• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Senin, Maret 9, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Sorotan

El Nino, Pangan Lokal, Bapanas, dan Cium Nasi Putih

Tim Redaksi by Tim Redaksi
3 tahun ago
in Sorotan
Reading Time: 3 mins read
A A
0
El Nino, Pangan Lokal, Bapanas, dan Cium Nasi Putih

Lahan kering dengan tanaman singkong di Maumere, Sikka, NTT,

0
SHARES
95
VIEWS

Kupang – Setiap akhir pekan, KatongNTT.com berusaha menyajikan tulisan ringan seputar pangan dan kearifan lokal. Beberapa diantaranya sudah disajikan seperti Laku Tobe dan Sombu yang berbasis singkong. Sejumlah tulisan sebelumnya juga sudah diulas, meski bersifat umum dengan maksud mengingatkan ada budaya pangan lokal. Jauh sebelum beras dan terigu ‘menjajah’ masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dan puluhan juta warga Indonesia Timur lainnya.

Judul diatas mungkin terkesan sulit dipahami. Setidaknya itu menunjukkan betapa ‘rumitnya’ merangkai kalimat yang tepat agar mudah dimaknai pembaca. Penjelasan singkat dalam tulisan ini bisa memudahkan pemahaman yang mau disampaikan setelah sepekan berada di Kupang dan Maumere.

BacaJuga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

3 Maret 2026
Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

18 Agustus 2025

Baca : Puncak El Nino, NTT Dilanda Kekeringan Ekstrem dan Angin Kencang

Sejak akhir 2022 lalu, prediksi El Nino yang memicu kemarau panjang sudah disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Pemerintah pusat pun menyiapkan sejumlah antisipasi, salah satunya sudah dibahas dalam rapat kabinet Juli lalu. Di NTT, meski dalam skala kecil, pemerintah provinsi sudah berupaya menyiapkan sumur bor, pompa air dan sejumlah bantuan lainnya untuk mengantisipasi kekeringan. Antisipasi jangka pendek tersebut sangat diperlukan karena bisa berpotensi bencana kelaparan.

Namun, agenda jangka panjang agar komoditas pangan yang bisa beradaptasi dengan perubahan iklim jauh lebih penting. Sorgum sebenarnya sudah akrab dengan masyarakat NTT, tapi sepertinya hanya jadi pembahasan yang fenonemal. Mulai dari Presiden Joko Widodo beserta jajarannya seperti Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko yang bolak-balik Pulau Sumba. Mudah-mudahan ikon sorgum tidak tenggelam lagi setelah lebih dari satu dekade silam pernah ramai. Dahlan Iskan sebagai salah satu menteri era Soesilo Bambang Yudhoyono, juga berkeliling hingga ke Timor (Malaka) untuk mengangkat potensi sorgum. Penulis kebetulan saat itu pernah diajak lembaga Swisscontact mampir ke Adonara, Flores Timur, untuk melihat kelompok petani yang kemudian belakangan menjadi cikal bakal booming sorgum.

Baca : Uwi Ai Ndota, Singkong Cincang dari Ende yang Lezat dengan Kuah Ikan

Selain sorgum, ada tradisi dan kearifan lokal lainnya, yakni singkong atau di Indonesia Timur lebih dikenal dengan ubi kayu. Di Papua atau Maluku lebih akrab dengan kasbi. Pada Selasa (4/7/2023) lalu digelar webinar dengan tema Singkong, El Nino, dan Antisipasi Rawan Pangan NTT yang diinisiasi Masyarakat Singkong Indonesia (MSI). Tentu ada berbagai upaya sejenis yang juga dilakukan banyak pihak untuk mengantisipasi rawan pangan.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebagai salah satu lembaga yang berwenang soal pangan juga sering menyebutkan antisipasi atas badai kemarau El Nino tersebut. Salah satunya mengoptimalkan pasokan pangan lokal yang tidak tergantung pada beras. Apalagi, dampak perang Ukraina-Rusia menyebabkan pasok gandum berkurang dan beberapa negara, seperti India, mulai mengentikan ekspor beras karena khawatir krisis pangan global.

Baca : Impor Meningkat, 13 Menteri Hingga Presiden Pernah Berkunjung dan Bahas Garam NTT

Namun, harapan terhadap lembaga baru ini yang lahir karena Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan pun masih banyak ditunggu. Usai rapat terbatas di Istana Negara pada awal Agustus lalu, Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi mengatakan pihaknya mulai memperbesar pangan beras hingga Desember 2023.

Bertepatan dengan HUT Bapanas di alun-alun Kantor Gubernur NTT, Sabtu (12/8/2023) lalu, Gubernur NTT Viktor B Laiskodat pun memberikan pernyataan seputar kemiskinan dan cium nasi putih. Pernyataan yang menjadi kontroversi itu mendapat ragam tanggapan di media sosial. Mudah-mudahan semua pihak yang heboh di media sosial tidak melupakan substansi utama mendorong pangan lokal dan tentunya memberi prioritas ketersediaan protein.

Baca : Ikan Asap “Belo-Belo”, Kuliner Khas Alor untuk Pemberdayaan Perempuan

Selang beberapa hari usai Bapanas bagi-bagi beras di Kupang, ada inisiatif baik dari beberapa koalisi masyarakat, seperti Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Voices for Just Climate Action (VCA), dan WRI Indonesia. Dalam semiloka yang digelar di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Senin (14/8/2023) ditekankan perlunya keberagaman pangan lokal sebagai fondasi ketahanan pangan di NTT yang beriklim kering. Sayangnya, pola konsumsi masyarakat masih didominasi beras dan terigu dari luar wilayah sehingga meningkatkan kerentanan pangan dan gizi.

Semoga El Nino yang dalam bahasa Spanyol artinya “anak laki-laki” ini mempercepat langkah-langkah nyata memuliakan pangan lokal. Bisakah dengan membatasi pasokan pangan dari luar NTT? Sangat sulit dan kompleks. Mungkin inilah namanya keberanian sejati dari para kepala daerah. Kalaupun gagal harus diberi apresiasi karena sudah pernah dicoba. Selamat menyambut El Nino de Navidad. [Heri SS]

Tags: #El Nino#Nasi Putih#Pangan Lokal#singkong
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

by Yanti Mesak
3 Maret 2026
0

Untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 yang dimulai pada 17 Februari 2026 dan berakhir pada 3 Maret 2026, keluarga Frans...

Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

by Difan Fandi
18 Agustus 2025
0

Desa Natarmage - Pagi itu, saya berangkat dari Desa Pruda menuju Natarmage, Kecamatan Waiblama, untuk mengikuti perayaan HUT RI ke-80...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati