Ekowisata Mangrove di Oesapa Rusak Parah Tak Kunjung Diperbaiki

Ekowisata Mangrove di kawasan Oesapa Barat, Kota Kupang, Provinsi NTT rusak berat akibat badai Seroja namun tak kunjung diperbaiki. (Ruth-KatongNTT.com)

Ekowisata Mangrove di kawasan Oesapa Barat, Kota Kupang, Provinsi NTT rusak berat akibat badai Seroja namun tak kunjung diperbaiki. (Ruth-KatongNTT.com)

Kupang- Kawasan Ekowisata Mangrove Oesapa Barat, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami rusak berat akibat badai Seroja pada April 2021. Kerusakan ini tak kunjung diperbaiki.

Berdasarkan pengamatan KatongNTT, jembatan yang biasa dipakai para wisatawan untuk menelusuri hutan mangrove rusak sedang hingga berat.

Huruf T, N, G, dan R pada kalimat ‘Ecowisata Mangrove’ hilang diterpa badai Seroja, namun tak kunjung diperbaiki.

Begitu juga dua jalur jalan untuk mengelilingi hutan mangrove tidak dapat berfungsi seperti sedia kala. Akses jalan melalui sisi kiri terpaksa ditutup karena kayu jembatannya sudah lapuk dan sebagian ambruk.

Jalur yang bisa dilalui hanya dari bagian kanan jembatan. Namun para pengunjung harus berhati-hati karena sebagian pegangan jembatannya telah rusak. Beberapa kayu sebagai alas jembatannya pun bolong dan hampir terlepas.

Jembatan  rusak di kawasan Ekowisata Mangrove di Oesapa Barat, Kota Kupang rusak parah. (Ruth-KatongNTT.com)
Jembatan rusak di kawasan Ekowisata Mangrove di Oesapa Barat, Kota Kupang rusak parah. (Ruth-KatongNTT.com)

Lopo dan spot foto yang biasa menjadi tempat favorit pengunjung untuk berfoto pun kini tidak bisa dijangkau lagi karena jembatan terputus.

Kerusakan ini berdampak pada penurunan jumlah wisata mencapai dua kali lipat dari periode sebelum badai Seroja.

“Sebelum Seroja pendapatan per bulan biasa dua jutaan. Tapi setelah ini per bulan pendapatan kadang-kadang 800-900 an (ribu),” ujar Ferdi Dethan, pengelola hutan mangrove di Oesapa.

Deretan penjual makanan maupun minuman pun yang sebelumnya berjejer di area mangrove tersebut sudah tidak terlihat lagi.

Baca Juga: Penjabat Wali Kota Kupang Targetkan Masalah Sampah Teratasi 2 Bulan

Dana tiket masuk hutan mangrove sebesar Rp 5 ribu per orang dewasa dinilai tidak mampu menutupi kerusakan di kawasan itu. Uang itu hanya untuk biaya pemeliharaan objek wisata.

Ferdi berharap akan adanya perhatian dari pemerintah Kota Kupang. Menurutnya,  sudah dua kali pihak pemerintahan kota Kupang menyambangi tempat tersebut dan berjanji segera ditanggulangi.

“Dari pemerintah kota sudah datang lihat dua kali, dan mereka siap untuk membantu membangun kembali yang rusak-rusak,” Ujar Ferdi.

Namun yang terlihat hanya cat warna warni jembatan yang masih bertahan. Selebihnya telah ambruk dan tak ada yang peduli.

“Mulai hancur, belum ada (bantuan). Tapi sudah, mereka sudah foto, mana-mana yang harus diperbaiki,” jelas Ferdi.

Sampah bertebaran di kawasan Ekowisata Mangrove di Oesapa Barat, Kota Kupang, Provinsi NTT. (Ruth-KatongNTT.com)
Sampah bertebaran di kawasan Ekowisata Mangrove di Oesapa Barat, Kota Kupang, Provinsi NTT. (Ruth-KatongNTT.com)

Belum lagi sampah kiriman yang menumpuk di sekitar area tersebut, semakin membuat tampilan objek wisata yang seharusnya mengutamakan konservasi alam itu amburadul.

“Sampah ini kan sampah kiriman semua. Kita hujan dulu baru sampah di sini banyak. Itu dari kali (re:sungai) Liliba sama kali Kartini. Jadi itu ujungnya di sini. Jadi sampah kalau sudah masuk (dalam hutan mangrove) tidak keluar lagi,” ujar Ferdi.

Dengan kerusakan kawasan mangrove di Oesapa, yang paling terkena imbasnya ialah masyarakat setempat. (Ruth)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *