Produsen Tempe Milenial di Manggarai-NTT Kesulitan Modal

Setelah kenaikan harga kedelai impor, produsen tempe milenial di wilayah Cancar, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kesulitan untuk mengembangkan usahanya.

Pasokan kedelai lokal yang terbatas dan minimnya modal usaha juga menjadi kendala usaha tempe yang dirintis alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Demikian disampaikan Yohanes Mbot, salah satu produsen tempe milenial di Cancar yang sudah beroperasi sejak 3 tahun lalu. Dia memilih membangun usaha tersebut dan harus meninggalkan pekerjaannya di Ubud, Bali.

Namun, usahanya berhenti sementara sejak 4 bulan lalu karena kesulitan pasokan kedelai dan modal pengembangan usaha.

“Harga kedelai impor masih cukup tinggi, kami beli sekitar Rp 12.000 per kilogram (kg). Pernah naik hingga Rp 16.000 per kg,” jelas Yohanes yang biasa disapa Jo.

“Kedelai lokal lebih murah tapi pasokannya terbatas,” kata Jo.

Dia menjelaskan, persoalan lainnya adalah modal pengembangan usaha yang masih minim. Padahal, sudah dua bulan dia mengajukan pinjaman ke salah satu bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tetapi belum ada tanggapan.

“Setiap saya tanyakan, dijawab mohon tunggu kabar saja. Saya mengajukan dana untuk pengembangan usaha dan penambahan karyawan,” kata mantan Ketua PMKRI Cabang Bogor-Jawa Barat ini.

Jo menjelaskan, dia harus segera menjalankan usahanya agar dua karyawannya bisa bekerja lagi. Sekalipun tergolong dalam usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), Jo bangga bisa memberdayakan warga lokal sebagai tenaga kerja.

Dalam kondisi normal, usahanya membutuhkan 50 kg kedelai per hari. Jika ada penambahan modal, dia berharap bisa mengolah kedelai hingga 150 kg per hari.

“Kedelai impor bisa diolah tempe dan tahu, kalau kedelai lokal hanya untuk tempe saja. Itupun masih sulit diperoleh,” jelasnya, belum lama ini.

Selain mengembangkan usaha tempe, Jo juga sedang mengajak sejumlah anak-anak muda di wilayah Cancar agar gemar bertani.

Saat ini sudah ada lahan yang dipinjamkan sebagai demplot dari seorang alumni IPB juga.

“Cuma saya masih benahi dulu usaha saya kembali normal, lalu mengajak anak-anak muda mengisi kegiatan dengan bertani. Kebutuhan produk pangan masih sangat besar, apalagi di tengah pandemi,” jelasnya.

Seperti diketahui, tempe dan tahu semakin diminati masyarakat lokal dan perlahan-lahan dianggap identik dengan kesejahteraan.

Pengembangan usaha tersebut didahului dengan survei terbatas di wilayah Manggarai dan sekitarnya. Apalagi, dengan bekal ilmu yang diperolehnya selama kuliah, proses fermentasi pada tempe juga bisa menggunakan sejumlah komoditas lokal lainnya.

Sejumlah rancangan program pemberdayaan sudah disiapkan jika usahanya sudah beroperasi dengan baik. [AF-02] agrifood.id@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *