Pengrajin Tenun Sumba Kehilangan Pembeli

Seprianus-Umbu-Remi-Dawu-Penanggung-jawab-Rumah-Tenun-Atma-La-Kanatang-wadah-pengrajin-tenun-Sumba-Jumat-27-Agustus-2021(Al-KatongNTT.com)

Seprianus-Umbu-Remi-Dawu-Penanggung-jawab-Rumah-Tenun-Atma-La-Kanatang-wadah-pengrajin-tenun-Sumba-Jumat-27-Agustus-2021(Al-KatongNTT.com)

Pengrajin tenun Sumba yang bernaung di bawah Rumah Tenun Atma La Kanatang kehilangan pembeli dipicu pandemi Covid-19. Mobilitas masyarakat menjadi lebih terbatas untuk datang membeli tenunan.

Upaya para pengrajin tenun Sumba untuk berjualan menggunakan media sosial belum cukup membantu.

Penanggung jawab Rumah Tenun Atma La Kanatang, Seprianus Umbu Remi Dawu, (32) menyampaikan hal ini pada Jumat, 27 Agustus 2021.

“Sebelum pandemi, banyak kain penenun yang sudah dipesan sebelum selesai ditenun, bahkan ada yang kasih uang muka. Tetapi sekarang kami tenun sampai selesai, tidak ada pembeli,” kata Seprianus.

Kain tenun Sumba yang disediakan oleh para penenun Atma La Kanatang ini berupa selempang, sarung dan kain dengan kualitas terbaik.

Semua kain tenun menggunakan 100 persen pewarna alam dan dijamin warna kainnya tidak luntur saat dicuci.

Proses pembuatan setiap lembar kain tenun Sumba membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Kalau kain dengan warna biru paling cepat enam bulan, sedangkan kain warna merah paling cepat satu tahun dua bulan baru jadi,” tuturnya.

” Karena harus dicelup warna biru dulu, baru diikat untuk warna merahnya lagi.”

Hal inilah yang membuat harga jual kain tenun Sumba di Rumah Tenun Atma La Kanatang menjadi lebih mahal dibandingkan di tempat lain di Provinsi NTT.

“Paling murah selempang kita jual dengan harga Rp 600 ribu, sedangkan kain merah itu ada yang kami jual dengan Rp 6 juta per lembar,” jelas Seprianus.

Mengenai akses pasar, Seprianus menuturkan PPKM level IV di Sumba membuat pembeli dari luar Sumba menjadi sepi.

“Biasanya pembelinya dari Jakarta, Medan, Surabaya dan kota lain di Indonesia, bahkan dari luar negeri. Dengan pandemi dan PPKM ini, kami benar kehilangan pembeli,” ujarnya.

Seprianus menambahkan ,Rumah Tenun Atma La Kanatang mewadahi 294 pengrajin tenun Sumba di sejumlah desa yang ada di Kecamatan Kanatang.

Setiap hasil tenun yang selesai dikerjakan dan belum terjual akan disimpan di rumah tenun untuk dipasarkan melalui sejumlah aplikasi media sosial.

“Kami jual melalui media sosial, tetapi masih cukup rendah jika dibandingkan dengan sebelum pandemi,” tutur Seprianus. (Al)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *