Kupang – Ketua Forom Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) NTT, Yohanes Oktovianus mengatakan, isu radikalisme kurang menjadi sorotan dalam beberapa tahun belakangan ini. Gerakan radikalisme di NTT terendus di beberapa wilayah. Begitupun FKPT NTT menargetkan radikalisme dan terorisme akan dikikis dari NTT tahun 2024.
“Memang ada dan kita selesaikan. Tahun depan tidak ada lagi. Tahun depan harus turun dan kita buka borok itu dan kita sembuhkan,” kata Yohanes, Sabtu 15 April 2023.
Sebelumnya, hasil riset Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan, indeks potensi radikalisme di NTT tahun 2022 sebesar 5.4. Angka ini naik signifikan dibanding tatahun 2020 sebesar 4.5. Namun begitu tingkat radikalisme di NTT ini masih termasuk 5 provinsi terendah di tanah air.
Baca juga: BNPT: Potensi Radikalisme di NTT Meningkat, Penyebarannya Terbanyak via Whatsapp
Penggunaan Whatsapp utnuk menyebarkan konten radikalisme di NTT menempati persentase tertinggi yakni 78 persen. Setelahnya diikuti Facebook 65,0 persen, YouTube 19 persen, Twitter 16 persen, dan Instagram 8 persen.
Menurut Oktovianus, data dari BNPT ini juga merangkum pula gerakan radikalisme yang telah berhasil diredam beberapa tahun belakangan.
Ia menyebut gerakan radikalisme terutama di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat telah dicegah sebelum meluas di NTT. Memang setelah kasus tersebut diekspos maka menjadi pertimbangan atau penilaian bagi NTT untuk lebih waspada.
Ia juga mencontohkan aliran Yehova yang sempat masuk ke Kota Kupang beberapa waktu lalu dan menimbulkan gejolak di masyarakat.
“Ini yang memicu kenaikan nilai radikalisme,” ujarnya.
Masyarakat juga perlu mengetahui bahwa pihak intelejen dan kepolisian selalu mengawasi secara senyap pergerakan aliran kepercayaan yang berbahaya di NTT.
“Sudah banyak yang kita selesaikan. Contohnya di Manggarai, Ruteng, sudah diselesaikan. Nantinya jadi bahan pembicaraan atau disebut ada potensi tapi yang terpenting itu terselesaikan,” ungkap dia.
Baca juga: Agama dan Budaya: Wahana Cinta dan Persaudaraan Nasional
Informasi yang diperoleh tentang radikalisme perlu diketahui publik bukannya didiamkan lalu seperti fenomena gunung es. Tujuannya agar lebih bisa diantisipasi.
“Jangan sampai jadi borok. Diam-diam, tau-tau sudah meledak,” kata Oktovianus yang juga adalah Kepala Badan Kesatuan, Bangsa, Politik (Kesbangpol) NTT.
Merekrut Perempuan
Pengamat intelijen dan keamanan negara, Stepi Ariani secara terpisah mengatakan pola perekrutan ISIS lebih modern dan menggunakan media sosial. Begitu juga penyebaran paham radikal mereka dilakukan melalui media sosial.
ISIS tidak mempunyai aturan baku anggotanya harus menguasai Al-Qur’an. Septi menyebut anggota ISIS pun sangat dapat berasal dari kaum nonmuslim.
“ISIS ini lebih sporadis dan mereka juga merekrut perempuan yang penampilannya nonmuslim juga. Dia cari yang orang Barat dengan rambut pirang dan bermata biru,” jelasnya.
Awalnya terorisme yang berlangsung global dikenal dari Taliban, lalu Al-Qaeda, kemudian ISIS dan muncul Neo Taliban dua tahun lalu saat Covid-19. Indonesia sendiri menjadi sasaran rekrutmen anggota sebagai teroris.
Dulunya perekrutan kaum teroris ini dilakukan dengan metode yang terbilang ortodoks yaitu berdasarkan tingkat pemahaman agama.
Untuk itu Indonesia perlu membentengi kaum perempuan yang bisa menghalau ajakan sesat ini. Menurutnya, perempuan bisa membentengi keluarga terutama anak-anak dan dirinya sendiri terhadap paham intoleransi.
Baca juga: Mendobrak Cara Pandang dalam Beragama
Gerakan terorisme sendiri, ujar Septi, tidak berhubungan dengan agama karena Islam dasarnya bukan mengajarkan kebencian. Akan tetapi ISIS dalam ajakan perangnya ingin perempuan terlibat bahkan membunuh anak-anak untuk kepentingan mereka.
Bukan semata dengan perspektif agama, Indonesia akan dirugikan dengan konflik yang ada di Timur Tengah bila permasalahan itu tidak dilihat lebih luas. Arab Saudi dan Mesir misalnya, lanjut Septi, terbuka dengan Amerika Serikat dalam hal politik dan bisnis.
“Justru di Palestina ada seorang pastor yang baik bilang kalau tidak bisa adzan di masjid – karena masjid dibom – bisa gunakan gereja. Itu ya, di Palestina ada nasrani, ada Muslim dan Yahudi,” ujarya.
Septi mengimbau masyarakat untuk tidak melihat hal-hal yang disangkutpautkan dengan agama tanpa dianalisis lebih dahulu
“Tidak semua berita yang ada di Tiktok, di medsos itu, tidak semuanya benar,” tegas Septi. (Putra Bali Mula)




