• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Senin, Agustus 17, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Sorotan

FKPT NTT Sebut Radikalisme Kurang Disorot, Terendus di Beberapa Wilayah

Rita Hasugian by Rita Hasugian
3 tahun ago
in Sorotan
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Ilustrasi-Toleransi-Beragama-Qureta

Ilustrasi-Toleransi-Beragama-Qureta

0
SHARES
12
VIEWS

Kupang – Ketua Forom Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) NTT, Yohanes Oktovianus mengatakan, isu radikalisme kurang menjadi sorotan dalam beberapa tahun belakangan ini. Gerakan radikalisme di NTT terendus di beberapa wilayah. Begitupun FKPT NTT  menargetkan radikalisme dan terorisme akan dikikis dari NTT tahun 2024.

“Memang ada dan kita selesaikan. Tahun depan tidak ada lagi. Tahun depan harus turun dan kita buka borok itu dan kita sembuhkan,” kata Yohanes, Sabtu 15 April 2023.

BacaJuga

Hotel Sasando International (Dok.KatongNTT)

Setengah Hati Merawat Hotel Sasando

13 Agustus 2026
Lima perempuan anggota Forum Pelangi Kasih dii Kota Kupang yang melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka sebagai LGBTQ+. Anak-anak mereka sering diejek, didisrkiminasi, dan dilecehkan. (Dok. KatongNTT)

Dipeluk Ibu Saat Dunia Menolak, Cerita dari Forum Pelangi Kasih Kupang

3 Juli 2026

Sebelumnya,  hasil riset Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan, indeks potensi radikalisme di NTT tahun 2022 sebesar 5.4. Angka ini  naik signifikan dibanding tatahun 2020 sebesar 4.5.  Namun begitu tingkat radikalisme di NTT ini masih termasuk 5 provinsi terendah di tanah air.

Baca juga: BNPT: Potensi Radikalisme di NTT Meningkat, Penyebarannya Terbanyak via Whatsapp

Penggunaan Whatsapp utnuk menyebarkan  konten radikalisme di NTT menempati persentase tertinggi yakni 78 persen. Setelahnya diikuti Facebook 65,0 persen, YouTube 19 persen, Twitter 16 persen, dan Instagram 8 persen.

Menurut Oktovianus, data dari BNPT ini juga merangkum pula gerakan radikalisme yang telah berhasil diredam beberapa tahun belakangan.

Ia menyebut gerakan radikalisme terutama di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat telah dicegah sebelum meluas di NTT. Memang setelah kasus tersebut diekspos maka menjadi pertimbangan atau penilaian bagi NTT untuk lebih waspada.

Ia juga mencontohkan aliran Yehova yang sempat masuk ke Kota Kupang beberapa waktu lalu dan menimbulkan gejolak di masyarakat.

“Ini yang memicu kenaikan nilai radikalisme,” ujarnya.

Masyarakat juga perlu mengetahui bahwa pihak intelejen dan kepolisian selalu mengawasi secara senyap pergerakan aliran kepercayaan yang berbahaya di NTT.

“Sudah banyak yang kita selesaikan. Contohnya di Manggarai, Ruteng, sudah diselesaikan. Nantinya jadi bahan pembicaraan atau disebut ada potensi tapi yang terpenting itu terselesaikan,” ungkap dia.

 Baca juga: Agama dan Budaya: Wahana Cinta dan Persaudaraan Nasional

Informasi yang diperoleh tentang radikalisme perlu diketahui publik bukannya didiamkan lalu seperti fenomena gunung es. Tujuannya agar lebih bisa diantisipasi.

“Jangan sampai jadi borok. Diam-diam, tau-tau sudah meledak,” kata Oktovianus yang juga adalah Kepala Badan Kesatuan, Bangsa, Politik (Kesbangpol) NTT.

Merekrut Perempuan

Pengamat intelijen dan keamanan negara, Stepi Ariani secara terpisah mengatakan pola perekrutan ISIS lebih modern dan menggunakan media sosial. Begitu juga penyebaran paham radikal mereka dilakukan melalui media sosial.

ISIS tidak mempunyai aturan baku anggotanya harus menguasai Al-Qur’an. Septi menyebut anggota ISIS pun sangat dapat berasal dari kaum nonmuslim.

“ISIS ini lebih sporadis dan mereka juga merekrut perempuan yang penampilannya nonmuslim juga. Dia cari yang orang Barat dengan rambut pirang dan bermata biru,” jelasnya.

Awalnya terorisme yang berlangsung global dikenal dari Taliban, lalu Al-Qaeda, kemudian ISIS dan muncul Neo Taliban dua tahun lalu saat Covid-19. Indonesia sendiri menjadi sasaran rekrutmen anggota sebagai teroris.

Dulunya perekrutan kaum teroris ini dilakukan dengan metode yang terbilang ortodoks yaitu berdasarkan tingkat pemahaman agama.

Untuk itu Indonesia perlu membentengi kaum perempuan yang bisa menghalau ajakan sesat ini. Menurutnya, perempuan bisa membentengi keluarga terutama anak-anak dan dirinya sendiri terhadap paham intoleransi.

Baca juga: Mendobrak Cara Pandang dalam Beragama

Gerakan terorisme sendiri, ujar Septi, tidak berhubungan dengan agama karena Islam dasarnya bukan mengajarkan kebencian. Akan tetapi ISIS dalam ajakan perangnya ingin perempuan terlibat bahkan membunuh anak-anak untuk kepentingan mereka.

Bukan semata dengan perspektif agama, Indonesia akan dirugikan dengan konflik yang ada di Timur Tengah bila permasalahan itu tidak dilihat lebih luas. Arab Saudi dan Mesir misalnya, lanjut Septi, terbuka dengan Amerika Serikat dalam hal politik dan bisnis.

“Justru di Palestina ada seorang pastor yang baik bilang kalau tidak bisa adzan di masjid – karena masjid dibom – bisa gunakan gereja. Itu ya, di Palestina ada nasrani, ada Muslim dan Yahudi,” ujarya.

Septi mengimbau  masyarakat untuk tidak melihat hal-hal yang disangkutpautkan dengan agama tanpa dianalisis lebih dahulu

“Tidak semua berita yang ada di Tiktok, di medsos itu, tidak semuanya benar,” tegas Septi. (Putra Bali Mula)

Tags: #BadanNasionalPenanggulanganTerorisme#ForumKoordinasiPencegahanTerorismeNTT#IndeksPotensiRadikalisme#LabuanBajo#NTT#Radikalisme#Terorisme
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Hotel Sasando International (Dok.KatongNTT)

Setengah Hati Merawat Hotel Sasando

by Rita Hasugian
13 Agustus 2026
0

KatongNTT – Suara Johanes Tenggas, 50 tahun datar menjawab pertanyaan tim transisi dari PT Flobamor, BUMD Provinsi NTT pada Senin,...

Lima perempuan anggota Forum Pelangi Kasih dii Kota Kupang yang melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka sebagai LGBTQ+. Anak-anak mereka sering diejek, didisrkiminasi, dan dilecehkan. (Dok. KatongNTT)

Dipeluk Ibu Saat Dunia Menolak, Cerita dari Forum Pelangi Kasih Kupang

by KatongNTT
3 Juli 2026
0

Kupang –Suara tawa lepas lima perempuan lansia memenuhi ruang tamu rumah Pendeta emeritus Aplonia Mariana Mba’u-Lidda pekan terakhir April lalu....

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati