Puluhan Gua Pertahanan Jepang dalam Perang Dunia II Ditemukan di Kampung Bonen (Tulisan 1)

Situasi di dalam satu dari puluhan gua pertahanan pasukan Jepang dalam Perang Dunia II di Kampung Bonen, Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT, Juli 2022. (Joe-KatongNTT.com)

Situasi di dalam satu dari puluhan gua pertahanan pasukan Jepang dalam Perang Dunia II di Kampung Bonen, Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT, Juli 2022. (Joe-KatongNTT.com)

Pengantar:
Redaksi KatongNTT.com melakukan liputan jurnalistik tentang temuan puluhan gua pertahanan pasukan Jepang dalam Perang Dunia II di Kampung Bonen, Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang. Kami akan menurunkan hasil liputan secara berseri (1 – 4 tulisan) tentang benteng pertahanan bawah tanah pasukan Jepang yang terbesar di Indonesia.

Berawal dari cerita kenangan masa kecil warga tentang gua yang mereka sebut lubang untuk bermain di masa mereka kecil. Cerita dari mulut ke mulut yang kemudian ditelusuri sepasang pendeta majelis Gereja GMIT Mizpa di Kampung Bonen. Hasil penelusuran itu mengungkap kemungkinan gua-gua ini sebagai benteng pertahanan bawah tanah pasukan Jepang. Temuan ini dinilai memperkaya sejarah peran Pulau Timor dalam Perang Dunia II yang kurang mendapat perhatian serius pemerintah daerah selama ini.

Kupang – Tentara Jepang mendarat di Pulau Timor pada tahun 1942 dengan membangun pertahanan di bawah tanah atau gua secara besar-besaran.  Bahkan boleh jadi pertahanan bawah tanah terbesar di Indonesia yang dibangun Jepang di masa itu.

Setelah 80 tahun berlalu, belum banyak orang mengetahui keberadaan sedikitnya 52 gua dengan berbagai ukuran seperti labirin saling terhubung. Puluhan gua ini diduga menjadi benteng pertahanan Jepang di Pulau Timor.

Berjarak kurang lebih 6 kilometer dari Pangkalan Angkatan Udara Penfui, gua-gua ini belum pernah terendus keberadaannya oleh masyarakat luar maupun Pemerintah.

Gua pertahanan tentara Jepang ini pun luput dari catatan sejarah. Keterangan yang menunjukkan keberadaan gua buatan Jepang ini hanya ditemui dalam situs resmi TNI Angkatan Udara (TNI AU). Keberadaan gua itu diceritakan sekilas terkait sejarah Pangkalan Udara (Lanud) Penfui, Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur:

“Salah satu goa terbesar adalah di tepi jalan raya Penfui – Baumata sekitar dua km dari pangkalan udara Penfui. Goa yang menghadap ke laut mulutnya kecil saja sehingga mobil jeep pun tidak dapat masuk. Namun konon di dalamnya mampu menampung satu kompi pasukan.”

Puluhan gua tersebut berada di kampung Bonen, Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang. Jalan sertu putih mengelilingi bukit Fatusuba, tempat puluhan gua dibangun. Berdasarkan penuturan warga Kampung Bonen, jalan tersebut merupakan peninggalan Jepang.

Pasukan Jepang saat itu memilih Bukit Fatusuba, bukit tertinggi di kampung Bonen. KatongNTT yang sudah ke Bukit Fatusuba mencermati bahwa posisinya strategi untuk melakukan pemantauan keberadaan musuh Jepang. Di arah Barat, pantai di Kota Kupang terlihat dengan jelas. Begitu pula ke arah Timur, tentara Jepang bisa melihat Benua Australia.

Situasi pintu masuk satu gua yang ditemukan warga Kampung Bonen, Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, setelah 80 tahun tertutup ditinggalkan ketika Pasukan Jepang kalah dalam Perang Dunia II. Foto diambil pada Juni 2022 (Ruth-KatongNTT.com)

Pertanyaannya, bagaimana pasukan Jepang dapat mengetahui keberadaan Kampung Bonen dengan Bukit Fatusuba yang strategis itu?

Informasi dari situs Lanud Penfui, sepuluh tahun sebelum Jepang mendarat di Pulau Timor, mereka sudah mengirimkan mata-mata yang menyamar sebagai pedagang Cina. Mereka menjual obat-obatan dan kain dengan harga murah. Mereka berdagang hingga ke pelosok kampung di Pulau Timor.

Terbukti Jepang masuk ke Pulau Timor tanpa melalui pelabuhan Tenau dan pelabuhan lain yang dijaga ketat Pemerintah Kolonial Belanda saat itu.

Pasukan Jepang secara besar-besaran masuk ke wilayah NTT terutama Pulau Timor pada 19 Februari 1942 atau sebulan setelah pasukan Jepang mendarat di Tarakan, Pulau Kalimantan.

Buku Sejarah Pergerakan Nasional (2015) yang ditulis Fajriudin Muttaqin menyebut pasukan Jepang mendarat di Indonesia pertama kali melalui Tarakan di Pulau Kalimantan pada 11 Januari 1942.  (Kompas, 22 Februari 2022). Jepang memilih Tarakan karena di sana kaya akan minyak yang dibutuhkan selama Perang Dunia II.

 
 Saksi Mata

Elisabeth Timoneno, 70 tahun, mantan guru di SD Inpres Bonen bercerita, pada zaman penjajahan Jepang, ayahnya Yulisu Timoneno adalah salah satu pekerja di kampung Bonen. Saat dirinya diangkat menjadi Aparat Sipil Negara (ASN) di Bonen tahun 1984, ayahnya menunjukkan lokasi mereka bekerja dulu.

Cerita tentang Nippon atau Jepang didengar oleh Elisabeth sejak kecil. Ayahnya mengisahkan pengalamannya saat dipekerjakan paksa maupun menjadi Heiho, tentara pembantu Jepang. Kadangkala cerita itu disertai gerakan seperti baris-berbaris.

“Dulu Bapa masih muda sekali kerja di situ,” ujar Elisabeth mengulang apa yang dikatakan ayahnya 38 tahun lalu.

Elisabeth mengatakan, saat penjajahan Jepang, setiap kampung wajib mengirim pemuda-pemuda usia kerja. Ayahnya bersama pemuda-pemuda lain dari Amarasi didatangkan ke Bonen untuk menggali lubang-lubang yang dijadikan gua pertahanan oleh tentara Jepang.

“Kadang kita ke air Bapa tunjuk, ini di sini gua terlalu banyak,” kata Elisabeth mengenang ucapan ayahnya.

Elisabeth Timoneno, 70 tahun, mantan guru di SD Inpres Bonen menjelaskan ayahnya dulu tentara Heiho pernah bercerita tentang gua di Kampung Bonen. (Rita-KatongNTT.com)

Saat bekerja, para pemuda itu membawa makanan sendiri. Jepang tidak memberi mereka makan. Elisabeth mengatakan, saat para pekerja – termasuk ayahnya kehabisan makanan, mereka mengutus satu pemuda kembali mengambil makanan di kampung.

“Terus dia (Bapa) cerita, waktu mereka kerja dipaksa begitu (oleh tentara Jepang). Jadi entah kuat atau tidak kuat mesti kerja,” tuturnya.

Susana Lopo, 87 tahun warga kampung Bonen yang menjadi saksi mata tentara Jepang berada di kampungnya mengatakan, dia melihat tentara Jepang membuat penginapan menggunakan terpal. Kala itu Susana berusia 8 tahun.

Tidak banyak yang diketahui soal aktivitas tentara Jepang. Bersama kedua orang tuanya, mereka sempat berpindah dari kampung Bonen untuk menghindari tentara Jepang. Susana hanya mengingat saat para pekerja meminta makan di rumah mereka. Para pekerja berusia 20-an tahun itu berasal dari Pulau Rote.

Saul Konis, salah satu warga yang berusia 78 tahun bercerita, sejak kecil mereka sudah keluar masuk gua-gua peninggalan Jepang itu. Menurut cerita ornag tuanya, puluhan gua itu dikerjakan oleh orang dari daerah lain seperti dari Rote maupun daerah lain di Pulau Timor.

Salah satu gua penyimpanan bahan bakar sempat terbakar. Saul bercerita, kebakaran dipicu oleh api dari obor yang dibawa oleh warga yang hendak mengambil minyak tanah.

Warga lainnya, Alex Honin mengatakan, saat kecil mereka menemukan banyak pecahan drum. Serpihan-serpihan besi oleh masyarakat diambil dan ditimbang.

“Sampai tahun 2000 kita masih masuk gali-gali besi untuk timbang,” cerita Alex.

Kehadiran pasangan Pdt. Deazsy Liu – Tatengkeng, S.Si., MA dan Pdt. Otniel Dhany Liu, S.Th di Jemaat Gereja Mizpa Bonen menjadi titik permulaan gua-gua ini dikenal oleh publik. Ketertarikan pasangan ini untuk mengungkap cerita di balik gua-gua ini mendorong mereka untuk mengidentifikasi gua-gua tersebut.

Dhany kecewa dengan respon Pemerintah Daerah yang terkesan lambat. Setelah November tahun lalu informasi tentang puluhan gua itu diposting di akun Facebooknya, tidak ada respon sama sekali dari aparat pemerintah dusun, desa hingga Bupati.

Direktur Perlindungan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Irini Dewi Wanti saat berkunjung ke Bukit Fatusuba, Minggu , 26 Juni 2022 mengatakan, bila melihat gua-gua warisan penjajahan Jepang yang sudah teridentifikasi, belum ada yang sebesar ini.

Menurutnya, di daerah lain ditemukan gua dalam jumlah yang banyak namun tidak dalam satu lokasi.

“Kalau kita melakukan penelitian lebih lanjut, itu menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia,” ujar Irini didampingi Kepala Balai Perlindungan Cagar Budaya (BPCB) Bali, Komang Anik Purniti.

Dugaan gua tersebut sebagai pertahanan tentara Jepang perlu dibuktikan melalui penelitian ilmiah. Kepala BPCB Bali, Komang Anik Putniti menjelaskan, bila dilihat secara kasat mata, dugaan itu bisa dibenarkan. (Joe/Rita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *