Belajarlah Mengungkap Kasus Dari Dua Film Investigasi

Film All The President Men dan Spotlight menurut hemat saya pantas dicermati dengan teliti. Bukan lantaran kasusnya, tetapi cara melakukan investigasi kedua kasus itu.

Adegan-di-Film-All-The-Presiden-Men

Adegan-di-Film-All-The-Presiden-Men

Oleh: Eddy J Soetopo
(Jurnalis senior, Sastrawan, Penulis Buku, Dewan Redaksi KatongNTT.com)

Setidaknya dua film ini memberi pelajaran bagaimana cara terbaik membongkar kasus dari perspektif lewat amatan kacamata jurnalis.

Film pertama barangkali perlu ditonton dan menjadi contoh wartawan dalam melakukan investigasi yakni ‘All The President Men’ (1976), yang melambungkan nama wartawan beneran, Bob Woodward dan Carl Berstein.

Baru kemudian, film sejenis yang berkisah tentang kerja jurnalis dalam melakukan investigasi yakni ‘Spotlight’ (2016).

Kedua film tersebut setelah tayang di gedung bioskop, tampaknya memiliki gaung kuat hingga menggoyahkan institutsi kredibel dalam sistem pemerintahan negara adidaya Amerika Serikat. Richard Nixon, presiden saat itu. Nixon terpaksa mundur akibat gempuran gaung film All the Presiden Men.

Sedangkan pemutaran film ‘Spotlight’ yang mendapat penghargaan pada festival film Canes, dan ditonton jutaan orang memiliki efek domino yang menggoyahkan tatanan sakralitas gerejani.

Konsekwensi tak kalah mencengangkan, pastur kepala dalam jajaran pemerintahan di Vatikan diberhentikan tidak lagi menjadi memimpin misa liturgi gereja.

Kedua film tersebut menurut hemat saya pantas dicermati dengan teliti. Bukan lantaran kasusnya, tetapi cara melakukan investigasi kedua kasus itu.

Bila dalam kasus di film ‘The All President Men’ meski umpan awal untuk melakukan investigasi lebih awal, datang dari tangan tersembunyi Feedthrough yang memberi data-data kasus yang melibatkan Richard Nixon.

Sedangkan pada film ‘Spotlight’ data awal dia peroleh dari desas-desus pelecehan seksual pada anak-anak gerejani yang dilakukan pastur, dan kemudian didalami tim spothlight.

Bagi saya, film yang menceritakan kasus pelecehan seksual anak dalam institusi gereja sungguh dahsyat efeknya.

Bukan hanya memporandakan keagungan lembaga gerejani yang dianggap sangat sakral, tetapi juga menghancurkan masa depan korban pelecehan.

Ironisnya bukan hanya beberapa orang yang menjadi korban, tetapi juga terjadi di beberapa gereja di belahan negara lain, selain di Boston Amerika Serikat.

Karya film investigasi bergenre kisah nyata itu memang pantas diacungi jempol kinerja kru dan bintang film utama seperti Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams, Live Schreiber dan Stanley Tucci.

Peran para aktor yang bertindak seolah-olah jurnalis berpengalaman Boston Globe berhasil menerobos barikade rintangan yang tak mudah dilalui. Ketika mereka harus mewawancarai narasumber di pengadilan, pengacara, dan korban satu per satu dan menjanggong di kantor, bukan pekerjaan sembarangan.

Apalagi mewawancarai orang nomor satu dalam hirarki pasturan yang dituduh sebagian pengembala umat dan melakukan pelecehan seksual.

Adegan film Spotlight mengungkap kejahatan seksual di gereja.

Sungguh sangat menohok nurani. Tidak hanya para penonton film, berhaluan sama kepercayaan yang dianutnya, tetapi juga merasakan pahitnya tuduhan yang dilontarkan anak-anak di gereja sebagai korban.

Memang melakukan kerja investigasi dalam jagad jurnalisme bukan suatu hal yang dapat dilakukan sambil lalu.

Selain memakan waktu lama, juga prasarana dan sarana penunjang dana buat wira-wiri tidak mudah disetujui pemilik modal dalam corporate bila tidak mendatangkan keuntungan.

Tidak hanya itu, jurnalis yang ditugaskan melakukan investigasi pun bukan sembarangan wartawan hingga ditunjuk untuk melakukan pekerjaan beresiko tinggi.

Dapat dibaratkan, kaki kiri melangkah bila keliru berada di pinggir lobang kuburan dirinya, kaki kanan tergeletak bersimbah darah tewas lantaran melakukan investigasi.

Rasanya jurnalis muda perlu menyimak dan berusaha menjadi wartawan investigasi prima.

Kalau memang perusahaan Anda berani dan berkeinginan melakukan investigasi kasus, belajarlah cara menerobos narasumber, mengumpulkan data, mencari fakta dari dua film lawas itu. Sehingga kasus-kasus besar, bila memang perlu diungkapkan, just do it.

Mumpung pemrakarsa sekaligus pemilik media berpihak pada rakyat dan ingin melakukan sesuatu yang baru pertama dilakukan di NTT, lakukanlah.

Siapa tahu kasus yang sengaja ditutup-tutupi tahunan terungkap hingga menjadi pelajaran berharga dan berguna bagi rakyat agar tindakan tercela tidak terjadi kembali.

Bila hal itu dilakukan, rasanya apresiasi warga masyarakat terhadap media KatongNTT.com menjadi contoh media lain di luar Nusa Tenggara Timur.

Menjadi wartawan bukan hanya sekedar mencari berita dan menulis seketika itu. Wartawan harus memiliki sifat rendah hati, cerdik, peka terhadap simbol-simbol dan gestur orang di sekeliling agar Anda layak menjadi jurnalis investigasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *