Larantuka – Sebagian besar kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat tergantung pada beras dari Makassar (Sulawesi Selatan) dan Surabaya (Jawa Timur). Sebenarnya, sejumlah wilayah di NTT punya potensi padi lahan kering atau biasa dikenal dengan padi gogo. Ragam plasma nutfah padi gogo lokal NTT tersebar di sejumlah wilayah. Bahkan, budaya yang menyatu dengan masyarakat dalam melestarikan padi gogo lokal tersebut. Meski sudah berkurang, tradisi ini masih dijaga di beberapa daerah.
Salah satu inisiatifnya dilakukan kaum muda marga Widin di Desa Hewa, Kecamatan Wlanggitang, Flores Timur yang difasilitasi oleh Thomas Uran dari Yayasan Ayu Tani Mandiri. Setelah melakukan pendampingan dan melakukan dokumentasi bersama, ada sekitar 12 jenis padi lokal. Masing-masing punya nama lokal sendiri, yakni Nalu Gete, Nalu Mitan, Nalu Mune, Nalu Masak, Nalu Muu, Nalu dan Blutuk Lekok Kilan. Kemudian Nalu Lau, Nalu Olon, Nalu Gadis, Nalu Rutun, Nalu Waher, dan Nalu Ampera. Nalu Ampera dianggap sebagai pendatang baru karena merupakan benih yang dibagikan pemerintah.
Baca : El Nino, Pangan Lokal, Bapanas, dan Cium Nasi Putih
“Budidaya dan penyimpanan benih dilakukan secara turun-temurun. Kami bersama para perempuan muda di desa ini mencoba mendokumentasikan ciri khas masing-masing padi tersebut,” ujar Thomas kepada KatongNTT.com.
Dikatakan, Nalu Gete berwarna merah sedangkan Nalu Mita berwarna hitam umumnya dijual di pasar secara pribadi. Jenis Nalu Gete umumnya adalah jenis padi tahan angin sehingga biasa ditanam. Sedangkan Nalu Gadis umumnya tahan panas. Dengan demikian jenis padi ini sebenarnya secara alamiah sudah terseleksi.

Namun Thomas mengakui dua belas jenis padi ladang ini perlu diverifikasi lebih lanjut dan diteliti karakteristiknya. Ini pula yang mendasari KatongNTT.com belum menyebutkan sebagai varietas karena butuh penelitian lebih lanjut.
“Dokumentasi ini masih perlu diteliti lebih lanjut oleh pihak yang berwenang. Apakah perguruan tinggi atau lembaga penelitian pemerintah yang dibantu oleh petugas penyuluh lapangan,” ujar Thomas yang aktif dalam Koalisi Pangan Baik (KPB) ini.
Sejumlah wilayah NTT lainnya pun biasanya punya jenis benih padi lokal dengan tradisi pola budi daya tersendiri. Salah satunya di Kabupaten Manggarai Timur yang dikenal dengan Weri Mata Nii. Weri berarti tanam, sedangkan mata nii berarti benih padi. Jadi, secara harafiah Weri Mata Nii berarti menanam benih padi. Sebelum menanam benih padi di lahan kering yang sudah dibersihkan, terlebih dahulu para tua adat melaksanakan ritual di sudut lahan. Ada sesajian dari bahan ayam dan babi dipersembahkan kepada Sang Pencipta, para leluhur, dan alam itu sendiri.
Baca : Edisi Perempuan NTT: Walau Rajin Berladang, Tapi Pembangunan Meninggalkan Perempuan
Di Manggarai Barat, Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) Labuan Bajo, juga sudah melakukan upaya pelestarian benih padi lokal. Hal yang sama juga dilakukan Wahana Tani Mandiri (WTM) pimpinan Winfridus Keupung di Kabupaten Sikka. Plasma nutfah padi gogo lokal NTT sudah pernah dikoleksi dan dievaluasi tim peneliti Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan (BPTP) Bogor pada tahun 1997. Saat itu terdeteksi 97 aksesi (varietas) dari 19 kabupaten di NTT. Sebagian besar peneliti BPTP saat ini sudah beralih ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan semoga koleksi-koleksi tersebut masih tersimpan dengan baik. [Anto]




