Xaver Saka, istrinya Clotilde Min Mesak dan anak-anak mereka merawat tradisi sembahyang Imlek. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Mempertahankan Tradisi

Pada akhirnya Apin dan istrinya berharap anak-anak mereka bisa mempertahankan tradisi sembayang Imlek ini dan bisa melakukannya sendiri di saat mereka telah berumah tangga.

“Harapan saya adalah semoga anak-anak bisa mempertahankan tradisi sembayang Imlek ini dan bisa melakukan sendiri saat mereka sudah membentuk rumah tangga sendiri. Jadi, setiap kali ada sembayang Imlek saya selalu mengajak mereka untuk melakukannya mulai dari menyusun bahan persembahan hingga terakhir saat membakar kertas sembayang. Mempertahankan tradisi yang dilakukan secara turun-temurun adalah alasan saya untuk selalu melakukan sembayang Imlek,” Amin.

Sembayang Imlek ini lalu ditutup dengan membakar kertas yang dipercaya sebagai uang. *****

 

 

 

Tags: #Imlek2026#Weluli #Belu
Yanti Mesak

Yanti Mesak

Baca Juga

Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

by Difan Fandi
18 Agustus 2025
0

Desa Natarmage - Pagi itu, saya berangkat dari Desa Pruda menuju Natarmage, Kecamatan Waiblama, untuk mengikuti perayaan HUT RI ke-80...

Kampung adat Ratenggaro di Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT (Dok.Antara)

Bukan Hanya Soal Dipalak: Belajar dari Ribut-ribut Jajago di Sumba

by PriyaHusada
23 Mei 2025
0

Ketika video viral tentang wisatawan merasa dipalak di Ratenggaro bikin geger, NTT dihadapkan lagi pada pertanyaan lama: Apakah kita sudah...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati