• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Kamis, April 16, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Bisnis

Produsen Tempe Milenial di Manggarai-NTT Kesulitan Modal

Tim Redaksi by Tim Redaksi
5 tahun ago
in Bisnis
Reading Time: 2 mins read
A A
0
0
SHARES
46
VIEWS

Setelah kenaikan harga kedelai impor, produsen tempe milenial di wilayah Cancar, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kesulitan untuk mengembangkan usahanya.

Pasokan kedelai lokal yang terbatas dan minimnya modal usaha juga menjadi kendala usaha tempe yang dirintis alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

BacaJuga

Produk olahan hasil laut NTT oleh UMKM CV Elitism di Kupang Exotic Festival 2025 di halaman kantor Gubernur NTT, 26 Juni 2025. (Rita Hasugian/KatongNTT)

UMKM NTT Mulai Olah Hasil Laut Jadi Produk Unggulan

29 Juni 2025
Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

12 September 2024

Demikian disampaikan Yohanes Mbot, salah satu produsen tempe milenial di Cancar yang sudah beroperasi sejak 3 tahun lalu. Dia memilih membangun usaha tersebut dan harus meninggalkan pekerjaannya di Ubud, Bali.

Namun, usahanya berhenti sementara sejak 4 bulan lalu karena kesulitan pasokan kedelai dan modal pengembangan usaha.

“Harga kedelai impor masih cukup tinggi, kami beli sekitar Rp 12.000 per kilogram (kg). Pernah naik hingga Rp 16.000 per kg,” jelas Yohanes yang biasa disapa Jo.

“Kedelai lokal lebih murah tapi pasokannya terbatas,” kata Jo.

Dia menjelaskan, persoalan lainnya adalah modal pengembangan usaha yang masih minim. Padahal, sudah dua bulan dia mengajukan pinjaman ke salah satu bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tetapi belum ada tanggapan.

“Setiap saya tanyakan, dijawab mohon tunggu kabar saja. Saya mengajukan dana untuk pengembangan usaha dan penambahan karyawan,” kata mantan Ketua PMKRI Cabang Bogor-Jawa Barat ini.

Jo menjelaskan, dia harus segera menjalankan usahanya agar dua karyawannya bisa bekerja lagi. Sekalipun tergolong dalam usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), Jo bangga bisa memberdayakan warga lokal sebagai tenaga kerja.

Dalam kondisi normal, usahanya membutuhkan 50 kg kedelai per hari. Jika ada penambahan modal, dia berharap bisa mengolah kedelai hingga 150 kg per hari.

“Kedelai impor bisa diolah tempe dan tahu, kalau kedelai lokal hanya untuk tempe saja. Itupun masih sulit diperoleh,” jelasnya, belum lama ini.

Selain mengembangkan usaha tempe, Jo juga sedang mengajak sejumlah anak-anak muda di wilayah Cancar agar gemar bertani.

Saat ini sudah ada lahan yang dipinjamkan sebagai demplot dari seorang alumni IPB juga.

“Cuma saya masih benahi dulu usaha saya kembali normal, lalu mengajak anak-anak muda mengisi kegiatan dengan bertani. Kebutuhan produk pangan masih sangat besar, apalagi di tengah pandemi,” jelasnya.

Seperti diketahui, tempe dan tahu semakin diminati masyarakat lokal dan perlahan-lahan dianggap identik dengan kesejahteraan.

Pengembangan usaha tersebut didahului dengan survei terbatas di wilayah Manggarai dan sekitarnya. Apalagi, dengan bekal ilmu yang diperolehnya selama kuliah, proses fermentasi pada tempe juga bisa menggunakan sejumlah komoditas lokal lainnya.

Sejumlah rancangan program pemberdayaan sudah disiapkan jika usahanya sudah beroperasi dengan baik. [AF-02] agrifood.id@gmail.com

Tags: #Kabupatenmanggarai#Modalusaha#Produsentempemilenial#tempe
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Produk olahan hasil laut NTT oleh UMKM CV Elitism di Kupang Exotic Festival 2025 di halaman kantor Gubernur NTT, 26 Juni 2025. (Rita Hasugian/KatongNTT)

UMKM NTT Mulai Olah Hasil Laut Jadi Produk Unggulan

by Rita Hasugian
29 Juni 2025
0

Di tengah laut biru dan pantai berpanorama indah, potensi ekonomi dari hasil laut di Nusa Tenggara Timur masih tersembunyi di...

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

by Rita Hasugian
12 September 2024
0

Boleh jadi kita tidak pernah terlintas cari tahu tentang jenis jagung yang kita konsumsi, apakah berasal dari bibit jagung lokal...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati