Kemarau Ekstrim, Warga TTS dan Sumba Timur Berjuang Sendiri Cari Air

Markus-petani-di-Sumba-membersihkan-lahan-pertanian-miliknya-yang-kesulitan-air-karena-musim-kemarau-ekstrim-Rabu-1-September-2021. (Al-KatongNTT.com)

Markus-petani-di-Sumba-membersihkan-lahan-pertanian-miliknya-yang-kesulitan-air-karena-musim-kemarau-ekstrim-Rabu-1-September-2021.-(Al-KatongNTT.com)

Kemarau ekstrim tahun ini membuat sumur milik petani di Maulumbi, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur kering. Beberapa sumur masih berisi air, itupun setelah sumur diperdalam.

Markus Nanga, (72) dan Damaris Karanja Lokat, (30) menuturkan, air sumur tidak digunakan untuk kebutuhan makan dan minum keluarga mereka. Namun sebagai sumber air untuk menyiram tanaman palawija di lahan pertanian mereka setiap tahun.

Menurut Markus, sumur tersebut tidak pernah kering seperti saat ini.Dia menduga sumur kering disebabkan Bendungan Kambaniru rusak diterjang banjir pada April 2021. Dan kemarau ekstrim tahun ini.

“Kami harus gali perdalam sumur untuk bisa tetap menanam sayuran,” jelas Markus pada Rabu, 1 September 2021.

Warga RT 02, RW 01, Kelurahan Maulumbi ini mengatakan, mereka bekerja keras untuk memperdalam sumur agar tanaman palawija di lahan pertanian mereka dialiri air. Tanaman palawija itu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga petani tersebut.

“Kalau kami tidak tanam sayur, bagaimana kami bisa hidup,” ujar Markus.

Markus juga harus mengeluarkan biaya untuk membeli bahan bakar untuk mesin pompa untuk mengangkat air dari dalam sumur.

“Karena sumurnya makin dalam, jadi kebutuhan bensin untuk mesin pompa juga bertambah,” jelas Markus.

Damaris menambahkan, sumur yang makin dalam dan ketersediaan air berkurang membuat para petani terpaksa mengantri untuk menggunakan mesin pompa. Air kemudian disiramkan ke tanaman palawija di lahan pertanian mereka.

“Kalau sumur masih dangkal dan banyak, kami bisa gayung langsung tanpa mesin dan tidak semua harus pakai mesin,” kata Damaris.

Air sumur yang mengering juga berpengaruh terhadap luas lahan yang biasa mereka tanami.

“Tahun-tahun lalu, seluruh areal ini bisa sekali tanam, tetapi sekarang kami hanya bisa tanam separuh, yang dekat dengan sumur yang masih ada airnya,” ujar Damaris.

Terbatasnya debit air sumur ini juga memaksa para petani untuk memilih jenis sayuran yang berumur singkat dan membutuhkan sedikit air.

“Kami hanya tanam sayur putih saja.Kalau tanam jagung, takut dimakan belalang dan jangan sampai sumurnya kering semua, bisa gagal panen dan kami rugi,” ujar Damaris.

Warga Dusun 1 Desa Pusu di Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten TTS tidak dapat lagi mengambil air dari sumur milik SD Inpres Oefatu. Air dalam sumur itu sudah kering.

Kesulitan mendapatkan air bersih terjadi setiap tahun di masa kemarau. Warga pun beralih membeli air dari penjual air menggunakan mobil.

Warga RT 03/RW01 Dusun 1, Desa Pusu, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten TTS, NTT menjelaskan kesulitan air selama kemarau ekstrim kepada KatongNTT, Rabu, 1 September 2021.

Hal itu disampaikan Yuliana Nomleni, Marthen Nomleni, Yance Snae, Marce Tualaka dan Danial Tamonon kepada KatongNTT, Rabu, 1 September 2021. Mereka warga RT 03/RW 01 Dusun I Desa Pusu Kecamatan Amanuban Barat Kabupaten TTS.

Yuliana mengatakan, dia sudah mempersiapkan uang untuk membeli air.Pemakaian air bersih didalam rumahnya per hari mencapai 15 atau 16 jerigen. Masing-masing jerige berukuran 5 liter.

Pemakaian air tergantung dari jumlah anggota keluarga di dalam rumah. Jika satu rumah hanya 2 atau 3 jiwa, maka pemakaian akan berkurang, namun jika mencapai 5 atau 6 orang, maka pemakaian mencapai 15 atau 16 jerigen per hari.

Yuliana menuturkan, kesulitan air bersih terjadi setiap tahun. Untuk menghadapi kesulitan air bersih tahun ini, dia dan keluarganya sudah siap.

“Kami didalam rumah sudah siap hadapi kekeringan ini. Kejadian ini bukan baru pertama kali tetapi sudah berulang kali. Kami siap beli air dari mobil pick up,” ujar dia.

Marce Tualaka sambil mengolah jagung katembak menjadi jagung bose itu mengisahkan warga setempat kesulitan air bersih setiap tahun.

Bahkan, saat membangun rumahnya agar layak huni harus menyediakan uang sebesar Rp 1,5 juta hanya untuk membeli air. Sumber mata air di wilayah tersebut hanya sumur milik SD Inpres Oefatu yang kering setiap September.

“Kami disini kalau bangun rumah harus siapkan uang khusus untuk air sendiri,” kata Marce.

Pada masa kemarau ini, Marce membeli air dari penjual air bersih menggunakan mobil. Harga per 6 jerigen Rp 10.000.

Marce yang juga seorang ibu rumah tangga ini mengatakan, air sangat penting, jika segala sesuatu lengkap didalam rumah, tetapi tanpa air tidak bisa berbuat apa-apa.

Oleh karena itu, Marce selalu menyediakan uang untuk membeli air yang digunakan untuk konsumsi sehari-hari.

Memasuki kemarau 2021, kata Marce, Yayasan Pelita Kehidupan Masyarakat (YPKM) melakukan survei air dalam tanah untuk membuat bor air. Sehingga kami berharap dengan sumur bor itu nantinya mereka tidak lagi kesulitan air bersih di musim kemarau.

“Ada yayasan yang datang dan bantu kami untuk bor sumur dan sementara perluasan jaringan pipa. Kami berharap pertengahan bulan ini atau Oktober kami sudah bisa gunakan air dari sumur bor itu,” tutur Marce penuh harap.

Air dari sumur bor yang dibangun yayasan itu juga akan digunakan untuk bercocok tanam.

“Jika nantinya kami sudah memakai sumur bor itu, maka uang yang semestinya digunakan untuk beli air akan dialihkan ke bibit sayur. Sehingga, air sumur bor itu benar-benar dimanfaatkan,” pungkas Marce. (Al/Gi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *