Potret Keseharian Penjual Peti Mati di Kota Kupang

Melki Banab, penjual peti mati di Kota Kupang mengatakan, peti mati termahal seharga Rp 5 juta dan peti mati terbanyak dijual seharga Rp 1,7 juta.

Melki-Banab-penjual-peti-mati-di-Kota-Kupang-NTT. (Ra)

Melki-Banab-penjual-peti-mati-di-Kota-Kupang-NTT. (Ra)

Ruangan itu penuh sesak dengan beragam peti mati. Pintunya tidak pernah tertutup. Sudah berlangsung begitu sejak Melki Banab tinggal di situ empat bulan lalu. Tidak dia tinggalkan ruangan itu seharipun.

Memang benar, soal kematian tidak seorang pun tahu termasuk lelaki asal Oinlasi ini. Rolling door atau pintu gulung tempat penjualan peti mati itu selalu terbuka. Tamu yang berkabung sewaktu-waktu bisa muncul mencari peti mati. Mereka yang datang akan masuk membangunkannya jika ia terlelap.

Pada Jumat malam 16 Juli 2021 saat KatongNTT berkunjung, satu peti mati putih tergeletak tepat di bagian depan bangunan minimalis tersebut. Empat peti mati lainnya berupa dua peti untuk ukuran jenazah dewasa dan dua lainnya untuk bayi.

Bagaimanapun orang-orang yang lalu lalang di Jalan Soverdi, Kota Kupang, NTT bisa memperhatikan peti-peti mati itu.

Di ruangan sekecil itu, Melki berbagi tempat tidur dengan peti-peti mati itu. Kamarnya kecil dari hasil sekatan triplek di bagian belakang toko. Dalam kamar itu terdapat dua peti mati dari kayu jati coklat tanpa ukiran atau berhias apapun. Dua peti itu ditumpuk.

Di kamar itu tersedia kamar mandi, sebuah kompor dengan panci kecil di atasnya, dan kasur lusuh yang terbentang di lantai.

Melki yang sedang berbaring bergegas menemui KatongNTT. Malam semakin dingin dan waktu menunjukkan pukul 22.30 Wita saat itu. Barus saja ada yang membeli peti mati lantas membuat pria ini tetap terjaga.

“Karena tadi ada satu yang baru saja ambil satu peti terus bawa ke Rumah Sakit Umum,” jawab Melki.

Rosario biru menjuntai hingga ke bagian perutnya. Tak ada tempat mencuci tangan. Tak ada hand sanitizer. Ia hanya tersenyum saat ditanyakan soal takut atau tidaknya dirinya terhadap COVID-19. Menurut dia tidak ada perubahan. Tingkat kematian dan pemesanan peti mati di tempatnya tidak begitu hebat.

Kemudian Melki menunjukkan berbagai perbedaan harga peti mati yang ada di ruangan itu, Peti mati putih paling depan seharga Rp. 2,5 juta dengan ukiran salib berwarna emas.

Sementara yang paling mahal dengan harga Rp. 5 juta. Peti ini berlapis bahan khusus, berat, ada berbagai hiasan dan ukiran. Peti itu telah tiga bulan ini berada di sana. Ada peti mati lainnya dengan tipe yang kurang lebih sama seharga Rp. 4,5 juta.

Peti mati seharga Rp. 1,7 juta menjadi favorit. Peti jenis ini yang sama dengan yang terdapat di kamar tidur Melki. Hari itu baru saja satu peti kayu coklat polos itu terjual. Sedangkan peti ukuran bayi yang baru didatangkan sebulan lalu itu masing-masing seharga Rp. 750 ribu.

Sudah banyak peti yang terjual selama ini. Ia tidak dapat memastikan berapa banyak yang telah dibeli. Tempatnya itu memang tidak jauh dari Rumah Sakit Leona di kota Kupang. Bahkan juga dari daerah lainnya ada yang memesan. Ada layanan antar ke rumah yang disiapkan. Melki perlu menelpon ke pemilik usaha itu untuk difasilitasi kendaraan untuk mengantar peti mati ke pembelinya.

Pemilik usaha itu, kata dia, tinggal di Sikumana. Untuk peti-peti ini dipesannya dari meubel di bilangan Kolhua. Beberapa perlengkapan seperti sarung tangan untuk jenazah juga dijual Melki.

Pria yang sebelumnya juga bekerja di sebuah meubel di Kelapa Lima ini mengaku tidak mempunyai hal khusus yang membuatnya dapat bertahan menjaga semua peti mati itu selama ini.

“Kerja saja. Jadi tidak tutup pintu, terbuka 24 jam di sini,” ujar Melki di dalam ruangan merah pucat itu.

Kepala Dinas Sosial Kota Kupang, Lodiwyk Djungu Lape, menjelaskan soal urusan peti mati bagi korban Covid-19 telah diurus dinasnya. Tugas ini dilimpahkan dari Dinas Kesehatan Kota Kupang kepada dinasnya. Namun pelimpahan ini tidak diikuti dengan penganggaran sehingga sejak April lalu pihaknya terpaksa mengutang.

“April itu serahkan ke dinas tapi ada utang, bon, karena anggarannya di Dinas Kesehatan,” jawab dia saat dihubungi Sabtu (17/7).

Keluarga korban Covid-19 yang meninggal, kata dia, tidak boleh membeli peti mati lagi karena pihaknya yang memesan peti mati dan ini sesuai petunjuk teknis dan anggaran penanganan Covid-19.

Total kematian di Kota Kupang hingga Minggu, 18 Juli 2021 sebanyak 272 orang setelah bertambah satu orang yang meninggal hari itu. Untuk kasus kematian kategori terkonfirmasi Covid-19 yaitu 220 orang, yang probable 38 orang dan suspek 14 orang. (Ra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *