Kiat Pemilik Kios di Sumba Bertahan dari Pandemi

Omzet pemilik kios asal Sumba ini menurun drastis lantara pandemi Covid-19 dari Rp 1,2 juta per hari menjadi Rp 300 ribu per hari.

Pebisnis-UKM-Nelci-Anggriani-Manu-melayani-pembeli-dengan-mematuhi-protokol-kesehatan-pada-Senin-19-Juli-2021. (Al)

Pebisnis-UKM-Nelci-Anggriani-Manu-melayani-pembeli-dengan-mematuhi-protokol-kesehatan-pada-Senin-19-Juli-2021. (Al)

Pasangan Ardyanto Lindidjawa dan Nelci Anggriani Manu jeli melihat peluang pasar dengan berencana mendirikan kios dan warung kopi. Tak disangka Sumba Timur, Provinsi NTT diterjang pandemi Covid-19 membuat mereka berjuang untuk mempertahankan bisnis yang baru mereka rintis.

Berawal dari keputusan mereka untuk mengambil kontrakan rumah di RT/RW 17/06 Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera pada September 2018. Di kontrakan setengah permanen ini menjadi ruang usaha sekaligus rumah bagi pasangan suami istri ini bersama anak-anaknya hingga saat ini.

Pemilihan rumah kontrakan berukuran sekitar 7×9 meter persegi ini bukan tanpa alasan. Sebab tepat di seberang jalan depan kontrakan berdiri Kampus Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina) Sumba. Kampus ini memiliki satu pintu gerbang yang menghadap ke arah timur dan selalu terbuka.

Dengan begitu, pintu ini memberi akses keluar-masuk mahasiswa maupun dosen dengan mudah menjangkau kios. . Di kios ini disediakan jajanan, kebutuhan konsumsi rumah tangga, minuman kopi, dan makanan mie instan berbagai varian rasa.

Awalnya usaha kios plus warung kopi ini cukup menjanjikan. Karena mereka mampu menghasilkan omset harian antara Rp 1 juta hingga Rp 1,2 juta rupiah. Alhasil, stok barang di kios selalu tersedia dalam jumlah yang cukup hingga satu minggu.

Sisa tahun 2018 dan sepanjang tahun 2019 berlalu dengan cukup menggembirakan bagi keluarga pebisnis UKM ini.
Di awal tahun 2020 pandemi Covid-19 mulai merebak dari Wuhan-Cina dan menyebar ke seantero penjuru dunia. Kios milik Ardyanto dan Nelci masih meraup keuntungan dan omzet stabil.

Namun akhir April 2020 Covid-19 masuk ke Kabupaten Sumba Timur yang diawali dengan klaster mahasiswa Sekolah Tinggi Theologi (STT) Sangkakala Jakarta.

Secara bertahap kurva penularan Covid-19 di Kabupaten Sumba Timur mulai bergerak naik. Hingga Senin, 19 Juli 2021 telah mencapai 2.849 kasus. Rinciannya, 1.780 kasus sembuh, 1.012 kasus dirawat, dan 57 kasus meninggal. Sebanyak 1.012 kasus aktif ini menyebar di 15 dari 22 kecamatan di Kabupaten Sumba Timur.

Saat ditemui di kios miliknya, Nelci Anggriani Manu menuturkan pandemi Covid-19 telah berpengaruh besar bagi usaha kecil yang dibangun keluarganya.

Sebab sejak Covid-19 merebak di Indonesia, pemerintah memutuskan untuk menutup sekolah tatap muka dari semua tingkatan. Seluruh mahasiswa Unkriswina Sumba juga mengikuti perkuliahan secara daring.

Mereka tidak lagi berjubel di kampus depan kios mereka untuk membeli kebutuhan mereka atau sekadar minum kopi.

Alhasil, omset penjualan kios menurun drastis. Sebelum perkuliahan daring, omset kios bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 1,2 juta per hari. Kini omset hanya berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu per hari.

Modal usaha yang diperoleh dari pinjaman bank harus dikelola dengan lebih bijak. Ini untuk bisa tetap mempertahankan usaha mereka di tengah gelombang pandemi Covid-19 yang mengganas hingga saat ini.

Untuk bertahan, ibu dari Chalista dan Edo ini berpikir kreatif dengan menyediakan jajanan yang bisa meningkatkan penjualan. Selain itu dia juga memperluas layanan penjualan ke kebutuhan pokok harian masyarakat hingga menjual pulsa handphone dan juga token listrik.

“Jadinya saya juga layani antar ke rumah untuk jajanan pisang goreng, puding, dan lainnya melalui jejaring sosial dan syukurlah cukup membantu,” kata Nelci kepada KatongNTT.com, Senin, 19 Juli 2021.

Selain itu, untuk memastikan stok barang dagangan di kios selalu tersedia, Nelci harus mampu mensiasati pola belanjanya ke toko.

Dulunya Nelci bisa berbelanja setiap akhir pekan untuk semua jenis barang dagangan. Sekarang dia berbelanja dengan melihat ketersediaan stok barang.

“Jadi misalnya mie yang kurang, kita beli mie saja dulu. Nanti besoknya biskuit atau rokok kurang, baru kita beli lagi. Biar stok barangnya semua tetap tersedia di kios,” jelasnya.

Suaminya Ardyanto ikut bekerja menjajakan rokok keliling ke kios-kios lain di seputaran Kota Waingapu dan sekitarnya. Dia berkeliling menawarkan rokok dengan ukuran slof ke kios-kios yang sudah menjadi langganannya. Kesempatan itu dia pakai untuk mencari pelanggan baru untuk menambah penghasilan keluarga mereka.

“Sekarang sales rokok juga makin banyak, sehingga persaingan makin ketat sehingga harus bisa menyediakan rokok bagi langganan kita tepat waktu,” jelas Ardyanto.

Bahkan, menurut Ardyanto persaingan sales rokok tidak hanya terjadi di Kota Waingapu dan sekitarnya namun juga sampai ke desa-desa.

Karenanya jalinan komunikasi dengan para langganannya harus tetap dijaga agar penjualan tetap menguntungkan.

“Kalau ke kampung dan pas hitung waktunya, bisa habis dua sampai tiga ball rokok dalam sehari,” ungkapnya.

Suami-istri ini berharap pandemi Covid-19 segera berakhir. Mereka berharap pemerintah bersama masyarakat dapat mengendalikan penyebaran virus ini. Dengan demikian, sekolah tatap muka dapat kembali dibuka dan perputaran ekonomi bisa segera kembali normal.

“Semoga vaksinasi yang sedang dijalankan pemerintah saat ini cukup efektif membangun kekebalan komunitas masyarakat, sehingga kita bisa kembali beraktivitas normal,” tandas kedua pebisnis UKM ini penuh harap. (Al)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *