Oleh Ell Bani, Pengajar di Seminari Lalian, Atambua.
Dunia sepi dan diliputi ketakutan. Orang-orang memilih berjalan di jalan keheningan lantaran tragedi dunia, krisis global mencabik dada pertiwi beserta segenap penghuninya. Segala tindakan tanpa embel-embel diambil untuk situasi krisis. Penanganan cepat dan akurat penuh keyakinan untuk jangka waktu yang panjang ditetapkan dalam tempo yang singkat. Dilema datang silih berganti. Kehidupan harus tetap berlanjut.
Segala daya upaya diusahakan dan pada akhirnya segenap masyarakat disodori selembar kertas bertuliskan “new normal life”, yang kemudian diterjemahkan menjadi “adaptasi kehidupan baru”. Intinya adalah bahwa kita berusaha bersahabat dengan pandemi. Berusaha menjadi teman seperjalanan virus. Berusaha menjadi sahabat karib Corona dengan mematuhi protokol Kesehatan.
Kubler-Ross dan Lima Tahapan Kedukaan
Kubler-Ross lahir di Zurich, Swiss, pada tanggal 8 Juli 1926. Pada tahun 1957, ia lulus dari sekolah kedokteran di Universitas Zurich. Dan pada tahun 1958, ia pindah ke New York untuk melanjutkan studinya. Ketika Kubler memulai prakteknya, ia berjumpa dengan banyak realitas yang membuatnya tercengang. Pengalaman menyaksikan perlakuan tidak wajar dari pihak rumah sakit terhadap pasien yang sekarat, menggerakkan hati kecilnya untuk memberikan kuliah kepada mahasiswanya.
Ia membahas khusus pasien-pasien tanpa harapan untuk hidup. Pada akhirnya, bersama para mahasiswanya terjun lagi ke dunia praktek demi melayani orang-orang yang sedang sekarat. Dari pengalaman ini, Kubler, akhirnya menulis buku On Death and Dying, pada tahun 1969. Ia menulis begitu banyak buku dengan topik menjelang kematian. Dan di dalam salah satu bukunya, On Death and Dying, ia membahas khusus Lima Tahapan Dukacita.
Lima tahapan ini sebagai pola tahapan yang dilalui kebanyakan orang secara berurutan menuju tragedi kematian. Kelima tahapan dukacita itu, adalah: penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan.
Problematika Pandemi Model Kubler-Ross
Pandemi, menjadi taufan yang mengobrak-abrik kehidupan. Berawal dari Wuhan, ia bagaikan sebuah gelombang yang mengamuk, terhempas ke segala penjuru dunia, dan dilaporkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa ia telah tiba dengan selamat di negeri seribu pulau, tepat pada 2 Maret 2020 di Depok, Jawa Barat. Covid-19, hadir dalam satu peradaban sebagai sebuah konstruksi kebudayaan yang mempengaruhi konstelasi kehidupan manusia.
Covid-19 sedang mengumandangkan klaim-klaim perubahan. Ia hadir dan menimbulkan dilema serta jebakan mematikan. Dan manusia sekedar menjadi “baut” kecil dalam kalkulasi pasar serta ekonomi kapitalistik keji. Rupanya Covid-19 mengerti baik tentang perubahan dunia yang cukup signifikan.
Dalam memahami problematika pandemi yang carut marut ini, Kubler menuntun kita dengan lima tahapan kedukaan. Pertama, Penyangkalan, masyarakat Indonesia,tidak ambil pusing dengan mewabahnya virus Corona pada bulan-bulan terakhir di tahun 2019. Semua elemen merintis jalan ketidakpercayaan, menganggap itu sebagai hal yang biasa-biasa saja. Kita lantas berujar, “mana mungkin Covid sampai ke Indonesia. Itu tidak mungkin terjadi.” Kita merasa baik-baik saja sebab semuanya masih utopia.
Kedua, Marah, berangkat dari 2 Maret dan terus berlanjut, angka penularan kian hari kian meningkat. Kegalakan virus berusaha melabrak keangkuhan dan sikap malas tahu kita. Tradisi mempersalahkan satu sama lain muncul. Saling tuding di antara para pembuat kebijakan, di antara masyarakat terhadap pemegang kekuasaan, di antara segenap warga dan elit politik, tumbuh sumbur bagaikan jamur musim hujan. Masing-masing kelompok membangun kekuatan tandingan untuk dirinya sendiri. Bahkan dalam konstelasi politik internasional, berseliweran teori-teori konspirasi untuk saling menjatuhkan.
Intinya bahwa saling mempersalahkan satu sama lain. Ketiga, tawar-menawar, orang-orang pintar mulai bermunculan di mana-mana di seantero jagat Indonesia. Melihat dan memaknai serta membuat perbandingan peristiwa Covid-19 dengan peristiwa-peristiwa yang lebih dulu hadir dan menjadi referensi dalam pembicaraan tentang kehidupan sosial kini. Banyak cendekiawan memiliki obsesi yang ketat untuk membantu masyarakat tidak shok dan tidak frustrasi. Masyarakat diberi keyakinan bahwa semuanya ada peluang untuk dilakukan pencegahan lalu hilang.
Keempat, Depresi, tatkala tahapan tawar menawar terus dilakukan dan perkembangan penularan Covid juga makin bertambah. Sikap pasrah akhirnya muncul, cara-cara yang disodorkan kepada masyarakat seolah tidak membantu mengurangi penyebaran virus, apakah masyarakat di prank? Masyarakat terlanjur tercebur ke dalam konspirasi-konspirasi yang diciptakan, terlebih khusus, para buruh yang hanya sekedar untuk bertahan hidup dengan kerja di ladang kering, sawah, ojek, supir, mengalami kesulitan yang luar biasa.
Kelima, Penerimaan, pada akhirnya krisis global yang ada dan terjadi, mau tidak mau harus diterima dengan lapang dada dan mungkin entah dengan wajah cemberut, kening mengkerut dan dada dag dig dug tak karuan. Perlawanan abadi terhadap virus seolah sirna begitu saja. Adagium keseragaman “new normal life”, dikumandangkan dan ditancapkan serius di mana-mana melalui berbagai media. Hidup baru, bersahabat dengan virus Corona dan berjalan berdampingan adalah sebuah bentuk penerimaan atas wabah global ini.
Apakah “new normal life” bisa menuntaskan segala kecemasan manusia yang lahir tatkala berhadapan dengan pandemi Covid-19? Pertanyaan ini membentur dinding keheningan paling agung yang sedang dilema, yaitu kemanusiaan. Kultur kapitalistik sedang menampar manusia. Kemanusiaan sedang terikat dalam standar-standar modal yang kejam dan proyek-proyek ekonomi yang beringas. Kapitalisme telah mewajah dalam Covid-19, menyapu mental gampangan yang sulit dipastikan. Sekali lagi masih utopia. Di dalam kekalutan ini, para penguasa dunia, mereka para pemodal, bertindak sebagai penentu pandangan dan peradaban. Energi maha besar apalagi yang hendak digunakan untuk membangkitkan kembali nilai kemanusiaan yang sedang hancur berantakan? *****


