Pengacara Korban KDRT Erikh Mella Sebut Kompolnas Baru Bangun Tidur, Ini Alasannya

Ricky D. J. Brand, Pengacara keluarga korban KDRT dengan tersangka Erikh Benydikta Mella sebut Kompolnas baru bangun tidur dalam penanganan kasus tersebut (KatongNTT)

Ricky D. J. Brand, Pengacara keluarga korban KDRT dengan tersangka Erikh Benydikta Mella sebut Kompolnas baru bangun tidur dalam penanganan kasus tersebut (KatongNTT)

Kupang – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) meminta keluarga Linda Brand, korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) mengadukan penanganan kasus tersebut. Pasalnya penangan kasus tersebut sudah berjalan 9 tahun lebih.

Anggota Kompolnas, Poengky Indarti kepada KatongNTT mengatakan, pengaduan dari keluarga tersebut perihal kinerja penyidik Polresta Kupang Kota. Kasus KDRT yang menewaskan Linda Brand pada April 2013 dilaporkan oleh kakak kandung korban, John O. P. Brand ke Polresta Kupang Kota. Laporan tersebut tercatat dengan nomor LP/B/299/IV/ Polres Kupang Kota.

“Pengaduan dari keluarga penting mengingat lamanya proses penyidikan kasus dari 2013 hingga sekarang,” kata Poengky, Kamis (1/9/2022).

Penyidik Polresta Kupang Kota menetapkan suami korban, Erikh Benydikta Mella sebagai tersangka pada 2019. Erikh diduga melakukan KDRT yang berujung pada meninggalnya sang istri.

Meski sudah memiliki tersangka, kasus ini belum kunjung disidangkan. Berkas perkara ini pun beberapa kali dikembalikan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Kupang.

Baru pada Jumat (26/8/2022), berkas perkara ini kembali dilimpahkan ke kejaksaan. Kasie Intel Kejari Kota Kupang, Rindaya Sitompul mengatakan, selama 2018 hingga 2021 tidak perkembangan penanganan pasca berkas perkara dikembalikan oleh jaksa dengan petunjuk untuk dilengkapi.

Surat Perintah Dimulai Penyidikan (SPDP) baru dikirimkan kembali ke kejaksaan pada 23 Juli 2022. Dalam catatan Kejari Kota Kupang, berkas perkara tersebut diterima pada 29 Agustus 2022.

Lamanya proses penyidikan, kata Poengky yang menjadi perhatian Kompolnas saat ini. Pihaknya akan meminta klarifikasi ke Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) terkait penanganan kasus ini.

Belum adanya perkembangan kasus sampai ke pengadilan, meski sudah ada tersangka tidak memberikan kepastian hukum bagi keluarga korban. Poengky meminta kepada penyidik di Polresta Kupang Kota untuk bersikap profesional dan bertindang cepat dalam mengungkap kasus ini.

“Penyidik tetap harus bertanggungjawab untuk mengungkap kasus ini,” kata Poengky.

Menanggapi permintaan Kompolnas, kuasa hukum pelapor, Ricky D. J. Brand mengatakan, surat mereka sudah berkali-kali ditembuskan ke kompolnas. Menurutnya, sejak awal ditunjuk sebagai kuasa hukum keluarga, dalam setiap surat yang dikirimkan ke Polresta Kupang Kota selalu ditembuskan ke Kompolnas.

Ricky menyayangkan sikap Kompolnas yang seakan tidak mengetahui kasus ini. Surat yang berkali-kali dikirimkan tidak ditanggapi.

“Kompolnas baru bangun tidur. Kompolnas hanya menjadikan surat-surat saya sebagai ganjal tidur,” ujar Ricky.

Kendati demikian, Ricky mengatakan sudah menyiapkan surat untuk dikirimkan ke Ketua Harian Kompolnas. Tujuannya adalah meminta bertemu untuk menyampaikan laginperihal kasus tersebut.

“Saya sudah siapkan data-data semua. Dan harusnya Kompolnas malu, karena sudah bertahun-tahun saya tembuskan ini pada mereka,” tegasnya.

Ricky berterima kasih akhirnya Kompolnas menanggapi persoalan ini dan akan meminta klarifikasi ke Polda NTT.

Erikh Benydikta Mella, tersangka dalam kasus ini baru dilantik oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menjadi Plt Kepala Biro Umum Setda NTT. Ia menggantikan Kepala Biro Umum Setda NTT, George Hadjoh yang dilantik jadi Penjabat Wali Kota Kupang. *****

Baca juga: Penanganan Kasus KDRT Istri Erikh Mella Sarat Kejanggalan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *