Penguatan Biosekuriti Australia dan Kegagalan Indonesia dalam Konsolidasi Kawasan

Ilustrasi kabel Laut Timor (Ist)

Ilustrasi kabel bawah laut Australia-Singapura (Ist)

Oleh: Ermalindus Sonbay, Siswa Rumah Belajar NTT tinggal di Melbourne

Setelah diancam dengan penyakit kuku dan mulut (PMK) atau Foot and Mouth Disease (FMD), Pemerintah Australia kembali dalam tiga bulan terakhir memperketat zona-zona masuk, termasuk kebijakan impornya. Australia menjaga penyebaran penyakit, wabah, virus dan kejanggalan hama pada hewan, tumbuhan dan manusia yang dibawa dari pelbagai belahan dunia. 

Pengetatan kebijakan ini (konon) juga adalah salah satu cara pemerintah Australia menjaga keanekaragaman hayati termasuk plasma nuftah aslinya yang khas. Dan,  sebagai tempat bermukimnya begitu banyak spesies makluk hidup.

Sanksinya berupa denda uang dan peringatan keras. Salah satu klausul yang sangat ‘menakutkan’ bagi para pengunjung rumah kanguru ini adalah dicabutnya izin berkunjung (visa) segala jenis. Pencabutan visa ini jika terbukti ada pelanggaran pada poin-poin yang sudah ditetapkan pemerintah melalui kerja kolektif Departemen Pertanian dan Perairan, Imigrasi dan Bea Cukai, Karantina dan ragam stakeholder lainnya yang bertanggung jawab terhadap tema ini. Deportase dan larangan masuk Australia keras dan tegas.


Kegagalan Diplomasi

Diplomasi sejatinya adalah lobi, dialog dan seni berhubungan antara dua atau lebih negara. Salah satu level pamuncak dari diplomasi adalah terkondisinya ruang bagi sebuah negara untuk jujur mengakui kekeliruan, kekhilafan, hingga penindasan dan penjajahan yang sudah pernah dilakukan.

Dalam hubungan yang ‘kurang seimbang’ antara Indonesia dan Australia, ada celah yang bisa didefinisikan sebagai corak kegagalan Indonesia membangun diplomasi yang mutual dengan Australia.

Hal ini tentunya berhubungan dengan banyak hal. Dua negara ini harus bisa memaksimalkan hegemoni di kawasan Asia Pasifik. Sekalipun dalam banyak hal Indonesia tertinggal, tapi peluang dan kemungkinan Indonesia menyalip Australia terbuka lebar.

Pergeseran tata ekonomi-politik di begitu banyak kawasan yang berinduk pada semakin kerdilnya platform ekonomi Amerika Serikat-NATO-Eropa di satu sisi. Dan menguatnya relasi ekonomi a la China-Rusia dan kolega-koleganya di Asia, Afrika, Eropa Timur, Amerika Selatan turut menjadikan balapan Indonesia dan Australia di Asia Pasifik menjadi seksi.

Akan tetapi begitu banyak soal yang tidak selesai dijawab, justru ada di Indonesia. Dalam perjudian ini, Indonesia memiliki begitu banyak ‘kartu mati’ yang mendiskreditkan negara ini untuk semakin jauh dari kemenangan. Kasus celah Timor, instalasi kabel bawah laut, perairan selatan, hingga intervensi senyap di wilayah Indonesia Timur dan banyak hal lain.

Dalam beberapa hal Indonesia tidak didikte langsung. Tapi, terbanyak Indonesia hanya menempatkan diri sebagai pemeran skenario yang dirancang oleh Australia yang selama sekian waktu menginduki Amerika Serikat, NATO, Eropa Barat, dan aliansi sisipan Asia (Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan lainnya).

Hegemoni Indonesia sebagai bangsa yang besar belum kuat dan belum signifikan di kawasan Asia Pasifik. Dominasi China-Rusia di Utara dan manuver-manuver Australia dan saudaranya Selandia Baru di Selatan seolah-olah menjepit Indonesia yang untuk sekian waktu dinilai terlalu pasrah.


Contoh Kecil dari Timor

Chromolaena Odorata (Eupatorium Odoratum) atau rumput minjangan/sejenis gulma, atau bahasa keren di Timor (khususnya dalam Suku Dawan) Pankase Muti atau Sufmuti. Gulma ini terlepas dari semua fungsi positifnya, adalah salah satu penghancur utama plasma nuftah dan ruang habitat utama Sapi asli Timor (dikenal sebagai Sapi Bali atau Bos Javanicus). Gulma yang akan menghancurkan habitat asli bagi tempat tumbuhnya rumput-rumput khas Timor ini telah jauh dari penelitian ilmiah dan standar-standar biosekuriti Indonesia.

Karena apa? Gulma ini dibawa dan diperkenalkan sebagai salah satu varietas dalam penghancuran ilalang di Timor, tetapi juga ada tujuan terselubung yakni pemberangusan kejayaan sapi Timor.

Sejak awal abad 20 (1911-1940) Kolonial Belanda mengembangkan ratusan ribu indukan sapi di Timor dan berhasil. Pada fase 1940-1980 begitu banyak pembelajar dari Australia datang dan belajar mengenai kesuksesan pengembangan sapi di Timor. Ketika itu jangankan peternakan skala besar, peternakan skala rumahan saja belum kuat dan massif di Australia.

Alih-alih belajar, begitu banyak peneliti ini “iseng” juga menajamkan pertumbuhan gulma Pankase Muti/Sufmuti ini di Timor. Hasil akhirnya, mereka sukses belajar dan sukses mengembangkan peternakan megaindustri yang mendunia. Sedangkan, orang-orang Timor sukses mendulang Sufmuti sembari merayakan terdegradasinya sapi Timor dari waktu ke waktu.

Australia makin digdaya dan Indonesia makin terjepit. Pengawasan akan diri dan tubuh geografis Indonesia yang tidak ada lagi menyebabkan selain tidak berdaya di negara sendiri. Peluang diplomasi dan negosiasi Indonesia juga menjadi semakin sempit. Susah di dalam dan tidak bisa keluar.

Formula-formula pembelajaran yang berhasil di Timor kemudian dikembangkan dengan temuan dan kegigihan pembelajarnya di banyak tempat. Akhirnya terbentuklah skema industrialisasi yang besar khususnya di sektor pertanian dan peternakan.

Jalan diplomasi yang diharapkan bisa dikedepankan Indonesia sebagai salah satu celah meminta kejujuran akademik dari Australia menjadi lemah dan lamban. Karena apa? Begitu banyak diplomat dan pengurus urusan luar negeri Indonesia tidak paham tentang konteks geopolitik dan ekonomi politik yang berkembang. Bahkan mereka-mereka ini tidak pernah mengerti apa itu biopolitik bagi diri mereka sendiri. Dan kelemahan ini tentunya akan semakin menjauhkan Australia dari apa itu kejujuran akademik. 

Boleh jadi menurut mereka, Indonesia tidak mengerti persoalan yang ada. Atau sekalipun mereka jujur secara akademik tentang sengkarut biosekuriti dan plasma nuftah yang ada, toh diplomat-diplomat Indonesia sudah tidak peduli dengan hal-hal tersebut.

Dengan rentetan kelemahan yang terus bersambung bagai domino ini, tentunya peluang Indonesia untuk “angkat kepala tegak” di kawasan Asia Pasifik akan semakin sulit hari demi hari. Karena, alih-alih mengerti dan berjuang untuk membangun konsolidasi yang lebih manusiawi di Asia-Pasifik, mengerti situasi dalam negeri saja masih sangat sulit.

Dan persis di sini, Indonesia bahkan tidak bisa menjadi setengah Australia saja dalam soal kebijakan biosekuriti. Karena jangankan konsep-konsep fundamental dalam biosekuriti dan pentingnya barang ini bagi kemanusiaan, tentang apa itu konservasi dan penyelamatan ruang hidup saja, masih banyak politisi di Indonesia khususnya di NTT yang mendefenisikannya sebagai uang. Cilaka dua belas. *****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *