• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Minggu, Agustus 2, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Opini

Tragedi G30S/PKI, Letkol Untung Tak Mengira Soeharto Mengkhianatinya

Tim Redaksi by Tim Redaksi
4 tahun ago
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Letkol Untung dieksekusi dalam peristiwa G30S/PKI (Dok. Kementerian Pendidikan Nasional)

Letkol Untung dieksekusi dalam peristiwa G30S/PKI (Dok. Kementerian Pendidikan Nasional)

0
SHARES
1.8k
VIEWS

Oleh: Tonnio Irnawan , Pembaca buku sejarah

Peristiwa dini hari 1 Oktober 1965 atau lebih dikenal sebagai Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) adalah urusan politik yang berdampak sangat besar pada kemanusiaan. Pembunuhan terhadap 7 perwira Angkatan Darat RI diikuti gonjang ganjing yang menimpa bangsa. Berikutnya terjadilah tragedi kemanusiaan yang getarannya masih dirasakan bangsa ini.

BacaJuga

Saling Cuci Tangan Hadapi Penolakan Bendungan Kolhua

Jokowi ke NTT : Dengarkan Kegelisahan Rakyat, Jangan Hanya Urus Partai

31 Juli 2026

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

13 April 2026

Berikut saya tuliskan kembali sepotong kecil kisah kehidupan dr.Haji Soebandrio dan Letkol Untung Samsuri. Dua orang ini dituduh sebagai aktor peristiwa yang terjadi 57 tahun lalu.

Buku  “Kesaksianku tentang G30S”  ditulis dr. Haji Soebandrio. Jabatan terakhirnya adalah Wakil Perdana Menteri I, Menteri Luar Negeri dan Kepala Badan Pusat Intelijen. Ketiga jabatan penting ini dirangkapnya dalam tempo yang sama sampai Pak Ban ditahan sejak Maret 1966. 

 Buku 80 halaman ini diiterbitkan Forum Pendukung Reformasi Total, Jakarta 2001. Soebandrio menyebut dirinya bukan PKI (hal.71). Di hal.70, ia menulis ,”Saya yakin bahwa dalang G30S bukan Aidit”. DN Aidit adalah Ketua PKI yang tertangkap tentara dan  langsung ditembak mati saat itu juga.

Soebandrio menuduh Soeharto yang melakukan kudeta merangkak terhadap Presiden Sukarno. (Hal.78) Dalam bukunya,  Soebandrio menceritakan  pertemuan terakhirnya  dengan Letkol Untung Samsuri.  Keduanya sama-sama telah  divonis hukuman mati.

Letkol AD Untung adalah Komandan Batalion I Tjakrabirawa,  pasukan pengamanan dan pengawalan Presiden Sukarno.  Letkol Untung adalah komandan penculikan 7 perwira Angkatan Darat pada dini hari 1 Oktober 1965. Pada hal.61 hingga 63, Pak Ban menulis pengalamannya menjelang Untung dieksekusi mati. Keduanya ditahan di Penjara Cimahi, Bandung.

“Sampai suatu hari di akhir 1966 Untung dijemput dari selnya oleh beberapa sipir. Diberitahukan bahwa Untung akan dieksekusi.  Itulah saat-saat terakhir Untung menjalani hidupnya. Saya dan Untung yang sudah akrab selama berada dalam satu penjara, benar-benar terhanyut dalam suasana haru. Saya bukan hanya terharu, tetapi juga bingung, sedih, bahkan panik. Sebab Ahmad Durmawel (oditur militer yang mengadili saya) saat itu memberitahukan bahwa saya akan mendapat giliran dieksekusi 4 hari kemudian. “

“Saya ingat hari itu Selasa. Berarti saya akan dieksekusi Sabtu. Sebelum Untung dijemput untuk dibawa ke luar penjara, saya sempat menemuinya. Saat itu ia sudah ditanya permintaan terakhir. Mungkin karena sedang panik, ia tidak minta apa-apa. Untung tahu saya akan dieksekusi hari Sabtu. Maka, pertemuan saya dan Untung benar-benar luar biasa. Hati kami tidak karuan. Untung akan segera ditembak, sedangkan saya 4 hari lagi.

“Ada kalimat perpisahan Untung yang saya ingat hingga sekarang. Ia mengatakan demikian, ‘Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih. Empat hari lagi kita ketemu lagi di sana,’  katanya sambil menunjuk ke atas. Suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca. Tentara yang gagah berani ini tidak menangis, tapi saya tahu ia sangat panik. Ia benar-benar  tidak menyangka bakal dikhianati oleh Soeharto.

“Menengok hari-hari sebelumnya, Untung begitu sering mengatakan kepada saya bahwa tidak mungkin Soeharto akan mengkhianatinya. Sebab dia adalah sahabat Soeharto dan ia mengatakan Soeharto mengetahui rencana G30S.”

Menjelang senja, Untung dengan pengawalan ekstra ketat berjalan menuju pintu gerbang meninggalkan Penjara Cimahi. Saya mengamati keberangkatan Untung yang berjalan tegap. Saya kemudian mendengar Untung dieksekusi di sebuah desa di luar kota Bandung. Saya sudah tidak sempat sedih lagi memikirkan nasib Untung. Hidup saya sendiri akan berakhir sebentar lagi. Setelah Untung dieksekusi saya benar-benar gelisah. Manusia mana yang tidak takut jika hari kematiannya sudah dtentukan. “

“Tetapi inilah keajaiban karena Presiden AS – Lyndon Johnson dan Ratu Inggris – Elizabeth, di luar sepengetahuan saya, mengirimkan surat kawat kepada Presiden Soeharto. Inti surat tersebut :  Soebandrio jangan ditembak. Saya tahu dalam G30S dia tidak terlibat.”

 Soeharto menanggapi baik permintaan dua pemimpin negara besar ini. Beda dengan Untung, Soebandrio urung didor. Soebandrio menduga pertolongan sang Ratu karena mereka saling kenal. Pak Ban pernah menjadi Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris.  

Lain dengan Letkol Untung. Nasibnya berbeda, Ia kenal Soeharto yang pernah menjadi atasannya. Presiden Soeharto tak memberinya ampun. Hidup Untung harus diputus berdasarkan vonis mahkamah militer. Senapan : Dor…Dor…Dor.. .

  Pada 1995 Pak Ban dibebaskan dari penjara. Sabtu, 3 Juli 2004 di Jakarta dokter spesialis bedah ini meninggal. Usianya 90. Penjara mempertemukan keduanya.  Eksekusi mati yang memisahkan keduanya. *****

Tags: #G30S/PKI#LetkolUntung#Tragedi1965
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Saling Cuci Tangan Hadapi Penolakan Bendungan Kolhua

Jokowi ke NTT : Dengarkan Kegelisahan Rakyat, Jangan Hanya Urus Partai

by Rio Hermanus
31 Juli 2026
0

Katangan Joko Widodo ke Nusa Tenggara Timur (NTT), yang salah satunya diisi dengan agenda Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Partai Solidaritas...

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

by Gerardus Taena
13 April 2026
0

Konsep komunio merupakan salah satu pilar teologis yang mendasar dalam diskursus kekristenan, terutama dalam konteks Gereja dan kehidupan religius. Dalam...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati