Kupang – Produksi beras di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak bisa memenuhi konsumsi beras bagi 5,57 juta warganya yang mencapai 54,39 ribu ton setiap bulan. Saat ini stok beras yang dimakan warga NTT 70 persennya dipasok dari provinsi lain.
Untuk Januari – Maret 2024 ini saja produksi beras dalam NTT hanya mampu memenuhi 23 persen dari total kebutuhan setiap bulannya itu. Sisanya, 70 persen stok beras dari luar NTT ditambah 7 persen dari stok Bulog.
Jawa Timur (Jatim) menjadi distributor utama beras domestik NTT. Daerah yang terkenal akan Reog dan Ludruk ini bisa memasok 56,38 ribu ton beras pada triwulan pertama 2024 ini. Artinya Jatim punya andil 52 persen dari panga pasar beras domestik di NTT.
Baca juga: Warga Kota Kupang Berdesak-desakan Serbu Beras Murah
Pemasok beras terbesar kedua adalah Sulawesi Selatan yaitu 25.06 ribu ton. Setelahnya ada pemasok dari berbagai provinsi lain yang bila ditotal mencapai 25.89 ribu ton beras.
Selain dalam negeri NTT juga dijatahi beras dari luar negeri atau beras impor. Pemasok terbesar adalah Vietnam yaitu 2,74 ribu ton. Vietnam menjadi pemasok utama diikuti Thailand dengan pasokan beras 3,95 ribu ton.
“NTT mendapat 114.02 ribu ton beras dari luar dan pemasok beras terbesarnya itu Jatim,” kata Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTT, Agus Sistyo Widjajati, pada 2 April 2024 lalu.
Agus dalam jumpa pers saat itu juga menyoroti beras yang menjadi komoditas utama penyumbang inflasi di NTT sejak 2023 hingga 2024 ini. Beras menyebabkan inflasi 0,23 persen secara month to month (mtm).
Baca juga : NTT Alami Mahalnya Beras Usai Panen Naik Drastis
“Beras telah 9 kali jadi penyumbang inflasi di NTT. Di 2023 itu dari Januari sampai April, lalu dari September sampai November. Untuk di 2024 ini terjadi di Februari dan Maret,” jelasnya.
Data Kementan Pertanian juga mengungkapkan produksi padi nasional di Maret 2024 sebesar 6,1 juta ton padi atau gabah kering giling (GKG). Sedangkan potensi produksi khusus NTT pada Maret ini sebesar 31.988 ton GKG dari potensi luas panen 8.797 hektare.
Direktur Serelia Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Mohammad Ismail Wahab, mengungkap ini via YouTube Kemendagri, 26 Februari 2024 lalu. ***




