• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Minggu, Februari 1, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Cuaca, Iklim dan Lingkungan

4 Lembaga Uji Lab, Petani: Limbah Pendingin Mesin PLTU Timor-1 Dibuang ke Laut

Oktaf mengatakan, benda berwarna hitam yang mengapung di Laut Timor merupakan limbah air pendingin mesin yang bercampur dengan bahan kimia, oli atau solar untuk merawat turbin dan pipa PLTU Timor -1. Limbah ini dibuang ke dalam laut. 

Rita Hasugian by Rita Hasugian
3 minggu ago
in Cuaca, Iklim dan Lingkungan
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Jalur sebelah barat pembuangan limbah air pendingin mesin untuk merawat turbin dan pipa PLTU Timor-1 yang dibuang ke Laut Timor. Limbah itu mengandung serpihan batubara, oli dan solar. Jalur barat lokasinya berdekatan dengan lokasi budidaya rumput laut petani Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang, NTT. (Dok.Oktaf Sekatu)

Jalur sebelah barat pembuangan limbah air pendingin mesin untuk merawat turbin dan pipa PLTU Timor-1 yang dibuang ke Laut Timor. Limbah itu mengandung serpihan batubara, oli dan solar. Jalur barat lokasinya berdekatan dengan lokasi budidaya rumput laut petani Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang, NTT. (Dok.Oktaf Sekatu)

0
SHARES
87
VIEWS

 Kupang – Klaim PT PLN (Persero) untuk mengusut dan memvalidasi dugaan batubara sebagai bahan bakar PLTU Timor-1 memunculkan pertanyaan. Sebab menurut Ketua Umum Pembudidayaan Rumput Laut Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang, Oktaf Alexander Saketu, PLN telah memfasilitasi sedikitnya 4 uji laboratorium lingkungan untuk memastikan penyebab pencemaran air Laut Timor. Uji laboratorium ini untuk merespons protes para petani rumput laut.

Baca juga: Nelayan: Batubara PLTU Timor -1 Cemari Laut Timor, Tak Ada yang Peduli

BacaJuga

Rumput laut milik nelayan desa Lifuleo, Kabupaten Kupang rusak disebabkan limbah batubara PLTU Timor-1. (Dok. Oktaf Saketu)

PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

8 Januari 2026
Limbah batubara diduga bersumber dari kapal tongkang yang membawa batubara untuk bahan bakar PLTU TIMOR -1. (Oktaf Saketu)

Nelayan: Batubara PLTU Timor -1 Cemari Laut Timor, Tak Ada yang Peduli

5 Januari 2026

Masalahnya, kata Oktaf,  hasil uji laboratorium yang sudah diterima PLN,  belum ada tindaklanjut untuk menjelaskan kepada para petani rumput laut yang terdampak pencemaran air laut Timor. Padahal uji laboratorium itu atas permintaan para petani.

“Uji laboratorium sudah dilkakukan oleh Undana (Universitas Nusa Cendana), Politeknik Negeri dan Dinas Kesehatan Provinsi, dan Laboratorum Lingkungan Hidup yang di Surabaya,” kata Oktaf kepada KatongNTT, Kamis, 8 Januari 2026.

Oktaf kemudian menjelaskan bahwa pada Desember 2023 tim Undana mengambil sampel rumput laut yang rusak terkena limbah batubara PLTU Timor -1. Kemudian Undana melakukan uji laboratorium terhadap rumput laut.

Baca juga: PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

“Hasil uji lab, di atas baku mutu, merusak ada logam, tembaga dari batu bara, oli dan solar,” ujar Oktaf.

Para petani rumput laut menerima hasil uji laboratorium Undana sekitar Juni 2024.  Petani belum menerima hasil uji laboratorium Politeknik Negeri Kupang. Politeknik menyerahkan hasil uji laboratoriumnya ke PLN.

Dinas Kesehatan NTT, ujar Oktaf, melakukan uji laboratorium pada 2023 dengan mengambil sampel air laut yang tercemar untuk diuji tingkat pencemarannya. Hasil uji laboratorum Dinkes NTT diumumkan di hotel Aston pada 2 Februari 2024.

“Isi hasil uji lab itu, oli dan solar di atas baku  mutu, 5,9 dan 5,8 persen. Ini untuk dua titik dekat PLTU, sementara tiga titik lain di bawah baku mutu karena lokasinya jauh dari PLTU,” kata oktaf.

Belakangan Dinkes NTT menyatakan laboratorium Dinkes NTT  dan laboratorium Undana belum memiliki akreditasi sehingga hasil uji laboratorium tidak diakui.

PLN kemudian memfasilitasi uji laboratorium lingkungan PT Unilab Perdana di Surabaya pada 7 Agustus 2024. Pengambilan sample tidak melibatkan petani rumput laut dan pemerintah desa, berbeda dengan uji laboratorium yang dilakukan Dinkes NTT, Politeknik Negeri Kupang, dan Undana  yang melibatkan petani rumput laut dan perangkat desa . Selain itu mereka menyertakan foto disertai titik koordinat pengambilan sampel.

Baca juga: Banyak Tengkulak, NTT Butuh Koperasi Rumput Laut

Hasil uji laboratorium di Surabaya diumumkan tanggal 16 Oktober 2024 di aula Kantor Camat Kupang Barat oleh pihak Universitas Kristen Artha Wacana atas permintaan PLN.

“Ini membingungkan karena Unkris tidak punya laboratarium,” ujar Oktaf.

Hasil ujinya adalah minyak lemak di bawah baku mutu untuk semua titik yakni 0,2 persen. Berbeda hasilnya dengan tiga laboratorium sebelumnya.

Jusuf Otiswan Maromon, Manager Komunikasi dan TJSL PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTT  mengatakan, tim PLN pekan lalu ke lokasi bertemu PLTU Timor -1  dan Kepala Desa Lifuleo untuk menelusuri sumber munculnya benda berwarna hitam dan mengandung minyak.

” Hasil penelusuran sementara bukan dari PLTU karena batubara tidak mengandung minyak saat di air laut,” kata Otiswan melalui pesan Whatsapp kepada KatongNTT, Jumat, 9 Januari 2026.

 

Tim PT PLN (Persero) wilayah NTT awal Januari 2026 melakukan penelusuran dan validasi ke PLTU Timor -1 dan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang tentang dugaan pencemaran Laut Timor. (Dok.PT PLN NTT)
Tim PT PLN (Persero) wilayah NTT awal Januari 2026 melakukan penelusuran dan validasi ke PLTU Timor -1 dan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang tentang dugaan pencemaran Laut Timor. (Dok.PT PLN NTT)

 

Limbah Pendingin Mesin berupa air, solar, dan oli dibuang ke Laut Timor

Oktaf menjelaskan, PLN belum melakukan langkah konkrit dari hasil uji 4 laboratorium. Pencemaran laut Timor sebagai sumber hidup masyarakat pesisir Kabupaten Kupang terus terjadi. Peristiwa terbaru terjadi pada 5-6 Januari 2026, di mana Oktaf dengan menggunakan perahunya merekam sumber kemunculan benda serabut berwarna hitam dan berminyak  di sepanjang pantai Air Cina di Desa Lifuleo.

Menurut Oktaf, jarak pantai Air Cina tempat pembudidayaan rumput laut nelayan Lifuleo ke pelabuhan bongkar muat batubara PLTU Timor-1 sekitar 900 meter.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia wilayah Kabupaten Kupang, Zakarias Doroh menduga sumber pencemaran adalah serpihan batubara yang jatuh ke dalam air laut saat bongkar muat di pelabuhan PLTU Timor -1.

Oktaf mengatakan, benda berwarna hitam yang mengapung di Laut Timor merupakan limbah air pendingin mesin yang bercampur dengan bahan kimia, oli atau solar untuk merawat turbin dan pipa PLTU Timor -1. Limbah ini dibuang ke dalam laut.

Baca juga: Nelayan Temukan Limbah Aspal di Laut hingga Pantai Tablolong

“Sejak PLTU Timor-1 beroperasi, limbah air pendingin mesin dibuang ke dalam laut. Limbah air pendingin mesin sudah dicampur dengan bahan kimia, solar dan oli  untuk keamanan peralatan PLTU Timor 1, turbin dan pipa,” ungkap Oktaf yang mengaku telah menelusuri sumber limbah itu di area PLTU Timor -1.

Menurut Oktaf, ada dua jalur pembuangan limbah air pendingin mesin PTU Timor -1 yakni di bagian barat dan utara lokasi pembangkit itu. Pembuangan limbah bagian utara, kata Oktaf, paling dekat dengan lokasi budidaya rumput laut milik petani Desa Lifuleo, yakni sekitar 900 meter. Sedangkan jalur pembuangan limbah di bagian barat, berjarak sekitar 1 kilometer dari lokasi budidaya rumput laut petani.

Sekitar 85 petani rumput laut di Desa Lifuleo terkena dampak limbah dari PLTU Timor -1 sejak 2023 hingga memasuki tahun 2026. *****

 

 

Tags: #NTT#PencemaranLautTimor#PLTUTimor-1#PTPLN#rumputlautNTT
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Rumput laut milik nelayan desa Lifuleo, Kabupaten Kupang rusak disebabkan limbah batubara PLTU Timor-1. (Dok. Oktaf Saketu)

PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

by Rita Hasugian
8 Januari 2026
0

Kupang – PT PLN sedang menelusuri dan memvalidasi informasi dari nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang bahwa aktivitas bongkar muat batubara...

Limbah batubara diduga bersumber dari kapal tongkang yang membawa batubara untuk bahan bakar PLTU TIMOR -1. (Oktaf Saketu)

Nelayan: Batubara PLTU Timor -1 Cemari Laut Timor, Tak Ada yang Peduli

by Rita Hasugian
5 Januari 2026
0

Kupang - Benda seperti serabut berwarna hitam mengambang di permukaan air laut sepanjang pantai Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati