• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Jumat, April 17, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Opini

Impor, Hari Pangan Sedunia, dan Mahkamah Konstitusi

Oleh : Heriyanto S.Soba, Sekjen Masyarakat Singkong Indonesia

Tim Redaksi by Tim Redaksi
3 tahun ago
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Impor, Hari Pangan Sedunia, dan Mahkamah Konstitusi

Cara masak makanan tradisional dari singkong. (Ist)

0
SHARES
55
VIEWS

Jakarta – “Makan ubi-ubian, nasi jagung, itu lebih bikin kenyang dibanding makin nasi beras. Selain itu, pangan lokal ini kan punya nilai gizi yang lebih bagus,” demikian sepenggal kalimat dari Wunu Hiwal, petani di Desa Ndapayami, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sekalipun masyarakat di desanya saat ini menghadapi masa sulit karena hama belalang yang semakin merajalela, kenaikan harga bahan pokok dan kelangkaan beras, Wunu memiliki harapan untuk melewati tahun sulit 2023 ini. Sebagaimana ditulis laman Sumba Integrated Development (SID), Wunu mengandalkan tanaman pangan lokal di kebunnya  yang lebih tahan serangan belalang seperti singkong, petatas dan keladi.

BacaJuga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

13 April 2026
Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

8 April 2026

Baca : Kamboja, Singkong ‘Pejabat’, dan Sehari Tanpa Nasi

Apa yang dilakukan Wunu adalah gambaran sebagian kecil petani di beberapa wilayah NTT dan Indonesia secara umum yang saat ini menghadapi kelangkaan pangan. Umumnya, beberapa petani punya cadangan pangan, tetapi tahun 2023 ini cukup sulit. Kemarau panjang dan El Nino menyebabkan para petani pun menghadapi gagal panen akibat kekeringan.

Dalam skala terbatas, singkong dan umbi-umbian menjadi andalan. Namun, dalam skala nasional, pangan Indonesia sudah dalam kondisi kritis. Impor beras sudah mengalir deras dalam beberapa bulan terakhir setelah penjajakan ke China, India, Pakistan, Thailand, Vietnam dan Kamboja. Prediksi impor tahun 2024 juga akan meningkat karena banyak petani gagal panen.

Baca : Optimalkan Singkong, NTT Bisa Kurangi Ketergantungan Beras dari Luar

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso alias Buwas mengatakan, pemerintah berencana untuk kembali melakukan impor beras sebanyak 2 juta ton pada tahun 2024. “Jangan dikatakan pasti impor, untuk jamin keamanan Bulog dikasih penugasan seperti tahun ini, untuk tahun depan, yaitu mengimpor 2 juta ton beras,” kata Buwas, Kamis (12/10/2023).

Dikatakan, pihaknya terus mengikuti perkembangan produksi petani dan cuaca. Pemerintah tak ingin mengambil risiko apabila stok beras semakin menipis untuk tahun depan.

Kebijakan impor beras ini menjadi ironi bila mengingat janji Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar Indonesia bisa melakukan swasembada beras. Bahkan, janji swasembada sudah diucapkan berulangkali sejak periode pertamanya memimpin Indonesia. Dalam sebulan terakhir, tema kedaulatan pangan dan impor menjadi kontradiktif yang seakan-akan sudah menjadi hal biasa. Mungkin juga karena sebagian besar publik dan elit di negeri ini lebih seru menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi (MK).

MK menjadi sorotan jelang putusan uji materi UU Pemilu terkait syarat usia capres-cawapres yang akan dibacakan pada Senin (16/10/2023). Putusan MK tersebut akan membawa pengaruh pada kontestasi Pilpres 2024 karena akan menentukan peluang pencalonan anak sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka. Kabar angin menyebutkan Gibran belum bisa maju meski telah dipinang Prabowo Subianto, karena umur Gibran masih di bawah 40 tahun sesuai amanat UU Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu. Jika uji materi Nomor 29/PUU-XXI/2023 dikabulkan MK, maka peluang Gibran maju sebagai bakal cawapres tidak lagi berbenturan dengan regulasi.

Pro kontra atas isu tersebut semakin ramai. MK kemudian diplesetkan menjadi Mahkamah Keluarga. Sekalipun saya meyakini, sosok hakim MK seperti Daniel Yusmic P Foekh, Arief Hidayat, dan Saldi Isra serta beberapa yang lainnya masih bisa dipegang integritasnya.

Memang tidak ada korelasi langsung putusan MK dan pangan, tetapi dampak putusan MK akan melahirkan pimpinan pemerintahan yang tentunya akan mengatur kebijakan seputar pangan. Jadi, apapun keputusan MK akan berkontribusi pada kebijakan pangan nasional.

Tepat pada Senin (16/10/2023), seluruh dunia merayakan Hari Pangan Sedunia/HPS (World Food Day). Setiap tahun, pemerintah Indonesia juga merayakan HPS di berbagai tingkatan. Dilansir dari laman Badan Pangan Dunia (FAO), peringatan HPS tahun 2023 ini mengusung tema “Water is life, water is food. Leave no one behind” atau “Air adalah kehidupan, air adalah makanan. Jangan tinggalkan siapa pun”. Setiap tahun tema HPS berubah sesuai dengan konteks dan kebutuhan. Untuk Indonesia, apapun tema HPS, pangan sudah menjadi sesuatu yang kritikal di tengah impor yang terus mengalir. Kedaulatan pangan harus diwujudkan dengan pendekatan dan cara yang solutif. Ini butuh kebijakan dan pemimpin yang berani mengambil keputusan strategis terkait pangan.

Tags: #impor#KonstitusiPangan
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

by Gerardus Taena
13 April 2026
0

Konsep komunio merupakan salah satu pilar teologis yang mendasar dalam diskursus kekristenan, terutama dalam konteks Gereja dan kehidupan religius. Dalam...

Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

by Frumentiana Leto
8 April 2026
0

Pernahkah kita membayangkan seorang bapak yang berangkat sebelum fajar menyingsing, mendayung perahu ke tengah laut, dan pulang siang hari dengan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati