• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Senin, Agustus 17, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Opini

Potensi yang Terabaikan (Catatan Perjalanan)

Tim Redaksi by Tim Redaksi
4 tahun ago
in Opini
Reading Time: 5 mins read
A A
0
Pantai Kolbano, salah satu potensi pariwisata yang dimiliki Kabupaten TTS (katongNTT)

Pantai Kolbano, salah satu potensi pariwisata yang dimiliki Kabupaten TTS (katongNTT)

0
SHARES
491
VIEWS

Saya sebenarnya tidak terlalu suka untuk difoto. Tapi dalam kunjungan ke Kecamatan Kot’olin beberapa hari lalu, saya terdorong untuk mengabadikan gambar ini.

Sebenarnya yang menjadi dorong itu adalah pemandangan ke arah lepas pantai Kolbano yang begitu menakjubkan.

BacaJuga

Saling Cuci Tangan Hadapi Penolakan Bendungan Kolhua

Jokowi ke NTT : Dengarkan Kegelisahan Rakyat, Jangan Hanya Urus Partai

31 Juli 2026

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

13 April 2026

Bisa dilihat dalam foto ini (jangan lihat wajah saya, hehehe), ada hamparan seperti pasir putih yang begitu indah. Namun sebenarnya itu adalah batuan berwarna-warni yang menjadi keunikan pantai Kolbano.

Sangat eksotis memang. Pantai dengan batuan berwarna-warni, yang bukan hanya sekedar jadi tempat refreshing, namun menjadi lahan bagi masyarakat setempat mengais rezeki.

Untuk sampai ke lokasi ini, harus melalui perjalanan yang cukup melelahkan bila Anda berangkat dari Kota Kupang, Ibu Kota Provinsi NTT.

Saya search di google, jarak Kota Kupang ke pantai Kolbano itu 149, 6 km. Waktu tempuh dengan mobil (dalam catatan google maps) 3 jam 32 menit. Bila menggunakan kendaraan roda dua, waktu tempuhnya 3 jam 27 menit. Tentu waktu tempuh ini akan ditentukan oleh laju kecepatan kendaraan Anda, bisa lebih cepat bisa lebih lambat dari yang saya dapatkan di google maps.

Saya ditemani seorang teman, namanya Daud. Kami menempuh perjalanan dari Kota Soe, Ibu Kota Kabupaten TTS, melalui jalur Oinlasi menuju Kecamatan Kot’olin. Dari Kecamatan Kot’olin, saya melanjutkan perjalanan kembali ke Soe melalui jalur Kolbano.

Dari SoE ke Oinlasi, jalannya masih aspal meski di beberapa titik terdapat jalan berlubang. Sampai ke Belle 2, jalannya masih aspal dan mulus. Kami harus lebih berhati-hati saat memasuki Belle 1. Kondisi jalanan banyak batu-batu lepas dan bekas-bekas jalan aspal yang terkelupas dan sedikit saja yang tersisa.

Kondisi salah satu ruas jalan menuju ke Desa O’obibi dari arah Desa Belle yang sudah terkikis oleh arus air hujan (Joe-KatongNTT)

Perlu perjuangan untuk bisa sampai ke Kot’olin. Harus mendaki dan menurun dengan kondisi jalan rusak. Bila belum lincah mengendarai sepeda motor atau baru pertama kali melalui jalan seperti ini harus ekstra hati-hati.

Sepanjang perjalanan, saya mengamati kekayaan alam yang dimiliki beberapa tempat seperti Belle 1 dan Belle 2, kemudian beberapa Desa lainnya sampai Desa O’obibi. Tempat-tempat yang saya sebutkan di atas adalah daerah-daerah yang subur, dengan potensi air yang melimpah.

Warga tidak kesulitan air bersih. Bak Pamsimas di mana-mana. Saya melihat tanaman pisang dengan daun-daun yang subur, kelapa dan pinang tumbuh berdampingan.

Meski sepintas, namun saya bisa menyimpulkan, daerah ini sangat subur. Sayangnya, akses jalan belum sebagus daerah-daerah lain. Akibatnya, hasil pertanian masyarakat pastinya dijual murah karena biaya transportasi yang cukup besar untuk mencapai daerah-daerah itu.

Tanaman pertanian di Desa Belle, Kecamatan Kie, Kabupaten TTS (Joe-KatongNTT)

Seorang Lelaki berusia sekitar 60-an tahun di Dusun Bes’ao, Desa O’obibi membenarkan dugaan saya. Lelaki itu bernama Osias Missa. Rumahnya tidak jauh dari gunung Bes’ao dan berbatasan dengan SDN Bes’ao.

Osias bercerita, hasil pertanian mereka biasanya dijual murah kepada orang-orang yang membeli langsung di kampung mereka. Dengan berat hati, mereka harus menjual dengan harga murah. Tidak ada pilihan lain.

Saya bertanya pada Osias, harga jual alpukat di Desa itu berapa. Dengan nada yang berat, Lelaki tua itu menjawab hanya Rp. 25.000,-.

Jika memaksa untuk menjual di pasar Oinlasi misalnya, mereka akan rugi karena biaya transportasi yang terbilang mahal.

“Kalau kami ojek ke pasar Oinlasi itu lima puluh ribu. Kalau pergi pulang seratus ribu. Kalau dengan pickup kadang empat puluh ribu atau tiga puluh lima ribu. Itu belum lagi kembali ke rumah,” kisah Osias menggunakan bahasa Dawan.

Cerita Osias itu tidak bisa dipungkiri. Saya merasakan perjuangan melewati setiap tanjakan yang berkelok-kelok. Dengan kondisi jalan sirtu yang sudah terkikis aliran air hujan.

Dari Bes’ao kami ke Kot’olin. Masih dengan suasana yang sama. Jalan yang rusak, tapi potensi sumber daya alam melimpah. Sungguh miris.

Dari Kot’olin kami kembali ke SoE melalui jalur Kolbano. Sebelum sampai ke Kolbano, saya minta untuk mengambil beberapa gambar. Salah satunya yang adalah foto di atas.

Saya sangat takjub dengan potensi alam di TTS. Bukan sesuatu yang rahasia lagi, TTS memang dikenal punya banyak spot wisata. Dan pantai Kolbano salah satunya.

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, tidak ada salahnya bila berhenti sejenak melepas penat. Sambil menghisap rokok, perlahan saya menatap sekeliling, menikmati lukisan Sang Khalik yang begitu indah.

Maria Kase dan ponakannya Citra Kase memilih batu warna-warni di pantai Kolbano untuk dijual (Joe-KatongNTT)

Saya menghampiri Mama Maria Kase bersama ponakannya, Citra Kase yang sedang memilih batuan berwarna-warni untuk dijual. Proses memilih batu warna-warni ini membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

Untuk mendapatkan sekarung batu, perlu waktu berjam-jam karena harus dipilih sesuai warna dan ukuran. Namun, kata Mama Maria, harga jualnya tak sebanding dengan usaha mereka.

Setelah cukup beristirahat dan bercerita dengan warga yang memilih batu warna-warni, saya mencoba mencari apa yang masih kurang dari pengelolaan wisata pantai Kolbano. Hal pertama yang saya temui adalah sampah yang berserakan.

Memang di lokasi pantai Kolbano tidak ada satu pun tempat pembuangan sampah. Banyak gelas air mineral, bekas bungkusan nasi, bungkus rokok dan sampah lain dibiarkan begitu saja.

Pesona Pantai Kolbano dengan batuan berwarna-warni ternodai oleh sampah yang berserakan (Joe-KatongNTT)
Tampak gelas air mineral berserakan diatas batuan berwarna-warni di pantai Kolbano (Joe-KatongNTT)

Di pintu masuk pantai Kolbano, tidak terlihat seorang pengelola. Atau memang lokasi itu dibiarkan tanpa pengelola, saya juga belum tahu.

Dari sampah, saya mencari toilet di sekitar lokasi. Tidak ada satu pun toilet. Saya berpikir, mungkin pengunjung yang butuh ke toilet harus meminjam atau menyewa di rumah warga.

Kekaguman yang semula menggebu-gebu dalam dada, mulai bercampur dengan berbagai pikiran tentang potensi yang terabaikan ini. Meski itu tidak sepenuhnya menghilangkan rasa kagum saya pada indahnya alam Kolbano, namun pikiran itu selalu terbayang. Apakah tidak mungkin dikelola dan dimanfaatkan dengan baik potensi yang sangat besar ini? (K-04)

Tags: #Batuanwarna-warni#Bes'ao#DesaO'obibi#KecamatanKot'olin#pantaikolbano#sampahdipantaikolbano
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Saling Cuci Tangan Hadapi Penolakan Bendungan Kolhua

Jokowi ke NTT : Dengarkan Kegelisahan Rakyat, Jangan Hanya Urus Partai

by Rio Hermanus
31 Juli 2026
0

Katangan Joko Widodo ke Nusa Tenggara Timur (NTT), yang salah satunya diisi dengan agenda Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Partai Solidaritas...

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

by Gerardus Taena
13 April 2026
0

Konsep komunio merupakan salah satu pilar teologis yang mendasar dalam diskursus kekristenan, terutama dalam konteks Gereja dan kehidupan religius. Dalam...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati