Wapres Singgung Sampah Labuan Bajo, TPA Warloka Belum Optimal

Ilustrasi TPA Warloka (ist)

Ilustrasi TPA Warloka (ist)

Manggarai Barat – Daya Tarik Labuan Bajo, , Kabupaten Manggarai Barat. Nusa Tenggara Timur (NTT), terus menggeliat sebagai wisata premium. Namun, magnet dan keindahan alam itu masih terusik oleh masalah sampah. Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mengingatkan perlunya dukungan penataan di kawasan wisata superprioritas ini.

Hal itu disampaikan Wapres di sela-sela kunjungan kerja (kunker) ke Labuan Bajo bersama Wury Ma’ruf Amin dalam rangka membuka Asia International Water Week (AIWW) ke-2.  Dia menyempatkan diri untuk meninjau wisata bahari di kawasan tersebut, khususnya di sekitar Pulau Bidadari dan Pulau Kelor menggunakan KRI Sampari 628.

Baca : Pernah Dibantu BUMN, Bank Sampah Batu Cermin-Labuan Bajo Nyaris Tutup

Wapres sebelumnya juga berolahraga jalan sehat yang menjadi kebiasaannya setiap pagi. Sambil berolahraga Wapres menikmati keindahan alam di sekitar Labuan Bajo.

“Sayang masih ada sampah yang tercecer,” kritik Wapres,

Sebagaimana diketahui, Labuan Bajo terpilih menjadi salah satu venue side berlangsungnya rangkaian G20, selain Bali, Bogor, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Jakarta, Medan, Lombok dan Manado. Terlebih, Labuan Bajo telah ditetapkan sebagai salah satu dari lima destinasi super prioritas yang telah dicanangkan pemerintah.

“Memang ini destinasi prioritas, super prioritas saya kira tepat dan layak, saya kira karena itu pertemuan internasional di sini,” tutur Wapres, Selasa (15/3/2022).

Kekhawatiran soal sampah di Labuan Bajo ini menjadi perhatian serius dari KatongNTT.com. Sejak beberapa bulan terakhir ini, banyak kegiatan pemerintah yang membahas soal sampah tersebut. Di sisi lain, banyak juga program dan fasilitas terkait sampah malah tidak optimal.

Salah satunya adalah fasilitas pengolahan sampah termal di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Warloka, Labuan Bajo, belum maksimal dan efektif. TPA belum menghasilkan pembangkit listrik tenaga termal (uap sampah) sesuai yang diharapkan.

Informasi yang dikumpulkan KatongNTT menyebutkan TPA yang dibangun dengan dana Rp 50 miliar tersebut seharusnya mengolah sampah menjadi energi listrik.

Dalam laman https://lpse.pu.go.id disebutkan bahwa pendanaan Pembangunan Pengelolaan Sampah Proses Termal itu dari APBN yang dimulai sejak 12 Juni 2020 lalu. Program di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) itu dengan satuan kerja Pelaksanaan Prasarana Permukiman Wilayah II Provinsi NTT.

Fasilitas pengolahan sampah termal di TPA Warloka itu mulai beroperasi sejak April 2021 lalu. Pembangunan TPA itu seiring dengan penetapan Labuan Bajo sebagai kawasan pariwisata premium. [K-02]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *