7 ABK Indonesia Telah 11 Bulan Hilang di Afrika, Dibunuh?

ABK Petrus Crisologus Tunabenani yang hilang di Laut Mauritius, Afrika. Menjadi bukti penegakan hukum yang lemah di Indonesia membuat ABK Indonesia Rentan tereksploitasi (KatongNTT)

ABK Petrus Crisologus Tunabenani yang hilang di Laut Mauritius, Afrika. Menjadi bukti penegakan hukum yang lemah di Indonesia membuat ABK Indonesia Rentan tereksploitasi (KatongNTT)

Kupang– Sebanyak 7 ABK (Anak Buah Kapal) berkewarganegaraan Indonesia sudah 11 bulan hilang. Mereka terakhir kali diketahui berlayar di perairan Mauritius, Afrika.

Ketujuhnya tidak dapat dihubungi sejak 26 Februari 2021 hingga hari ini. Upaya pencarian terus diupayakan anggota keluarga, namun para ABK belum juga ditemukan.

“Saya ayah kandungnya Petrus,” kata Gabriel Ulu Tunabenani kepada KatongNTT melalui pesan Whatsapp pada 11 Januari 2022.

“Terakhir komunikasi tgl 26 Februari 2021 jam 17.00 WITA,” ujarnya.

Gabriel Ulu Tunabenani, ayah dari ABK Petrus Crisologus Tunabebani yang sudah 11 bulan hilang di Laut Mauritius, Afrika. (KatongNTT.com)

Petrus yang dimaksud Gabriel adalah Petrus Crisologus Tunabenani. Dia kelahiran Covalima, 30 Juli 1994.

Enam ABK lainnya yang hilang adalah Rudi Herdiana (Brebes, 23 Mei 1988), Dadan (Ciamis, 20 Juli 1994), Klaudius Ukat (Abat, 15 Februari 1997), Galih Candra Kusuma (Kebumen, 5 Februari 1996, Muhamad Fajar, dan Anton Pradana.

Dalam pembicaraan terakhir itu, Petrus menjelaskan kepada ayahnya bahwa dia dan 6 rekan kerjanya sedang bersandar di pelabuhan Port Louis di Mauritius, Afrika Selatan.

Pada 3 Maret 2021, Gabriel menerima informasi dari beberapa ABK kapal lain bahwa mereka kehilangan kontak dengan tujuh ABK itu.

Gabriel juga menerima informasi bahwa terjadi keributan antara ABK Vietnam bersama mandor serta kapten kapal berhadapan dengan 7 ABK Indonesia di kapal ikan Wei Fa. kapal sedang bersandar di area pelabuhan Port Louis.

“Anak saya terkena bacokan di wajahnya,” kata Gabriel yang menerima foto wajah anaknya berdarah.

Saat terjadi perkelahian itu, kapal ikan tersebut berlayar meninggalkan pelabuhan ke tengah laut.

“Apakah ada perencanaan pembunuhan terhadap para ABK ini?” tanya Gabriel dalam suratnya meminta bantuan hukum kepada Padma Indonesia, 10 Desember 2021.

Dia juga belum mengetahui pasti mengapa sampai terjadi keributan yang membuat anaknya jadi korban bacokan.

Sesuai jadwal, menurut Gabriel, masa kontrak kerja anaknya sudah berakhir.Bahkan dia sudah membeli tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia pada 28 Februari 2021.

“Kami keluarga korban hanya ingin mengetahui keberadaan mereka.” (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *