Kupang – Warga Kota Kupang dan Kabupaten Kupang dalam jeda waktu 10 hari terakhir ini mengalami 2 gempa bumi yang cukup kuat.
Pada 2 November, 05.04 WITA, terjadi gempa bermagnitudo 6,3 yang merusak 192 rumah dan 34 unit kantor. Gempa itu membuat panik dan hiruk pikuk warga di pagi-pagi sekali. Ada 926 jiwa yang terdampak dan untungnya tak ada yang sampai terluka, meninggal atau pun mengungsi.
Baca juga : 20 Perempuan Terdampak, Ada 7 Gempa Susulan Landa Kupang
Kemudian di 12 November, Kota Kupang dan Kabupaten Kupang kembali bergetar kurang dari 3 detik sebab gempa 5,4 magnitudo itu. Kejadian pukul 10.06 WITA ini nyaris berulang di lokasi gempa sebelumnya.
Gempa pertama terjadi pada jarak 15 kilometer (km) arah tenggara Kupang di kedalaman 25 km pada koordinat 10,26° Lintang Selatan (LS); 123,72° Bujur Timur (BT). Sedangkan gempa kedua pada jarak 14 km arah tenggara Kupang di kedalaman 41 km pada koordinat 10,18° LS ; 123,74° BT.
“Iya betul, lokasi yang sama,” jawab Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Margiono.
Baca juga : 30 Rumah di Amarasi Rusak Akibat Gempa 6,6 Magnitudo
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut 2 gempa ini pusatnya di Kabupaten Kupang. BMKG juga menjelaskan kondisi di bawah Pulau Timor yang menjadi pemicu 2 gempa tersebut.
Margiono menyebut gempa di 12 November ini ialah jenis gempa dangkal akibat dari deformasi batuan dalam slab lempeng di bawah Pulau Timor dan terasa hingga Kabupaten Rote Ndao.
Gempa yang dipicu deformasi batuan ini, jelas dia, akibat batuan sudah tidak mampu menahan tegangan dan tarikan pada lapisan bumi hingga akhirnya menimbulkan patahan atau rekahan secara tiba-tiba.
Baca juga : Dalam Sepekan, Dua Kali Gempa Guncang Labuan Bajo
“Hasil analisa menunjukkan sumber gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan turun,” tukas Margiono, Minggu 12 November 2023.
Sumber gempa ini pun, sebut dia, sama dengan yang terjadi 2 November lalu yaitu jenis gempa bumi kerak dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif.
Hasil analisis mekanisme sumber pun menunjukkan gempa bumi 10 hari lalu yang berkekuatan 6,3 magnitudo itu membuat pergerakan turun atau normal fault yang terasa hingga Kabupaten Timor Tengah Selatan, Rote, Sumba Timur, Alor dan tidak berpotensi tsunami.
Baca juga : Gempa Bumi M 6.1 Guncang Timor, Tak Ada Potensi Tsunami
Berdasarkan karakteristiknya, kata dia, gempa memang bisa berulang pada tempat yang sama. Namun begitu dengan teknologi saat ini belum bisa diketahui kapan dan berapa kekuatannya.
“Mungkin ada dampaknya karena itu dalam satu sesar aktif di daerah tersebut, ini yang belum kita berikan nama, sesar lokal dari daerah tersebut, jadinya berpotensi ada getaran dirasakan masyarakat,” jelasnya.
BMKG sendiri akan memonitor 24 jam dan meminta masyarakat untuk tidak panik, tetap waspada, dapat melakukan evakuasi mandiri saat terjadi gempa, dan apabila struktur bangunan mudah runtuh maka perlu diperbaiki.
Baca juga : Sinergi untuk Antisipasi Bencana Kekeringan Perlu Terus Ditingkatkan
“Di daerah tersebut pun merupakan daerah rawan gempa dengan dua kali gempa ini maka masyarakat tetap jangan panik dan tetap waspada, artinya bila terjadi guncangan maka harus tahu menyelamatkan diri kemana,” tukasnya.
Sebelumnya BMKG menyebut secara tektonik wilayah NTT memiliki 8 lokasi sumber pembangkit gempa bumi.
8 sumber gempa, tsunami, dan unsur tektonik di wilayah NTT ini antara lain Flores Backarc Thrust, Semau Fault, Sawu Thrust, Timor Fold and Thrust Belt (FTB), Sumba Strike Slip, Bondowatu Fault, Sape Strike Slip, serta Kalaotoa Fault.
Baca juga : 1.686 Bencana di Indonesia Renggut 91 Nyawa di Awal 2022
Selain sumber gempa sesar naik busur belakang, lanjut Margiono, NTT juga dekat dengan sumber gempa Megathrust Sumba sehingga potensi gempa tektonik sangat tinggi di NTT.
Potensi gempa di wilayah utara bisa seperti kejadian tahun 1992 yakni tsunami dan beberapa titik yang tersebar di wilayah NTT.
Sementara secara umum di Indonesia terdapat 3 lempeng yang mempengaruhi gempa bumi, yakni lempeng Australia yang ada di wilayah selatan Indonesia, kemudian lempeng Asia, dan lempeng Pasifik. ***




