KatongNTT– Belasan anak-anak tertawa girang sambil berlarian ke arah mobil tim AR Foundation yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga terdampak gempa dahsyat di Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Anak-anak itu sesaat melupakan rasa takut dan sulitnya hidup mereka.
Tim AR Foundation tiba di wilayah pesisir pantai utara di Kabupaten Manggarai Timur setelah menempuh perjalanan laut dan darat selama 30 jam. Perjalanan bantuan kemanusiaan ini dimulai dari kantor Badan Daerah Penanggulangan Bencana NTT di Kota Kupang menuju Pelabuhan Feri ASDP di Bolok, Kabupaten Kupang pada Kamis, 27 Agustus. Perjalanan laut selama 19 jam berakhir di Pelabuhan Aimere di Kabupaten Ngada pada keesokan pagi.
Perjalanan dilanjutkan lewat darat selama 9 jam melewati Ruteng (Manggarai) – Borong (Manggarai Timur) dan berakhir di kawasan pantai utara di Kecamatan Lama Leda Utara.
Baca juga: Belajar Mandiri Pangan dan Merawat Hutan dari Perempuan Ansok
Bantuan kemanusiaan AR Foundation berupa beras, terpal, selimut, makanan dan minuman bayi, pampers anak-anak dan lansia, obat, sabun mandi, dan air minum kemasan. Bantuan terutama ditujukan kepada perempuan, balita dan anak-anak, warga lanjut usia, ibu hamil, dan penyandang difabel. Mereka ini dinilai paling rentan saat terjadi bencana.
Tim AR Foundation berkordinasi dengan pihak Kecamatan, kepala desa, dan aparat keamanan dalam mendistribusikan bantuan ke Desa Satar Kampas, Desa Satar Padut, dan Desa Satar Punda Barat di mana ketiga desa ini termasuk mengalami kerusakan terparah akibat terjangan gempa berkekuatan M7,7 di Pulau Flores pada 15 Agustus 2026.
Gempa dahsyat juga telah menewaskan 13 warga di tiga desa ini, 9 di antaranya merupakan warga Desa Satar Kampas, menyusul 3 korban meninggal dari Desa Satar Padut, dan satu meninggal dari Desa Satar Punda Barat.
Gempa besar dengan lebih dari 9 ribu gempa susulan juga telah menghancurkan ratusan bangunan termasuk rumah, sekolah, puskesmas, kantor desa, rumah ibadah, dan pasar tempat warga berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Selama dua hari listrik padam dan pompa air warga tidak berfungsi karena mesin rusak dan mata air yang tidak lagi mengeluarkan air.
Dominika Narin, 46 tahun, menangis menatap rumahnya yang hancur total. Mesin jahit dan mesin obras yang menjadi sumber mata pencariannya juga hancur diterjang batu dan kayu rangka bangunan rumahnya.
“Saya tidak punya rumah lagi, dan saya tidak bisa lagi mencari uang karena mesin jahit dan mesin obras saya hancur,” ujar Dominika dengan air mata bercucuran.

Dominika menuturkan, saat gempa dia dan suaminya berhasil menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan rumah mereka.
Baca juga: #PerempuanRawatBumi: Menjaga Pangan Lokal di Kaki Gunung Lewotobi
Saat ini mereka tinggal di tenda pengungsian yang didirikan BNPB di halaman SD Wai Ciu di Desa Satar Padut. Gempa menghancurkan semua bangunan gedung sekolah ini dan menyisakan halaman yang luas untuk digunakan sebagai lokasi pengungsian warga. Sedikitnya 20 tenda didirikan BNPB dan dapur umum oleh Kementerian Sosial. Aparat TNI bertugas memasak makanan bagi warga yang mengungsi.
Menghibur anak-anak korban Gempa
Pemilik dan pendiri AR Foundation yang berkantor di Jakarta, Julia Purmawati berusaha menghibur anak-anak di tiga desa ini dengan bernyanyi dan mengajak bercerita tentang pengalaman mereka tinggal di pengungsian. Julia kemudian membagikan hadiah kepada setiap anak sambil sekali bercanda.
“Hidup anak-anak ini sangat berat. Semoga mereka terhibur dan kehadiran kami bisa sedikit membantu mereka,” ujar Julia.
Julia menuturkan dia sangat prihatin dengan situasi yang dihadapi anak-anak dan warga rentan lainnya di daerah bencana. Sehingga dia memutuskan datang ke lokasi bencana sekaligus untuk memastikan bantuan itu diterima oleh warga yang membutuhkannya.
Julia juga menyerahkan santunan kepada keluarga 13 korban gempa yang meninggal.
“Santunan tidak seberapa ini sebagai wujud solidaritas dan kepedulian kami,” kata Julia saat memberikan santunan.
Baca juga: Tubuh Anak NTT dalam Pusaran Kuasa
Dalam pantauan KatongNTT, hingga memasuki pekan kedua sejak gempa pertama menerjang Pulau Flores, warga bahu membahu menyingkirkan puing-puing bangunan rumah mereka. Sebagian besar bangunan yang terbuat dari papan atau kayu tidak mengalami kerusakan parah.
Selain itu, proses belajar mengajar diliburkan karena bangunan sekolah-sekolah yang rusak parah.
Tenda-tenda mandiri yang didirikan warga masih berdiri di halaman rumah mereka. Gempa susulan yang setiap hari terjadi membuat mereka takut masuk ke dalam rumah.
“Kami belum berani masuk ke dalam rumah. Setiap hari ada gempa susulan. Tidak tahu entah kapan gempa berhenti,” ujar Sofia Harjon yang memutuskan tinggal di tenda pengungsian bersama bayinya usia 9 bulan dan anggota keluarga lainnya.

Dia bersama anak, bayinya serta suaminya selamat dari reruntuhan bangunan rumah saat gempa dahsyat itu dengan berlindung di dapur yang dibangun dengan papan kayu.
“Kami selamat karena berlindung di dapur yang terbuat dari papan kayu. Setelah gempa kami keluar dari rumah dan mengungsi di sini,” kata Sofia, berprofesi sebagai guru.
Baca juga: Tiga Perempuan NTT Ubah Perspektif Maskulinitas dalam Cegah Bencana
Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Desa di Kecamatan Lamba Leda Utara, Sales Hasman menjelaskan, dari 11 desa di Kecamatan Lamba Leda Utara, sebanyak 5 desa mengalami dampak terparah akibat gempa, yakni Desa Satar Kampas, Satar Padut, Satar Punda, Desa Liang Deruk, dan Desa Haju Wangi.
“Warga Desa Satar Kampas terbanyak yang meninggal akibat gempa, ada 9 orang meninggal,” kata Sales.
Kecamatan Lamba Leda Utara berada di wilayah pesisir pantai utara Kabupaten Manggarai Timur. Kawasan pantura ini berdekatan dengan pusat gempa di Mbay, Nagekeo pada 15 Agustus lalu. Saat gempa susulan pada Kamis, 20 Agustus dengan kekuatan M 6,5, kawasan pantura terkena dampak yang lebih buruk dibanding gempa pertama karena pusat gempa di wilayah itu.
“Pusat gempa pada Kamis lalu dekat pantura, sehingga desa-desa di kawasan pantura terkena dampak lebih buruk dari gempa pertama yang pusatnya di Nagekeo,” ujar Sales.
Setelah itu, setiap hari gempa susulan terjadi. Masyarakat kini terbiasa hidup dengan gempa. Hidup warga pun bertambah berat karena mereka tidak dapat bekerja secara normal kembali di mana sebagian besar mereka bekerja sebagai nelayan dan petani.
Saat ini mereka bergantung pada bantuan kemanusiaan dari berbagai pihak dan bantuan pemerintah daerah maupun pusat. Sementara tak satupun dapat memperkirakan kapan gempa akan berakhir. *****




