• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Jumat, April 17, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Opini

Mendobrak Cara Pandang dalam Beragama

Tim Redaksi by Tim Redaksi
5 tahun ago
in Opini
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ilustrasi-Toleransi-Beragama-Qureta

Ilustrasi-Toleransi-Beragama-Qureta

0
SHARES
199
VIEWS

Oleh: Semi Ndolu
(Kepala Sekolah SMKN 4 Kota Kupang dan Mahasiswa Pascasarjana IAKN Kupang, NTT)

Pidato Cinta Laura yg viral dalam momentum acara Aksi Moderasi Beragama beberapa hari lalu membawa pesan kritis konstruktif. Menurut saya pidato Cinta Laura cukup mendobrak cara pandang umat beragama dalam beragama.

BacaJuga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

13 April 2026
Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

8 April 2026

Cara pandang kaum tertentu yang merasa mampu menguasai TUHAN lalu terjebak dalam cara berpikir memanusiakan TUHAN. Sehingga mendikte TUHAN untuk mengikuti kemauannya dan bertindak atas nama TUHAN.

Disinilah titik problematis bangsa ini menurut Cinta Laura yang diundang berpidato pada 23 September 2021 mewakili generasi Milenial. Manusia yang finite (terbatas) menggunakan otaknya utk memahami Tuhan dalam eksistensi-Nya yang infinite (tidak terbatas). Mungkinkah ? – Rene Descartes (1596 -1650).

Pada sisi lain “Trilemma Epicurus” menjadi senjata andalan kaum atheis dalam berbagai diskursus mempertanyakan Kemahaan dan keberadaan TUHAN. Diskursus yang bertujuan menciptakan ambiguitas orang beragama.

Dari uraian di atas, menurut saya ada semacam problem religius – filosofis yang sulit dipertemukan namun tidak perlu dipertentangkan. Ini karena memang hakikat dan konteksnya berbeda.

Tapi bisa menjadi bahan komparasi reflektif terkait cara hidup kaum beragama yang percaya adanya TUHAN dengan kaum atheis yang tidak percaya adanya TUHAN.

Perlu pemaknaan hidup beragama yang tidak terpisahkan dari esensi nilai-nilai budaya dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Pemaknaan ini dalam konteks pluralitas berbangsa dan bernegara melalui sikap toleransi antar umat beragama.

Hal ini penting untuk memberi pesan pembeda pada cara dan pandangan hidup orang beragama yang percaya adanya TUHAN dengan kaum atheis.

Sekalipun kita tidak bisa memaksa kaum atheis untuk berteologi. Tetapi setidaknya mereka bisa melihat TUHAN dalam diri orang beragama yang inklusif dan moderat.

Ini sekaligus membawa mereka pada suatu refleksi logis bahwa “Jika segala yang tiada dalam realita materialis tidak dapat dipastikan ketiadaannya, lalu bagaimana mungkin yang tiada itu dapat dikatakan tidak ada?”.

Demikian halnya dengan eksistensi TUHAN.

Rasanya tidak ada kebenaran absolut pada pandangan manusia tentang Tuhan. Kecuali Tuhan sendiri yang menyatakannya bagi manusia.

Itupun TUHAN menyatakan diri-Nya secara terbatas pada manusia yang terbatas. Sehingga tentunya manusia hanya dapat memahami TUHAN yang tidak terbatas dalam keberadaannya yang terbatas.

Dengan demikian, TUHAN dalam segala eksistensi-Nya tidak dapat dipahami apalagi dikuasai oleh manusia dalam realitasnya yang terbatas. Kecuali kalau TUHAN berkenan.

Karena itu, mari menenun pluralitas bangsa kita dalam lembaran kesatuan dan persatuan yang kokoh. Dan kita secara berkesinambungan meningkatkan moderasi beragama yang toleran dan berkarakter Pancasila.

Tags: #Agama#Atheis#CintaLaura#Pancasila#ToleransiBeragama
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

by Gerardus Taena
13 April 2026
0

Konsep komunio merupakan salah satu pilar teologis yang mendasar dalam diskursus kekristenan, terutama dalam konteks Gereja dan kehidupan religius. Dalam...

Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

by Frumentiana Leto
8 April 2026
0

Pernahkah kita membayangkan seorang bapak yang berangkat sebelum fajar menyingsing, mendayung perahu ke tengah laut, dan pulang siang hari dengan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati