Jakarta – Tantangan media saat ini didominasi untuk memenuhi aspek kesukaan yang berubah sangat cepat seperti informasi yang viral. Padahal, media berkualitas harus mengedepankan kebutuhan sehingga tetap dekat dengan konsumen (pembaca/penonton). Kolaborasi yang semakin luas sangat diperlukan untuk mendukung media yang berkelanjutan.
Demikian hal yang mengemuka dalam talkshow Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di Jakarta, Jumat (19/5/2023). Hadir sebagai narasumber adalah Wenseslaus Manggut (Ketua AMSI), Kang Bagja (CEO Harapan Rakyat), Rita Hasugian (Pemred KatongNTT.com), Andy Budiman (CEO Kompas Gramedia), dan Ignatius Haryanto (pengamat media).
Talkshow tersebut digelar bersamaan dengan perayaan ulang tahun AMSI ke-6 dan peluncuran E-Learning Training Manajemen Pengelolaan untuk Keberlanjutan Media Digital.
Baca : 64 Media Ikuti Pelatihan Daring AMSI tentang Penguatan Manajemen Bisnis
Wenseslaus dan Andy sepakat bahwa media senantiasa harus menjawab kebutuhan konsumen. Hal itu akan menjadikan pembaca atau penonton tetap setia. Sebaliknya, media yang hanya meladeni aspek kesukaan atau sesuatu yang viral justru bakal ditinggalkan pembaca atau penontong. Aspek kesukaan itu cenderung dikendalikan oleh berbagai platform yang bersifat sementara dan tidak menjawab kebutuhan konsumen.
“Media jangan hanya memenuhi aspek kesukaan yang banyak dikendalikan oleh berbagai platform. Pembaca (konsumen) akan tetap setia jika menjawab kebutuhan mereka,” ujar Wenseslaus.
Baca : Workshop Trusted News Indicator AMSI: Media Harus Sensitif untuk Isu Perempuan dan Anak
Dikatakan, berbagai informasi yang viral justru hanya bersifat menggoda dan sangat cepat berubah. Selain berdampak pada kesetiaan konsumen, perubahan yang begitu cepat menyebabkan tidak ada kedalaman informasi. Jurnalisnya pun akhirnya bersifat generalis karena tidak bisa mendalami satu aspek/isu tertentu.
“Sesuatu yang menggoda itu hanya sementara. Media terpaksa mengikuti sesuatu yang lagi trend atau viral. Pagi, siang, dan malam bisa saja mempunyai informasi yang sangat berbeda-beda. Ini bisa menyebabkan tidak ada yang setia lagi dengan media karena tidak menjawab kebutuhan pembaca atau penonton,” tegasnya.
Andy menambahkan pemenuhan kebutuhan konsumen bisa menjadi penopang aspek bisnis/iklan media. Untuk itu, evaluasi atas konsumen setia perlu terus dilakukan agar berdampak pada komitmen menggunakan atau membeli sebuah produk. “Jadi terus mengedepankan kualitas isi dan sekaligus bisnis media yang sehat,” ujar Andy.
Dalam kesempatan itu, Bagja dan Rita selaku pimpinan media di daerah (Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur/NTT) menjelaskan pentingnya aspek lokalitas yang diangkat media. Hal itu akan memperkuat segmentasi dari media di daerah dan sekaligus eksistensi yang berkelanjutan. Kehadiran AMSI yang mewadahi ratusan media di daerah sangat diperlukan untuk memperkuat kualitas dan membantu penerapan aspek teknologi.
Baca : 11 Media NTT Resmi Gabung ke AMSI
“Peningkatan kualitas, segmentasi dan implementasi teknologi sangat diperlukan. Apalagi kepercayaan terhadap media konvensional juga sangat merosot jauh di daerah. Modul-modul pelatihan dan berbagai pendampingan dari AMSI, serta paket e-learning yang baru diluncurkan akan sangat membantu,” ujar Rita yang pernah lama berkarir di Group Tempo. [Anto]




