Kupang – Suasana di pabrik pembuatan garam di CV. Raja Baru, Belo, NTT siang itu sunyi. Mesin-mesin dalam pabrik seperti mati suri.
Tak ada karyawan yang sibuk menyortir maupun mengepak garam yang sudah dihaluskan dan dikemas. Hanya bunyi dengungan mesin pengering dan pengemasan yang dibiarkan menyala.
“Kami terakhir produksi itu Februari. Sampai sekarang tidak produksi. Bahan baku tidak ada,” kata Ferdinan Latuheru, pendiri pabrik garam beryodium pertama di NTT.
***
Presiden Jokowi meninjau tambak garam yang dikembangkan di NTT pada 21 Agustus 2019. Terdapat kurang lebih 21 ribu hektar lahan yang dipersiapkan untuk membangun tambak garam.
Dari 21 ribu lahan itu, ditargetkan dapat mencapai 2,6 juta ton garam per tahun. Sehingga dapat membantu kebutuhan garam nasional yang mencapai 4,4 juta ton per tahunnya.
Jokowi didampingin beberapa menteri serta Gubernur NTT Viktor Laiskodat mengunjungi tambak garam yang ada di desa Nunkurus, Kabupaten Kupang.
Baca Juga: Impor Capai 2,8 Juta Ton, Bagaimana Kabar Garam NTT?
Jokowi optimistis menyampaikan NTT mampu menjadi salah satu daerah pusat produksi garam nasional.
“Hasilnya di sini lebih bagus, lebih putih, dan bisa masuk ke garam Industri, kalau diolah lagi bisa menjadi garam konsumsi,” tutur Jokowi seperti yang ditulis Antara.

Hal ini dikatakannya dilihat dari potensi NTT yang besar. NTT yang adalah wilayah kepulauan memiliki sekitar 1. 200 pulau. Dengan luas wilayah daratan 47.931.54 km². Sedangkan luas wilayah perairan mencapai kurang lebih 200.000 km² diluar perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).
Musim panas yang bisa mencapai 8-9 bulan setiap tahunnya digadang-gadang menjadi provinsi penghasil garam yang mampu menyokong kebutuhan garam dalam negeri. Sehingga negara ini tak harus mengimpor lagi.
Tingkat impor garam di Indonesia sendiri terus meningkat tiap tahunnya. Data BPS menyebut, pada 2019 Indonesia mengimpor 2,5 juta ton garam. Di 2020 naik 2,6 juta ton. Lalu di 2021 mencapai 2,8 juta ton.
Di kesempatan berbeda, gubernur NTT, Viktor Laiskodat mengharapkan di 2023, NTT mampu memproduksi hingga satu juta ton untuk nasional.
Namun di 2021, badai siklon tropis seroja yang melanda NTT menghancurkan tambak-tambak garam. Proses produksi garam sempat tersendat saat itu. Namun kemudian kembali berproses walau dengan kapasitas yang perlahan mulai menurun.
Ferdinan mengatakan, kapasitas bahan baku garam yang dihasilkan di tambak-tambak mulai berkurang akibat iklim yang tak menentu.
Sudah tiga bulan pabrik CV Raja Baru yang dibangunnya sejak 2013 tidak beroperasi. Para karyawan dirumahkan.
Ia menceritakan, tahun-tahun sebelumnya stok bahan baku garam bisa bertahan hingga tahun berikutnya. Namun kini untuk menyanggupi kebutuhan distributor mereka pun tak mampu.
“Ini saja sampai Mei ini masih hujan. Kemungkinan pertengahan Juni baru di tambak bisa panen. Itu baru kita bisa produksi,”jelas Ferdinan.
Kalaupun ada bahan baku yang dijual sekarang, harganya dipastikan naik.
“Bisa sampai Rp 4.000 per kilo. Standarnya itu ya Rp 700,” paparnya.
Pria yang pada 1996 disekolahkan ke PT. Garam di Madura ini menjelaskan, untuk menghasilkan garam yang berkualitas memang butuh upaya yang lebih.
Garam harus mengandung natrium klorida 94,7% dengan proses penguapan dan pengkristalan di waduk yang berbeda. Lalu dengan kandungan magnesium di bawah 1%, pun garam harus yang putih bersih.
“Untuk putih bersih ini kita pakai teknologi Geomembran namanya Jadi kita alas. Kita pasang itu untuk memisahkan air dengan tanah,” ujarnya.

“Kalau tambak konvensional garam ada yang menguap ke atas, ada yang menyerap ke tanah,” jelasnya lagi.
Syarat-syarat inilah yang masih dianggap sulit oleh para petani garam. Ferdinan mengatakan, pemerintah boleh saja mencanangkan program ini ke berhektar-hektar lahan di NTT.
“Tapi harus bantu juga. Kalau ada banjir rob, lalu hujan di darat ketemu, setelah itu tambaknya tidak ada lagi. Jadi harus ada pematangnya,” usul Ferdinan.
Baca Juga: Masyarakat Pesisir Sabu Raijua, Timor dan Rote Waspada Banjir Rob
“Alat-alat ini juga mahal. Ada yang mereka kasih bantuan, tapi mereka kasih saja tidak kasih tahu penggunaannya bagaimana yang baik, tidak ada pendampingan, sama saja,” ujarnya menyesalkan.
Selain itu, pemahaman masyarakat yang masih menganggap garam yang baik adalah garam yang dimasak masih jadi satu tantangan tersendiri.
“Mereka anggap garam kita ini mentah karena tidak dimasak. Ini kan prosesnya pakai matahari saja,” jelas pria 63 tahun ini.
Pria yang dulunya bekerja di Disperindag ini menambahkan, perubahan iklim yang kini mulai terasa ini harusnya juga diantisipasi oleh pemerintah.
Oleh karena pembuatan garam yang berkualitas mengandalkan matahari, maka perlu adanya gudang untuk menampung bahan-bahan baku ini agar tetap terjaga.
“Potensi NTT ini besar sekali. Tapi sekarang saja tambak-tambak yang mereka bilang mau bangun ribuan hektar itu, di mana? Tidak terdengar kabarnya,” pungkas Ferdinan.****




