Desa Hewa – Debu vulkanik masih menyelimuti atap rumah dan pepohonan setelah erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di awal 2025. Jalan rusak parah, berlubang dan berbatu. Namun, di tengah lanskap yang berubah, semangat para perempuan petani di Desa Hewa tetap menyala. Mereka menolak menyerah pada krisis dan memilih menanam harapan — lewat pangan lokal.
Di bawah kepemimpinan Maria Mone Soge atau akrab disapa Sindy, Komunitas Wetan Helero menjadi pusat gerakan pelestarian pangan tradisional. Dari pondok sederhana beratap alang-alang, hasil panen seperti jewawut, sorgum, ubi jalar, kacang tanah, dan gandum tersusun rapi di wadah anyaman daun lontar. Semuanya tumbuh di lahan yang terbatas, sering tertutup debu vulkanik, tetapi tetap subur karena ketekunan pengelolanya.
Baca juga: #PerempuanRawatBumi: Minim Dukungan, Perempuan NTT Bangkitkan Kembali Pangan Lokal
“Pangan lokal itu bagian dari hidup kami, agar tidak bergantung pada bantuan beras,” kata Karolina (36), anggota komunitas saat ditemui KatongNTT di ladangnya pada 18 Juli 2025.
Sindy kemudian bercerita tentang kondisi desa mereka yang sering terabaikan dalam pembangunan. Di tengah keterbatasan itu, ia bersama warga tetap berjuang membudidayakan pangan lokal.
Di balik kesederhanaan pondok dan kegersangan lahan yang ditingkahi debu vulkanik, tersimpan cerita perjuangan warga Desa Hewa dalam menjaga kekayaan pangan lokal, meski minim dukungan dari pemerintah desa.
Pemerintah kabupaten Flores Timur, kata Sindy, sering mengundang Komunitas Wetan Helero untuk mengikuti festival pangan lokal. Namun, belum ada bantuan nyata untuk alat, modal, atau akses pasar untuk komunitas perempuan petani ini.
Program satu desa satu produk pangan lokal yang pernah ia dengar juga belum menyentuh komunitasnya secara nyata.
“Saya harap pemerintah desa dan kabupaten bisa cepat respons,” kata Sindy.

Karolina menuturkan dia mencintai pangan lokal bukan sekadar pilihan, melainkan warisan hidup yang ditanam sejak kecil.
“Sejak kecil kami sudah makan pangan lokal dari kebun sendiri,” kenang Karolina.
Setelah menikah, Karolina mulai membuka lahan sendiri. Namun perjuangan tak mudah. Tahun pertama bertani, ia harus menghadapi kenyataan pahit: gagal panen akibat kemarau panjang yang melanda Desa Hewa.
“Saat itu kami semua di desa Hewa gagal panen,” ujarnya.
Karolina tak menyerah. Bertani adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa diandalkan oleh masyarakat di desa itu.
“Tahun berikutnya, kami kembali menanam saat musim tiba,” ujarnya.
Ibu dua anak ini bergabung dengan Komunitas Wetan Helero pada 2024. Ia . tertarik dengan semangat yang dibawa oleh pendirinya, Sindy.
Baca juga: Keracunan Massal di SMPN 8 Kota Kupang: Sayur Basi, Rendang Berjamur
Bergabung dengan komunitas, Karolina mendapatkan pelatihan mengolah pangan lokal seperti ubi dan jewawut menjadi produk bernilai jual. Hasil olahan mereka kini bahkan dipasarkan ke luar desa, hingga ke Larantuka (Flores Timur) dan daerah lainnya.
Pangan lokal bukan sekadar isi piring. Ia adalah identitas, bentuk kemandirian, dan jalan keberlanjutan hidup. Di tengah musim yang tak menentu, tanaman pangan lokal membuat mereka tetap bisa hidup. Mereka juga meneruskan kebiasaan makan pangan lokal kepada anak-anaknya.
“Anak-anak awalnya protes saat saya masak makanan dari bahan lokal. Tapi lama-lama mereka suka, apalagi setelah saya belajar membuat olahan yang lebih bervariasi dari pelatihan komunitas,” ujar Karolina tertawa.

Meski terbentur keterbatasan akses, perhatian minim dari pemerintah, dan tekanan arus makanan kemasan, para mama di Desa Hewa—terutama yang tergabung dalam Komunitas Wetan Helero—tetap setia pada tanah dan tradisi mereka.
“Kalau kami tidak mengelolanya, siapa lagi?” ujar Karolina sambil menatap hasil panen yang telah ia rawat.
Baca juga: Kesaksian Generasi Cemas di NTT: Upah Murah, Jam Kerja Panjang, Sarjana Susah Cari Kerja
Buka jalan bagi orang muda
Sejatinya, komunitas Wetan Helero bukan hanya tentang produksi tanaman pangan, tapi juga regenerasi. Karmelia Puka, remaja asal Desa Hokeng yang kini tinggal di pengungsian akibat erupsi Lewotobi Laki-Laki tahun lalu, menemukan harapan baru lewat komunitas ini.
Karmelia Puka menuturkan, dia diajak Sindy bergabung dengan komunitas pegiat pangan lokal Wetan Helero, pada 2023. Dia menyambut ajakan Sindy.
“Saya langsung mau bergabung, karena sangat tertarik dengan pangan lokal. Saya juga ingin belajar tentang cara pengolahannya,” ungkapnya.
Karmelia mendapatkan berbagai pengetahuan dan pengalaman baru dengan bergabung di komunitas Wetan Helero. Menurut Karmelia, banyak orang muda di Flores Timur yang mulai melupakan pangan lokal dan beralih ke makanan cepat saji atau olahan.
“Saya senang, karena lewat Wetan Helero saya bisa belajar hal-hal baru soal pangan lokal yang sebelumnya tidak saya ketahui,” ujarnya.

Karmelia bukan satu-satunya yang mulai kembali mengenal akar budaya. Komunitas Wetan Helero membuka jalan bagi generasi muda untuk memahami nilai pangan lokal—bukan hanya dari sisi konsumsi, tapi juga sebagai alat kedaulatan dan ketahanan di tengah krisis.
Inisiatif ini bisa menjadi model bagi daerah lain: bahwa ketahanan pangan tidak harus datang dari luar, tapi bisa tumbuh dari bawah—dari para perempuan yang menjaga ladang dan warisan budaya.
Pemerintah setempat dan pihak swasta dapat mengambil peran sebagai mitra aktif—bukan hanya penonton. Misalnya dengan memberikan pelatihan pascapanen, membuka akses pasar, atau mendukung melalui program CSR dapat memperkuat komunitas seperti Wetan Helero. *****
Artikel ini merupakan bagian dari serial liputan kolaborasi #PerempuanRawatBumi bersama media anggota Women News Network (WNN), didukung oleh International Media Support (IMS). Informasi soal WNN bisa diakses di https://womennewsnetwork.id




