Penderitaan Tak Berujung Pekerja Rumah Tangga NTT

Ilustrasi Pekerja Rumah Tangga (dok.Vecteezy.com)

Ilustrasi Pekerja Rumah Tangga (dok.Vecteezy.com)

Perlindungan bagi Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Nusa Tenggara Timur (NTT) bahkan di Indonesia masih lemah. Rancangan Undang-undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU Perlindungan PRT) belum juga mendapatkan titik terang menjadi payung hukum.

Sejak masuk Senayan pada 2004, RUU tersebut belum disahkan. Itu artinya sudah 18 tahun RUU itu diusulkan namun kalah prioritas dengan RUU Ibukota Negara Baru (IKN).

“RUU Perlindungan PRT ini masuk prioritas pada tahun 2010-2014 kemudian ditangguhkan. Pada 2020 kemarin sampai sekarang kembali masuk prioritas namun belum disahkan,” kata Lita Anggraini dari Jala PRT dalam Diskusi Publik yang diadakan Komunitas Hanaf, Jumat (18/2/2022).

Dua orang PRT asal NTT menceritakan pengalaman mereka dalam diskusi tersebut. Mama Santi, seorang Ibu asal Alor bercerita, dirinya bekerja sebagai PRT di Kota Kupang sejak 2002. Pekerjaan tersebut masih dia tekuni.

Mama Santi sudah bekerja pada dua majikan. Di majikan pertamanya, dia hanya digaji Rp 300 ribu sebulan. Gaji tersebut tidak sesuai dengan beban kerjanya. Waktu istirahatnya sangat sedikit. Semua pekerjaan dalam rumah, seperti membersihkan rumah, cuci pakaian, memasak dilakukannya setiap hari. Bahkan beban kerjanya bertambah karena harus mengoker rumah.

“Saat mengoker rumah itu, tanpa sengaja saya menjatuhkan jam dinding. Dan saya disuruh untuk mengganti jam dinding itu. Saya tidak menolak, meski gaji saya kecil saya tetap mengganti jam dinding itu,” ucap Mama Santi.

Tidak hanya beban kerja yang berat, Mama Santi juga mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari majikannya. Kata-kata makian itu sudah biasa dilontarakan majikannya.

Suatu hari, Mama Santi sakit dan harus berobat ke Rumah Sakit. Oleh majikannya diberikan uang Rp 50 ribu. Uang yang diberikan itu tentunya tidak cukup. Ia mengeluhkan ketiadaan BPJS Ketenagakerjaan bagi mereka untuk jaminan keselamatan kerja.

Kondisi tersebut memang sulit. Namun Mama Santi tidak mau menyerah. Dia harus memenuhi kebutuhan hidupnya bersama anak-anak.  Mama Santi kemdian berpindah majikan.

Pada majikan barunya itu, dia digaji Rp. 900 ribu per bulan. Kondisi yang sedikit berbeda dialami Mama Santi dengan majikan kedua ini. Ia mendapatkan perlakuan yang baik. Saat jam makan, dirinya semeja dengan majikannya.

Kisah lain datang dari Mama Marianti. Perjuangan Ibu Rumah Tangga menghidupi keluarganya. Mama Marianti berasal dari Kabupaten Timor Tengah Utara. Dia bekerja seorang diri menafkahi 3 orang anak dan membiaya pendidikan mereka tanpa dukungan suaminya.

Menafkahi kelurga merupakan tanggungjawab seorang suami. Namun itu tidak terjadi pada Mama Marianti. Sejak hamil anak pertamanya gelagat sang suami tidak bertanggungjawab mulai nampak.

Mama Marianti tidak tinggal diam.  Ia bekerja apa saja untuk menghasilkan uang. Mulai dari berjualan kelapa, cuci pakaian dan berbagai pekerjaan lainnya.

Ia kemudian berangkat ke Malaysia mencari uang demi membiaya 3 orang anaknya bersekolah.  Oleh agennya, Ia diminta bekerja selama 3 bulan di Medan. Katanya, itu adalah magang.

“Saya bekerja 3 bulan itu digaji hanya tiga ratus ribu. Uang itu saya pakai beli kebutuhan untuk ke Malaysia,” kata Mama Marianti.

Di Malaysia, Mama Marianti bekerja 3 pada majikan orang India. Selama itu, dia merasakan beban kerja yang sangat berat. Ia juga mengalami kekerasan fisik “jari tangan saya hampir putus,” katanya.

“Majikan saya orang India sangat kejam. Saya takut dia ancam-ancam saya,” kata Mama Marianti.

Dia meneriama gaji 400 ringgit dari majikan itu. Tapi selama 3 bulan itu, Mama Marianti tidak menerima gaji karena gaji 3 bulan awal kerja itu diberikan pada agennya.

“Saya hanya tidur 1 jam. Badan saya sangat kurus. Saya hampir mati,” katanya mengenang masa perjuangannya di Malaysia.

Tidak tahan dengan perlakuan dan beban kerja yang berat, Mama Marianti meminta pada agennya untuk mencarikan majikan yang baru. Pada majikan baru itu, beban kerjanya sedikit berkurang.

Pernah kaki Mama Marianti luka kena pecah pot bunga. Dia tidak sanggup menahan rasa sakit itu. Saat itu, Mama Marianti bekerja pada majikannya yang kedua. Dia minta izin istirahat hari itu, namun dirinya disuruh mengobati luka itu dan melanjutkan pekerjaanya.

“Saya tetap bertahan bekerja selama 2 tahun untuk bisa kembali ke NTT bertemu anak-anak saya,” ucapnya.

Setelah pulang ke Kupang, uang yang dibawanya dipakai untuk biaya pendidikan anak-anak. Ia dan suaminya pun melangsungkan pernikahan dan mengambil satu motor untuk suaminya. Semua itu dilakukan Mama Marianti dengan harapan suaminya berubah dan bertanggungjawab. Tapi harapan itu sirna.

“Saya harus bekerja sendiri lagi untuk menghidupi anak-anak. Saya kerja apa saja, yang penting bisa dapat uang. Satu hari bisa dapat lima puluh sampai tujuh puluh lima ribu,” tutur Mama Marianti.

Yuli Benu dari Komunitas Hanaf mengatakan, cerita-cerita Pekerja Rumah Tangga di Kota Kupang, NTT selama ini ditutup rapat. Mereka tidak berani bersuara meski mengalami beban kerja berat dengan gaji yang tidak sebanding.

“Selama bekerja, cerita-cerita itu dipendam dan ini baru pertama kali mereka bercerita di ruang publik,” kata Yuli yang mendampingi PRT di Kota Kupang.

Lita Anggraini mengatakan, apa yang dialami oleh dua PRT NTT itu adalah potret PRT di Indonesia. Banyak kasus yang dihadapi oleh PRT. Lita mengatakan, Jala PRT mendampingi 400 lebih kasus kekerasan terhadap PRT, baik itu makian, diperintah semena-mena hingga kekerasan fisik.

Selain itu, jaminan keselamatan kerja bagi PRT sangat minim. Data yang dimiliki Jala PRT menunjukkan, 80 persen PRT tidak bisa ikut jaminan sosial. Dalam pemberian bantuan sosial bagi pekerja yang terdampak akibat Covid-19, kata Lita, PRt tidak mendapatkan bantuan tersebut.

Kondisi ini menunjukkan perlindungan bagi PRT masih lemah. Negara perlu hadir untuk mengatasi persoalan ini, melalui RUU Perlindungan PRT yang sudah 18 tahun mengendap di Senayan.

PRT juga rentan terhadap perdagangan orang. Lita mengatakan, perlu ada perjanjian kerja antara majikan dan PRT untuk menghindari terjadinya perdagangan orang.

“Kita mendapatkan satu PRT yang sampai sekarang belum diketahui alamatnya di karena dilarang oleh majikannya untuk pegang HP. Pernah satu kali dia pegang HP dan ketahuan majikannya, HP itu disita dan sampai sekarang kita belum menemukan alamatnya,” kata Lita.

Praktik-praktik seperti ini terus berulang. Lita mengatakan, kondisi ini tersu berlanjut karena tidak ada regulasi yang mengatur tentang perlindungan PRT.

Pendeta Emy Sahertian, mengatakan, Pekerja Rumah Tangga NTT mengalami penderitaan yang bertubi-tubi. Kebanyakan mereka adalah Ibu Rumah Tangga yang sebelumnya punya masalah dalam keluarga.

Mereka kemudian menjadi tulang punggung keluarga inti bahkan keluarga besar. Dia mengatakan, para mafia kemudian menciptakan para Ibu rumah tangga ini menjadi PRT yang diekspoitasi untuk bekerja di Malaysia.

“Covid-19 dan Seroja menjadi pintu masuk untuk para mafia (perdagangan orang) untuk menciptakan PRT yang dieksploitasi ke Malaysia,” kata Pendeta yang aktif di Tim Kargo untuk menjemput jenazah PMI NTT.

Pendeta Emy mengatakan kondisi ini menjadi tanda bahaya bagi NTT. Namun sejauh ini, sikap Pemerintah untuk mencegah perdagangan orang belum nampak. NTT diketahui telah memiliki Perda tentang Perlindungan Pekerja Migran, namun belum berfungsi dengan baik.

Perda tersebut belum punya taring yang kuat untuk mematahkan pergerakan para mafia. Pendeta Emy menjelaskan, perlu alat untuk menjalankan Perda ini, melalui pembentukan Satgas.

“Perda itu harus mendorong lahirnya Perdes. Namun bagi kami Perda ini hanya lip service,” tegas Pendeta Emy.

Moratorium yang dikeluarkan oleh Gubernur NTT justru melahirkan banyak pekerja nonprosedural. Kondisi ini, kata Pendeta Emy menjadi bukti bahwa darurat human trafficking di NTT belum berakhir.

Pendeta Emy mendorong UU perlindungan PRT segera disahkan. Jika belum ada payung hukum yang menaungi PRT, perdagangan orang akan semakin tinggi.

“Paling tidak Negara sudah melindungi mereka agar tidak tereksploitasi,” katanya. (K-04)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *