Cerita “Petarung” Gigih di Tengah Pandemi Covid-19 di Kota Kupang

Penjual pentolan keliling, Marjuki sedang menunggu pembeli di Taman Tagape, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Jumat, 13 Agustus 2021. (Fa-KatongNTT)

Penjual pentolan keliling, Marjuki sedang menunggu pembeli di Taman Tagape, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Jumat, 13 Agustus 2021. (Fa-KatongNTT)

Banyak orang menolak menyerah di masa-masa sulit pandemi Covid-19, termasuk Marjuki, yang kini beralih profesi sebagai penjual pentolan keliling, setelah warung makan yang dirintis bersama istrinya tutup.

Marjuki sendirian berjuang di kerasnya Kota Karang, menjaga asap dapurnya yang nun jauh di tanah Jawa agar tetap mengepul di tengah pandemi Covid-19.

Saat ditemui KatongNTT pada Jumat, 13 Agustus 221, pria berusia 50 tahun ini termangu di balik sepeda motor yang telah dimodifikasi untuk menunjang jualannya.

Pada bagian belakang sepeda motornya, ditempatkan dua kotak memanjang. Kotak yang terbuat dari aluminium itu, difungsikan untuk menyimpan pentol bakso.

Sudah lebih dari dua jam, Marjuki mangkal di Taman Tagepe, Kelurahan kelapa Lima, tapi hanya baru tiga pembeli yang menyambanginya.

Di terik panas, dia duduk lesu pada kursi plastik tanpa sandaran yang dibawanya dari rumah kontrakannya.

Sudah setahun belakangan Marjuki menekuni profesi sebagai penjual pentolan. Ia beralih profesi dan terpaksa rela ditinggal pergi istri dan anaknya, yang memilih pulang kampung ke Sragen, Jawah Tengah.

Mereka pulang untuk menekan beban biaya kehidupan di kota Kupang.

Marjuki menolak menyerah dan berakrobat demi menyelamatkan periuk nasi keluarga sekaligus bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana.

“Mau bagaimana lagi. Kondisi saat ini sangat susah. Boro-boro menabung, untuk bertahan hidup pun susah,” katanya.

Marjuki memiliki tiga anak, dua di antaranya sudah bekerja dan satunya masih duduk di bangku SMP. Di usia senjanya, dia harus meneruskan perjuangan agar anak bungsunya itu bisa menempuh pendidikan. Ia berharap anaknya bisa sampai sarjana.

Marjuki yang merantau ke Kota Karang pada tahun 2000 telah menggelontorkan modal tambahan saat membuka warung makan. Namun terus-terusan merugi.

Marjuk kerap mendapat sindiran dari teman-temannya karena beralih profesi jadi penjual pentolan bakso keliling. Ia dinilai turun kelas.

“Namun saya tidak gengsi Mas, namanya juga orang cari makan, kalau halal, ya terus dijalani saja, buat apa malu,” katanya.

Marjuki mengontrak rumah di Perumnas di Kelurahan Nafoanek. Pagi-pagi sekali, ia sudah keluar dan pulang malam hari.

Penghasilannya pun tidak menentu, kadang hanya Rp 100.000 -150.000 sehari. Uang itu, sebagiannya digunakan untuk kebutuhan hidupnya, dan sebagian lagi dikirim ke istrinya.

Namun pada Jumat kemarin, sejak pagi hingga siang, Marjuki baru mendapat penghasilan sekitar Rp 60.000. Uang itu sudah habis Rp 20.000 untuk beli rokok.

“Sudah jam begini, namun pemasukan baru Rp 40.000, bagaimana mau kirim ke kampung. Tapi beruntung, jualan ini aku punya sendiri, sehingga tidak ada setoran lagi,” katanya kepada KatongNTT.

Meski selalu waspada dengan pandemi Covid-19, Marjuki mengaku lebih takut dering ponsel panggilan dari istrinya. Dering ponsel itu, disebutnya lebih mengerikan daripada serangan Covid-19.

“Kalau lihat istri memanggil di layar ponsel, saya tidak angkat, meski hati saya menangis,” ujarnya lirih.

“Saya belum punya uang. Kalau diangkat pun, pasti diminta kirimin uang, tapi di tengah suasana begini, mau buat bagaimana lagi, penghasilan jadi tidak menentu.”.

Marjuki mengaku selalu mengikuti anjuran pemerintah dengan menerapkan protokol kesehatan. Ia juga berharap masyarakat patuh terhadap anjuran pemerintah supaya pandemi Covid-19 segera berakhir. Penjual pentolan ini berharap perekonomian bisa tumbuh kembali.

Berbeda dengan Marjuki, penjual bunga di Kelurahan Fatululi, Mba Wijaya, sapaannya, justru meraup keutungan di tengah pendemi Covid-19.

Masyarakat yang disarankan tetap berada di rumah, menjadi pemicu naiknya permintaan terhadap penjualan bunga.

“Kalau dibandingkan dengan hari-hari yang lain, lebih laku di tengah Covid-19, mungkin karena masyarakat jenuh di rumah saja, sehingga butuh refreshing atau mengusir rasa boring (bosan) dengan menanam bunga-bunga di rumah,” kata Wijaya kepada KatongNTT.

Penjual bunga, Wijaya, Jumat, 13 Agustus 2021 menjajakan bunganya yang laris di masa pandemi Covid-19 menerpa Kota Kupang, NTT. (Fa-KatongNTT.com)

Wijaya membuka usaha berjualan bunga di Kota Kupang itu, bukanlah perkara mudah. Pasalnya, sebagian besar masyarakat tidak terlalu tertarik dengan hal ini, namun ia memilih bertahan dan tetap fokus menjalankan usahanya.

Wijaya memperkirakan dari semua penduduk di Kota Kupang, segelintirnya pasti pencinta bunga. Perkiraannya ini kemudian terbukti.

“Merawat bunga itu butuh kesabaran dan ketelitian, karena semua orang belum tentu merawat bunga-bunga. Intinya terus berkreasi di tengah situasi apapun,” ujar Wijaya. (Fa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *