Desa Natarmage – Pagi itu, saya berangkat dari Desa Pruda menuju Natarmage, Kecamatan Waiblama, untuk mengikuti perayaan HUT RI ke-80 tanggal 17 Agustus 2025.. Jalan yang rusak parah dan jembatan kayu darurat yang dibangun warga menjadi saksi perjuangan masyarakat desa ini dalam merawat semangat kemerdekaan.
Sejak jembatan Napun Keor putus pada 2019, akses ke desa terancam terisolasi. Berkat gotong royong, warga membuat jembatan sementara dari kayu seadanya. Namun, kondisi ini jelas tidak layak untuk jangka panjang.

Baca juga: #PerempuanRawatBumi: Menjaga Pangan Lokal di Kaki Gunung Lewotobi
Ursula Uban (50), warga setempat, menuturkan bahwa tantangan hidup di Natarmage tidak hanya soal jalan dan jembatan.
“Listrik belum merata, obat di poskedes sering kosong. Tapi kami bertahan, karena ini rumah kami,” ujar Ursula.
Silvester Yofrance, tenaga kesehatan, menambahkan: “Pelayanan kesehatan terkendala akses jalan. Kami berharap ada perbaikan agar masyarakat bisa lebih cepat mendapat layanan.”
Kepala Desa Natarmage, Nikolaus Nong, mengakui keterbatasan kewenangan dari penggunaan Dana Desa.
“Dana Desa tidak bisa digunakan untuk membangun jalan atau jembatan. Kami sangat bergantung pada pemerintah kabupaten dan provinsi,” jelasnya.

Baca juga: Jembatan Noebunu di TTS Rusak Berat Bertahun-tahun, Siapa Peduli?
Meski begitu, ia menegaskan bahwa desa terus berupaya meningkatkan ekonomi warganya lewat pertanian lahan kering. Namun, perubahan iklim membuat hasil panen sering gagal. “Banyak warga akhirnya merantau,” ujar Nikolaus.
Ifan, tokoh muda Desa Natarmage menegaskan bahwa perayaan kemerdekaan bukan sekadar simbol.
“Kami rayakan dengan suka cita. Tapi kami ingin pemerintah bisa membuka mata dan segera memperbaiki jalan. Kemerdekaan harus terasa di seluruh pelosok, termasuk di Natarmage,” tegasnya. *****




