Komunitas Lakoat Kujawas adalah salah satu komunitas yang berada di Desa Taiftop, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Komunitas ini didirikan oleh Dicky Senda pada tahun 2016. Ada beberapa alasan yang membuat Dicky pulang kampung dan mendirikan komunitas ini. Salah satu alasannya adalah ia ingin mengarsipkan pengetahuan lokal yang ada di kampungnya. Ia merasa kesulitan ketika melakukan riset untuk keperluan menulis cerpen yang bertemakan budaya dan sejarah Mollo .
“Waktu itu beta mau menulis cerpen beta riset itu sulit sekali punya akses karena sumber- sumber tertulis itu kebanyakan ada di Leiden dan yang bikin beta sedikit marah dan kesal adalah untuk mengakses salah satu dokumen di Leiden, beta harus membayar sekian Euro, mahal, terus beta bilang kenapa? Itu pengetahuan nenek moyang kita yang mereka ambil dan mereka simpan. Oke, saya tahu dan paham juga bahwa kerja riset itu kerja yang njlimet tapi mereka juga harusnya tahu dong itu diminta oleh keturunan dari Timor, orang Mollo. Harusnya dimudahkan aksesnya bukan malah dipersulit bayar sekian Euro. Akhirnya ke-trigger dan bilang sudah saatnya kita bikin ruang arsip dan kerja arsip,” kenang Dicky.
Dicky merasa jika semua pengetahuan lokal itu tidak diarsipkan mulai sekarang maka mereka akan kalah dan akan kesulitan jika tidak serius mengarsipkan pengetahuan sendiri. “Masa apa-apa kita harus ke Leiden, apa-apa kita harus ke UGM, apa-apa kita harus penelitian di Jawa. Ya, kita harus bikin punya kita sendiri,” ujar Dicky.
Baca juga: Edisi Perempuan NTT: Walau Rajin Berladang, Tapi Pembangunan Meninggalkan Perempuan
Tahun-tahun Awal Berdirinya Komunitas Lakoat Kujawas
Hal pertama yang Dicky lakukan ketika tiba di kampung adalah mendirikan perpustakaan untuk anak-anak yang berada di kampungnya. Dicky mengajak anak-anak ini karena tujuan awalnya adalah membuat ruang ini untuk anak-anak. Anak-anak adalah titik utama.
“Fokusnya memang ke situ. Menyediakan buku. Pulang dari Jogja itu bawa lumayan banyak buku-buku. Tidak bawa pakaian. Pakaian cuma satu tas ransel kecil tapi kardus buku itu, saya ingat bayar bagasi itu sampai satu setengah juta. Itu hanya untuk bayar kelebihan bagasi buku,” ujar Dicky.
Anggota pertama Komunitas Lakoat Kujawas waktu itu adalah anak-anak. Salah satu yang bertahan hingga hari ini adalah Findy yang bergabung dengan komunitas ini sejak 2016.
“Bisa dihitung 8 tahun dan pertama itu saya bersama dengan teman-teman itu tidak ada yang mengajak tapi kami mendengar informasi dari teman-teman kalau di Kapan, di DesaTaiftop itu sudah ada perpustakaan mini dan menyediakan banyak buku bacaan anak-anak. Kami tertarik untuk datang ke sini untuk meminjam buku dan mengikuti kegiatan yang diadakan di Lakoat,” kata Findy mengenang saat pertama datang ke komunitas.
Tiga bulan kemudian barulah ada orang dewasa yang bergabung karena melihat Dicky kesulitan sendiri dengan para relawan yang mulai berdatangan. “Anggota pertama kalau orang tua itu Mama Meti yang gabung pertama. Mama Meti tergerak karena dia melihat saya kesulitan sendiri dengan relawan karena waktu itu relawan dari Kupang dan Soe mulai datang,” urai Dicky.
Setiap Sabtu dan Minggu para relawan mulai datang dan mengajar. Ada yang mengajar bagaimana cara memainkan gitar, mengajar menari dan Bahasa Inggris. Saat Dicky kerepotan sendiri mengurus komunitas itulah yang membuat Mama Meti menawarkan diri untuk membantu mengurus konsumsi untuk para relawan. Di tahun kedua para orang tua dari anak-anak yang telah bergabung mulai tertarik untuk bergabung dengan Komunitas Lakoat Kujawas.
“Saya ingat Mama Fun dan beberapa mama-mama datang. Saya pikir mau demo atau mau protes atau anaknya kena pukul di Lakoat atau ada teman atau mereka bakalai terus mau mengadu,” ujar Dicky mengenang. Ternyata mereka mau menyampaikan keinginan mereka untuk bergabung menjadi anggota komunitas. Mereka bilang masa anak-anak saja yang bergabung, orang tua juga memiliki keinginan yang sama untuk bergabung.
“2017 itu belum terlalu aktif tapi beta sempat ikut karnaval waktu itu. Ikut lewat Lakoat karena tiap tahun itu kalau ada pawai itu Lakoat kelompok sendiri,” kenang Mama Fun.
Baca juga: #PerempuanRawatBumi: Minim Dukungan, Perempuan NTT Bangkitkan Kembali Pangan Lokal

Jatuh Bangun Membangun Lakoat Kujawas
Ketika mengajak anak-anak di kampungnya untuk bergabung di komunitas membuat banyak orang tua dari anak-anak itu menentang keinginannya itu. Bahkan sekolah tempat anak-anak ini
bersekolah pun menentang apa yang Dicky lakukan itu.
“Pertama tuh sekolah banyak tentang, orangtua juga banyak tentang. Ngapain berkegiatan di situ? Ngapain apa segala macam jadi ditentang tapi yah karena menurut saya ini hal yang baru buat mereka,” ujar Dicky.
Membaca buku mungkin para orangtua dan pihak sekolah paham, tetapi ketika anak-anak datang baca buku, kelas Bahasa Inggris, ada kelas musik, ada kelas teater sehingga membuat mereka menentang. Hal-hal yang Dicky lakukan itu berada di luar bayangan mereka. Dicky dan komunitas yang ia dirikan ini juga di awal-awal berdiri dilihat aneh karena mendobrak hal yang tidak masuk akal. Bahkan sampai tahun ketiga baru orangtua paham dan benar-benar bisa menerimanya.
“Tahun ketiga jadi bayangkan bahwa dua tiga tahun pertama itu memang kami memang benar- benar pasang telinga yah telinga tebal orang sini bilang. Jadi artinya yah sudahlah ada gosip- gosip atau hal-hal negatif yah sudahlah percaya diri saja dan maju terus,” kata Dicky.
Baca juga: Tubuh Anak NTT dalam Pusaran Kuasa
Ulang Tahun Ke-8 dan 8 Program
Di Komunitas Lakoat Kujawas ini ada 8 program yang dikembangkan selama 8 tahun ini. Program-program itu adalah Kelas Menulis, Ruang Arsip, Mnahat Fe’u, Skol Tamolok, Festival Musim Tanam, Residensi Seni, Festival Musim Panen dan Food Lab. Dari 8 program itu 4 program untuk anak-anak sedangkan 4 program lainnya untuk warga.
“Kami punya program reguler perpustakaan setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Kami punya kelas menulis setiap hari Sabtu. Kelas menulis itu juga dari tahun 2017, sudah 7 tahun. Konsistensi setiap hari Sabtu,” jelas Dicky.
Dari kelas menulis setiap Sabtu itu komunitas kemudian menerbitkan buku yang ditulis olehanak-anak. Hingga hari ini buku yang diterbitkan oleh komunitas sebanyak 10 buku. “Setelah kelas menulis kami eh mengembangkan jadi ruang arsip. Kami mulai fokus kerja-kerjaarsip dan riset-riset dan bikin tulisan. Ruang arsip kemudian berkembang jadi programMnahat Fe’u terkait dengan pangan jadi kami riset soal pangan,” ujar Dicky.
Whilda, seorang penulis buku yang tertarik pada pangan berkesempatan untuk mengikuti
Mnahat Fe’u. Whilda datang ke komunitas ini selain ikut Mnahat Fe’u, juga karena sudah lama tahu praktik-praktik yang dikerjakan oleh komunitas ini dan juga memiliki ketertarikan yang sama terhadap pangan.
“Saya punya ketertarikan sama pangan terus kerja komunitas kemudian juga apalagi nih banyak bekerja dengan anak-anak, banyak belajar sama anak-anak jadi saya penasaran dan tertarik untuk lihat bagaimana sih di Lakoat itu. Praktik-praktiknya seperti apa,” ujar Whilda.
Banyak pengalaman baru yang didapat Whilda selama berada di komunitas ini. “Saya banyak merasakan makanan-makanan baru, cita rasa cita rasa baru yang tidak pernah ada sebelumnya terus juga bertemu dengan kawan-kawan baru yang sebelumnya belumpernahketemu, yang sangat hangat dan terbuka menyambut gitu terus belajar banyak sekali hal-hal terkait dengan inisiatif-inisiatif.
“Banyak refleksi juga ke saya di kerja-kerja saya di komunitas,” ungkap Whilda. Whilda sangat terkesan dengan Mnahat Fe’u yang ia ikuti karena ia bisa mencoba banyak makanan lokal dan merasa tempatnya dipersiapkan sangat baik karena sebelum makanan itu tersaji di piring, banyak proses yang telah dilalui oleh anggota komunitas ini.
“Saya melihat sendiri bagaimana anak-anaknya, mama-mama tuanya, Kaka Dicky-nya dan kawan-kawan lain itu berproses sama-sama untuk menghidangkan makanan itu untuk kami terus tiba di meja. Mejanya dihias, dipersiapkan dengan baik sehari semalam bukan hanya makanan-makanan yang baru, makanan yang dieksplorasi sama teman-teman terus dihias dengan sangat cantik. Terus kami juga makan sama teman-teman yang menyenangkan jadi itu seru sekali. Makan siang yang sangat berkesan,” cerita Whilda.
Setelah komunitas ini melakukan riset soal pangan, mereka lalu berpikir untuk mengarsipkannya dan membuat pameran.
“Ternyata bisa jadi model pariwisata minat khusus atau model ekowisata atau model tur berbasis gastronomi, misalnya. Jadi kami kemudian mendesain itu jadi Mnahat Fe’u eh setelah itu ternyata arsip-arsip ini kita desain jadi model kurikulum pendidikan kontekstual jadilah Skol Tamolok,” cerita Dicky.
Baca juga: Guru, Teman, dan Keluarga Terbanyak Jadi Pelaku Kekerasan Seksual Anak di NTT
Skol Tamolok sendiri adalah model pendidikan adat, kritis dan kontekstual. Skol Tamolok sendiri akronim dari Tabaina Monit Alekot yang berarti menjadikan hidup lebih baik. Skol Tamolok diadakan di komunitas ini di setiap bulannya.
“Setelah Sekolah Budaya berkembang jadi Residensi Seni, Pameran Arsip, Festival MusimTanam, Festival Musim Panen, Mnahat Fe’u dan yang terakhir Food Lab. Jadi kurang lebih programnya ada 8,” jelas Dicky.
Semua program di komunitas ini sebenarnya berkembang dari apa yang sudah dikerjakan. “Di tahun 2017 Kak Shinta Febriyani datang pertama kali. Itu juga membuka model residensi itu juga. Kami belajar di Lakoat bahwa model residensi itu juga membuka salah satu hal,” urai Dicky.
“Kak Shinta datang bikin workshop teater waktu itu dan itu pengalaman luar biasa. Anak-anaksenang sekali karena pendekatan teater itu ternyata jadi sesuatu yang menyenangkan. Kami bikin pentas pertama di aula gereja. Satu kampung datang dan nonton dan itu kayak oh yaini yayang modelnya residensi itu,” tambah Dicky.
Menurut Dicky, orangtua dari anggota komunitas ini harus diberikan contoh langsung sehingga mereka tahu seperti apa residensi itu. Jika hanya bicara abstrak tentang ide dan gagasan itu akan sulit dimengerti tapi jika dengan contoh langsung akan jauh lebih baik.
“Daripada kita omong teori bambu dan segala macam yah sudah langsung keliling kampung. Ini namanya jenis bambu ini,” urai Dicky. Iker, salah satu relawan yang mengajar di Lakoat Kujawas datang ke komunitas ini untuk mengenalkan jenis-jenis bambu pada anak-anak. Iker dan anggota komunitas yang terdiri dari anak-anak dan remaja ini berkeliling kampung untuk mengidentifikasi jenis-jenis bambu yang ada di sekitaran komunitas. Dirinya tertarik untuk mengenalkan jenis-jenis bambu karena ternyata di Pulau Timor itu ada bambu endemik tapi orang-orang Timor tidak tahu.
“Sebenarnya bagaimana menjelaskannya karena di kapan ini ‘kan banyak bambu. Awalnya pas jalan di Timor ada banyak bambu endemik to tapi di TTU itu banyak orang yang tidak tahu. Mereka berpikirnya bambu Timor ini bambu hitam yang kami sebut bambu wulung itu. Jadi saya pikir semua orang harus tahu kalau di Pulau Timor ini ada bambu endemik,” ujar Iker dengan bersemangat.
Tantangan yang dihadapi Iker dalam memperkenalkan bambu pada anak-anak adalah anak- anak tidak tahu nama lokalnya jadi dirinya seperti berbicara satu arah saja. “Di awal saya seperti omong satu arah. Pas saya bilang bambu apa ini? Semua kayak ngawang- ngawang karena tidak ada gambaran. Nah saya pun tidak bawa foto atau apa yang bisa saya pakai. Waktu di desa saya biasanya print foto lalu saya laminating dan kasi kasih lihat kewarga,” jelas Iker. Iker belum tahu apakah dirinya akan melanjutkan kelas atau tidak. Sebelum melanjutkan kelas berikutnya mungkin yang akan dilakukan adalah pengamatan terlebih dahulu pada bambu- bambu yang telah mereka tanam.
Baca juga: Perlawanan Marlina dan Politik Kekerasan terhadap Perempuan NTT

Menurut Iker, kelas ini penting untuk dilanjutkan karena penting untuk mengetahui jenis-jenis bambu lokal lalu manfaat lokalnya dan apa kegunaannya. “Nah kemarin itu ‘kan terbatas di saya dan teman-teman Lakoat. Adik-adik itu mungkin perlubertanya ke Bapak Fun atau bapak-bapak lain tentang penggunaan bambu ini. Perbedaan sekarang dan zaman dulu itu seperti apa?” tutup Iker.
Sementara, Yube, relawan yang mengisi kelas gitar ini tertarik untuk mengenalkan gitar pada anak-anak Lakoat karena kesukaannya pada musik dan salah satu passion terbesarnya adalah mengajar. “Beta sangat suka musik dan be suka anak-anak dan beta pung passion yang satu itu mengajar orang. Beta sudah cukup son talalu main gitar begitu karena sibuk dengan pekerjaan sampai beta hanya begitu-begitu sa kek mau main untuk hibur-hibur diri. Terus waktu pulang Soe beta pikir keknya ini beta harus kembangkan lagi beta pung bakat ini. Jadilah sudah beta mengajar anak-anak dong. Beta senang karena beta kek dapat teman main musik jadi masuk dalam tim begitu jadi dong belajar beta juga belajar,” ujar Yube.
Awal mula perkenalan Yube dengan Komunitas Lakoat Kujawas ini bermula dari tahun 2017. Waktu itu Yube membaca buku Kap Na’m To Fena yang diterbitkan oleh komunitas ini. Yube kemudian mencari akun Instagram komunitas dan Dicky. Dari situlah Yube mengenal kerja-kerja komunitas dan Desember lalu Yube ikut kelas fermentasi di Food Lab. Bulan Januari Dicky meminta Yube untuk mengajar anak-anak main gitar. Sejak saat itu Yube mengisi kelas gitar setiap hari Senin karena hari Senin adalah hari libur. Yube mengisi hari liburnya dengan mengajar anak-anak Komunitas Lakoat Kujawas. Tantangan yang dihadapi oleh Yube ketika mengenalkan musik pada anak-anak di Komunitas ini adalah bagaimana menyederhanakan materi musik untuk anak-anak.
“Jadi Beta kek kadang mau menjelaskan ke anak-anak dong tentang kunci-kunci, ada dia pung teori musik tapi be rasa kek terlalu rumit jadi beta akhirnya pakai yang lebih sederhana. Kami cari lagu yang kami suka, anak-anak suka, terus ajar dorang dia punya kunci-kunci, cari familycord-nya terus dari situ dong bisa,” ujar Yube.
Menurut Dicky, Yube adalah relawan terakhir yang sudah bergabung selama 5 bulan terakhir. Selain Yube, ada satu mahasiswa yang menjadi relawan di sini. Mahasiswa itu ingin melakukan penelitian di komunitas ini dan syaratnya adalah harus menjadi relawan di komunitas ini.
Baca juga: Mengapa Lagu-Lagu NTT Terlalu Riang untuk Realitas yang Pahit?
“Salah satu syarat mau penelitian di Lakoat adalah menjadi relawan minimal sebulan. Bagaimana mau meneliti tentang Lakoat sementara tidak merasakan dan mengalami secaralangsung. Ya sudah jadi relawan,” kata Dicky. Alhasil, setiap hari Sabtu mahasiswa itu datang untuk jadi relawan di komunitas ini. Alasan Dicky membuat peraturan untuk para mahasiswa yang ingin riset diharuskan menjadi relawan dikarenakan banyak mahasiswa yang datang melakukan riset tapi hasil penelitian maupun skripsi tidak dikirim ke komunitas.
“Banyak mahasiswa yang mo riset di katong tapi satu yang bikin katong agak hati-hati juga. Ini belajar dari pengalaman. Banyak yang datang penelitian lalu hilang. Hasil penelitiannya tidakdibawa pulang ke sini. Skripsi dan tesisnya tidak dikirim ke sini,” urai Dicky mengemukakan alasan.

Lembaga Funding
Untuk membangun komunitas ini menurut Dicky selain menggunakan tabungan pribadi, dia mengaku menggunakan modal sosial yang ia bangun selama ini dengan teman-teman masa kuliah hingga saat ini.
“Saya akhirnya ajak kawan-kawan agar punya kesadaran untuk merawat modal sosial itu. Berteman dengan teman-teman sekalian itu juga menurut saya juga kita tidak tahu berapa tahun ke depan kita saling membantu atau bisa saling support, bisa jadi support system paling tidak. Bukan soal materi atau apa tapi bisa dukungan dan segala macam,” urai Dicky.
Komunitas ini juga dalam 3 tahun atau 4 tahun terakhir ini mulai dilirik lembaga funding yang melihat konsistensi mereka.
“Nah kami beruntung tiba-tiba ada lembaga funding namanya Voice. Voice itu kemudian ada satu titik mereka merasa mereka perlu memberi ruang bagi komunitas-komunitas akar rumput,” ujar Dicky.
Komunitas ini memang tidak memiliki badan hukum dan memang tidak punya kapasitas untuk menjadi satu organisasi seperti LSM, tapi Voice tahu bahwa organisasi akar rumput ini memang bekerja tapi ada kendala bahwa uang itu tidak bisa diberikan secara langsung kepada komunitas ini. Tapi Voice perlu mendukung mereka untuk membangun kapasitas mereka sendiri sehingga bisa mandiri.
“Akhirnya tahun 2021 itu kami didukung voice tapi memang harus lewat NGO dan RMI. Kami merasa Voice memberi ruang yang sangat besar untuk kami. Memang uangnya lewat LSM tapi dipastikan bahwa kami menerima uang itu dengan full tanpa dipotong oleh NGO dan kami mengelola sendiri uang itu. Kami juga di-support untuk pengembangan terkait dengan leadership dan finance,” urai Dicky.
Baca juga: #SamaSamaAman: Memotret Upaya Sekolah di Kupang Atasi Kekerasan Dipicu Media Sosial
Membuat Koperasi Untuk Anggota Komunitas
Setiap mendapatkan uang dari lembaga funding, para anggota komunitas itu selalu menyimpan uangnya di koperasi. Seperti contoh ketika anggota komunitas ini mendapatkan uang dari Voice yang mana uang tersebut adalah uang pengganti transportasi dan upah untuk riset. Uang itu akan dimasukkan ke koperasi.
“Kami berupaya seminimalisir mungkin untuk mengubah perspektif mereka bahwa di Lakoat memang kamu punya hak atas uang itu tapi kami bersepakat sejak awal dengan semua anggota bahwa uang-uang yang di Lakoat hak-mu tidak diberikan 100%. Uangmu masuk koperasi tapi sewaktu-waktu bisa ambil uang itu untuk beli sepatu, beli seragam, bisa berobat atau untuk biaya kuliah,” kata Dicky.
Anggota-anggota komunitas yang masih berusia remaja seperti Findy, Indy, Resi dan yang lainnya itu memiliki tabungan yang cukup dan sewaktu-waktu mereka bisa menggunakan uang itu untuk membeli kebutuhan pribadi. “Mereka bisa menggunakan uang itu untuk beli sepatu dan beli pulsa internet untuk kerja tugas. Mereka sangat terbantu dengan tabungan di koperasi tersebut.
Beasiswa Untuk Anggota Komunitas
Saat ini Komunitas Lakoat Kujawas sedang mengembangkan model beasiswa tapi dengan syarat bagi yang mendapatkan beasiswa harus bergiat di komunitas ini. “Findy, Desi, Ensi dan 4 orang lainnya kami carikan beasiswa tapi dengan syarat mereka harus bergiat di komunitas, support komunitas dan insentif yang mereka dapatkan adalah komunitas akan mendukung biaya pendidikan mereka,” ujar Dicky. Komunitas Lakoat Kujawas melakukan fund raising untuk mengumpulkan uang yang nantinyadigunakan untuk membiayai pendidikan 7 anak yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi.
“Katong bikin fund raising jadi kawan-kawan Lakoat di Jakarta dan ada yang di luar negeri. Teman-teman yang memang su ikuti Lakoat sejak awal. Dong kek punya nilai su sepahamlah nilai dan visi jadi dong menyisihkan setiap bulan, dong patungan, yang uang itu dong kolektif dan kemudian share ke 7 orang itu,” urai Dicky.
Baca juga: Tiga Perempuan NTT Ubah Perspektif Maskulinitas dalam Cegah Bencana
Pembagian Anggota Untuk Mengikuti Kegiatan di Luar
Di Komunitas Lakoat Kujawas ini ada pembagian untuk para anggota yang akan mengikuti
kegiatan di luar daerah maupun dalam skala nasional. “Kami selalu mempertimbangkan untuk prosesnya adil. Keadilan dan kesetaraan itu juga kami bentuk di dalam misalnya kesempatan-kesempatan anggota komunitas ketika ada undangan,” ujar Dicky.
Seperti contoh ketika akan menghadiri Makassar International Writers Festival tahun 2024 itu anggota komunitas ini berembuk untuk menentukan siapa saja yang berangkat. “Kemarin ke Makassar kita juga berembuk untuk memastikan dari anak-anak siapa yangmewakili. Oke, Felisia dan Rio. Dari orang muda siapa yang mewakili? Oke, Yeni dan Findy. Dari orangtua siapa yang mewakili? Mama Fun,” urai Dicky menjelaskan.
Semua anggota komunitas duduk bersama, bersepakat untuk menentukan kapasitas, kearifan dan sesuai dengan undangannya terkait dengan apa . Bahwa semua bisa didiskusikan secara baik ketika kesempatan-kesempatan itu datang.
“Misalnya kemarin dari Purplecode yang isunya tentang feminis, Indy yang mewakili karena memang kita kaderkan dia untuk fokus ke isu feminis dan perempuan. Kemarin ketika sesi di Makassar dengan Kak Olin Monteiro tentang gerakan perempuan yah sudah Findy yang maju,”ujar Dicky.
Tahun Pertama Membiayai Semua Program
Tahun ini adalah tahun pertama komunitas ini berkomitmen untuk membiayai semua
programnya. Biaya berasal dari project-project riset yang mereka lakukan selama ini dengan RMI dan beberapa NGO untuk penelitian. “Lakoat tuh misalnya diminta untuk jadi fasilitator dan segala macam itu katong menabung dari situ sedikit-sedikit. Katong juga punya unit usaha, katong bikin Mnahat Fe’u, jualan paket-paket kayak kemarin dan segala macam katong berupaya tapi selebihnya membiayai dari swadaya,” urai Dicky.
Komunitas ini tidak memungkiri membutuhkan dukungan dari luar tetapi mereka tidak ingin dukungan dari luar mematikan tanggung jawab yang ada di dalam komunitas. “Dalam artian begini katong bikin kegiatan ini yah tentu saja Lakoat punya safety untuk beli kue tapi kalau ada mama-mama yang sumbang ubi, sumbang jagung, kenapa tidak? Karena itu yang terus katong jaga dan rawat,” kata Dicky.
Rasa memiliki dan rasa peduli terhadap komunitas yang ingin mereka pupuk dan rawat. Rasa memiliki tersebut mungkin tidak dalam bentuk barang tapi dalam bentuk tenaga. “Menurut beta katong jangan terjebak di dalam pemikiran bahwa operasional gerakan itu hanya uang saja. Tidak selalu uang saja. Operasional gerakan itu bisa tenaga, ide, pemikiran, support jagung, pisang dan ubi. Itu juga operasional gerakan. Jadi tidak melulu hanya soal cash kalaumenurut beta sih,” tegas Dicky.
Baca juga: #PerempuanRawatBumi: Belajar Pangan Lokal dari Sekolah di Soe

Mengenalkan Isu Human Trafficking dan Kekerasan Seksual Pada Anggota Komunitas
Dalam komunitas ini Dicky sebagai founder-nya mengenalkan isu human trafficking dan Kekerasan seksual pada anggota komunitas yang masih remaja dan anak-anak. Alasan mengapa Dicky mengenalkan dua isu penting ini bagi anak-anak karena sebagian besar anggota komunitas ini orangtuanya adalah pekerja migran. Beberapa anggota komunitas ini juga pernah mengalami kekerasan seksual. Ada yang mengalami percobaan perkosaan oleh Om-nya, dari kakak sepupunya dan dari keluarga inti di rumah. Itu semua terjadi karena mamanya sedang berada di Malaysia dan Singapura sehingga anaknya dititipkan ke neneknya maupun om-nya.
“Untuk anak-anak yang masih tinggal dengan nenek dan om itu juga rentan karena itu juga persoalan keluarga dan segala macam, persoalan ekonomi juga, orang tua harus pergi ke Malaysia, misalnya. Kami pernah berhadapan dengan beberapa kasus dan belajar dari kasus- kasus itu jadi kami sudah tahu harus melakukan apa ketika terjadi kekerasan seksual,” urai Dicky.
Dicky mengenalkan isu human trafficking pada anak-anak ini tidak dalam bentuk konsep-konsep apa itu human trafficking tapi lebih kepada membentuk kesadaran dan pemikiran-pemikiran. “Mereka mengalami dan mereka korban juga. Saya tidak bilang bahwa kamu ini korban human trafficking. Tidak juga tapi bagaimana membangun soal berdaya, soal identitas, soal rasa bangga tinggal di tanah sendiri. Soal bagaimana menghargai potensi lokal yang ada. Itu menurut saya juga salah satu pendekatan supaya punya cara pandang,” urai Dicky. Mengubah cara pandang terkait kampung itu sangat penting karena selama ini menurut anggapan orang kampung itu tidak punya harapan. Kampung itu tidak punya apa-apa sehingga semua orang ingin pergi ke Malaysia. Dalam mata orang-orang, Malaysia itu seperti punya harapan.
“Justru pola pikir seperti itu yang ingin kita bongkar dengan literasi, edukasi dan seni budaya. Tidak dengan katakan ‘oh mamamu TKW, kamu jangan ikut mamamu’. Bukan seperti itu tapi dengan bagaimana kita membangun kesadaran identitas rasa bangga sebagai orang Mollo dan memahami potensi yang ada di sekitar kita,” ujar Dicky.
Hal-hal itulah menurut Dicky bisa jadi solusi supaya human trafficking jangan terjadi lagi. Selain itu mengenalkan berbagai jenis pekerjaan yang lain pada anak-anak sehingga saat dewasa nanti mereka tidak memilih jadi pekerja migran. Selain itu, salah satu hal untuk menghindarkan anak- anak dari kekerasan seksual adalah membuat SOP. Hal ini dipelajari Dicky dari berbagai pengalamannya bergabung dengan NGO yang bekerja untuk anak-anak.
“Beta cukup beradaptasi dengan bagaimana mereka bikin SOP. Dulu beta jadi konselor pendidikan dan belajar untuk bikin SOP. SOP itu katong kembangkan di Lakoat,” urai Dicky. Selain itu, komunitas ini juga sering mengundang komunitas lain yang peduli dengan bagaimana cara menghindari kekerasan seksual seperti Komunitas Lowewini dan Women March yang berasal dari Kupang.
“Berapa kali katong undang Linda Tagie dan kawan-kawan Lowewini untuk mengisi kelas. Katong kayaknya sudah sekitar lima kali bikin pelatihan terkait dengan kekerasan seksual, konsep-konsep bahkan konsep gender yang paling dasar kemudian masuk ke isu-isu kekerasan berbasis gender online,” kata Dicky.
Anggota komunitas ini yang usia remaja dan anak-anak sudah paham soal apa itu otoritas tubuh. Paham soal bagian-bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Anak- anak ini juga belajar jika suatu saat ada orang yang memegang bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh itu maka mereka sudah tahu hal apa saja yang harus dilakukan. “Mereka sudah paham soal itu. Harus lapor ke siapa, harus minta tolong ke siapa dan siapa di Lakoat yang jadi ruang aman,” ujar Dicky.
Baca juga: Anak NTT Banyak Derita Kekerasan Psikis
Mimpi Besar Untuk Komunitas
Beberapa waktu lalu komunitas ini kedatangan kawan-kawan dari Sokola Rimba yang berasal dari Jambi. Orang-orang Rimba itu datang residensi di komunitas ini dan mereka saling bertukar metode pendekatan dan cara bikin model pendidikan kontekstual. Orang-orang Rimba ini datang ke komunitas ini karena salah satu yang mereka lihat adalah bahwa Komunitas Lakoat Kujawas ini fokus ke pengetahuan adat.
“Salah satu yang mereka lihat sebagai komunitas yang juga fokus ke pengetahuan adat makanya mereka datang dan tinggal di sini. Ada 3 orang teman dari Orang Rimba mereka datang tinggal di sini untuk belajar model pendidikan kontekstual di sini. Mereka sharing punya mereka dan kami juga sharing punya kami. Kami juga belajar dari mereka,” ujar Dicky. Salah satu hal yang belum pernah komunitas ini buat adalah membuat modul.
“Mereka sudah sampai ke tahap bikin modul tapi mereka juga belajar dari kami soal metode- metode ruang kelas yang bisa di mana saja sementara mereka selama ini hanya bangun ruang. Mereka punya sekolah sendiri di tengah hutan,” urai Dicky.
Selain itu salah satu hal yang belum dicapai oleh komunitas ini adalah membuat video untu kkeperluan promosi di sosial media. “Saat ini kami masih belum banyak dokumentasi video karena memang itu kami punya keterbatasan dalam hal kawan-kawan yang memang fokus ke situ dan memang diarahkan untuk ke sana. Itu jadi PR untuk kami,” ujar Dicky.
Harapan Dicky untuk komunitas ini ke depannya adalah dirinya berharap 20 tahun ke depan sudah ada generasi pertama yang memimpin. “Beta bayangkan Findy, Fun, Olland dan semua yang gabung di Lakoat pertama kali mereka sudah jadi Kepala Desa, Camat, mereka sudah jadi Romo, mereka sudah jadi tokoh adat. Jadi budayawan, jadi peneliti, penulis, kerja di dinas dan jadi anggota DPR,” kata Dicky. *****



