• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Minggu, Agustus 16, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Bisnis

HUT RI Jadi Satu-satunya Tempat Pameran Tenun di Amarasi

Tim Redaksi by Tim Redaksi
4 tahun ago
in Bisnis, Industri Pariwisata
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Para penenun dari desa Apren dalam pameran kain tenun pada perayaan hari kemerdekaan di kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, NTT. (KatongNTT-Ruth)

Para penenun dari desa Apren dalam pameran kain tenun pada perayaan hari kemerdekaan RI, di kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, NTT. (KatongNTT-Ruth)

0
SHARES
322
VIEWS

Amarasi – Perayaan hari kemerdekaan Indonesia, menjadi satu-satunya tempat untuk mendagangkan kain tenun bagi masyarakat kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Diperkirakan sejak 1970-an, dalam rangka merayakan hari lahirnya bangsa Indonesia, kecamatan ini sudah mulai membuat perayaan dengan mengadakan berbagai kegiatan, salah satunya pameran tenun ikat.

BacaJuga

Produk olahan hasil laut NTT oleh UMKM CV Elitism di Kupang Exotic Festival 2025 di halaman kantor Gubernur NTT, 26 Juni 2025. (Rita Hasugian/KatongNTT)

UMKM NTT Mulai Olah Hasil Laut Jadi Produk Unggulan

29 Juni 2025
Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

12 September 2024

Camat Amarasi Maher Syalal Hasbaz Ora menyebut, perayaan ini menjadi kesempatan utama masyarakat untuk memamerkan hasil tenunan mereka.

“Biasa momen seperti ini baru ada kesempatan untuk mereka pamerkan hasil keterampilan, kerajinan mereka yang tergabung dalam tim PKK. Momen lain kalau ada kegiatan di kabupaten, baru mereka ikut,” ujar Maher.

Camat Amarasi, Maher Ora saat menyambangi stan tenun desa Tesbatan II pada senin, 15/8/2022. (KatongNTT – Ruth)

Lebih lanjut ia mengungkapkan, jika setiap dusun di sepuluh desa yang tergabung dalam kecamatan Amarasi ini punya kelompok tenun. Sayangnya, tidak diberdayakan secara maksimal.

Kain tenun yang dipamerkan di stan tiap desa, adalah kebanyakan dikumpul dari masyarakat yang dibuat mandiri.

“Kain tenun ini kumpul dari masyarakat. Bukan kelompok (PKK) punya,” ujar Dorkas Baok, Ibu RT 13, Desa Apren, kecamatan Amarasi.

“Kalau dari pemerintah tidak pernah anjurkan untuk dijual ke mana-mana. Jadi hanya lewat pameran di 17 ini saja baru bisa jual hasil tenun ini,” sambung Dorkas.

Selain minimnya media untuk menjual hasil tenunan masyarakat, pemasaran lewat pameran ini pun yang membeli adalah kebanyakan masyarakat dari kecamatan yang sama pula. Sehingga daya jualnya pun rendah.

Hal ini membuat masyarakat menjadikan pekerjaan menenun ini hanya sebagai pekerjaan sampingan.

Kepala desa Oenoni 1, Melyaki Sabuin menjelaskan, pameran tenun ini hanya dilakukan saat perayaan 17an karena produksi tenunnya pun musiman.

“Selain (menjadi ibu) rumah tangga, kerja kebun juga. Jadi setelah musim panen, baru masuk di kerja tenunan ini. (Menenun) dari April sampai Juli. Agustus begini sudah pameran. Jadi setelah pameran sudah kembali ke kebun,” sebut Melyaki.

Melyaki Sabuin, Kepala Desa Oenoni I bersama para penenun dalam pameran tenun di desa Tesbatan II, Amarasi. (KatongNTT – Ruth)

Ia mengatakan, umumnya kain tenun dibuat untuk dipakai pribadi. Namun tidak menutup kemungkinan untuk dipasarkan.

“Untuk tahun ini banyak yang mau dijual. Yang jadi soal sekarang, kalau sekarang tidak laku di sini. Mau kemanakan. Tetapi kalau pasarannya sudah jelas, (masyarakat) sudah rasa penghasilannya, pasti orang jadikan itu mata pencaharian utama,” sambungnya.

Untuk saat ini, camat Amarasi baru ada kesepakatan kerja sama dengan dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag) untuk mendaftarkan hak paten motif tenun Amarasi ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

“Kadis Perindag tadi datang. Sudah saya bawa keliling stan,dan lagi diperjuangkan untuk motif Amarasi dibuat HAKI (Hak Kekayaan Intelektual),” ujar Maher saat ditemui pada 15/08/2022.

Diharapkan lewat pembuataan HAKI ini, produksi tenun ikat Amarasi makin tinggi dan dapat membantu perekonomian masyarakat.

HAKI ini diperlukan agar motif tenun Amarasi tak sembarang dicontoh atau diklaim oleh pihak luar.

“Kalau produksi ada, sudah berani untuk kita pasarkan keluar. Untuk itu kita perlu benahi kelompok dasawisma yang ada untuk produksinya tidak musiman lagi. karena memang sampai sekarang orang belum sadar bahwa ini pekerjaan yang menghasilkan (uang).” pungkas Melyaki saat ditemui di Tesbatan, tempat dilakukannya perayaan hari kemerdekaan itu. (Ruth)

Tags: #Hutrike76#Tesbatan
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Produk olahan hasil laut NTT oleh UMKM CV Elitism di Kupang Exotic Festival 2025 di halaman kantor Gubernur NTT, 26 Juni 2025. (Rita Hasugian/KatongNTT)

UMKM NTT Mulai Olah Hasil Laut Jadi Produk Unggulan

by Rita Hasugian
29 Juni 2025
0

Di tengah laut biru dan pantai berpanorama indah, potensi ekonomi dari hasil laut di Nusa Tenggara Timur masih tersembunyi di...

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

Warga Desa Kairane di NTT Rawat 9 Jenis Bibit Jagung Lokal dari Kepunahan

by Rita Hasugian
12 September 2024
0

Boleh jadi kita tidak pernah terlintas cari tahu tentang jenis jagung yang kita konsumsi, apakah berasal dari bibit jagung lokal...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati