• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Jumat, April 24, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Opini

Kamboja, Singkong ‘Pejabat’, dan Sehari Tanpa Nasi

Oleh : Heriyanto S. Soba, Sekjen Masyarakat Singkong Indonesia

Tim Redaksi by Tim Redaksi
3 tahun ago
in Opini, Pilihan Editor
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Kamboja, Singkong ‘Pejabat’, dan Sehari Tanpa Nasi

Etalase berbagai olahan dari ingkong untuk pangan dan industri.

0
SHARES
90
VIEWS

Bogor – Dua bulan terakhir, kekeringan dan ketersediaan pangan semakin menjadi topik hangat. Meski sejak awal tahun 2023, krisis pangan di Indonesia sudah mulai dikhawatirkan akibat El Nino. Langkah paling mudah adalah impor dari negara yang masih mau melepas stok pangan. Jika selama beberapa dekade lalu, Thailand dan Vietnam jadi sumber beras impor, maka per awal September 2023 lalu, Indonesia akhirnya mendatangkan 250.000 ton beras dari Kamboja. Impor pangan merupakan hal yang biasa untuk Indonesia. Tapi mendatangkannya dari Kamboja yang pernah dipimpin rezim kejam Pol Pot justru perlu menjadi perhatian.

Baca : Kekeringan, Stunting, dan Opor Singkong

BacaJuga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

13 April 2026
Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

8 April 2026

Sekitar tahun 2008, ketika menghadiri sebuah konferensi jurnalis Asia, penulis pernah berkunjung ke beberapa kawasan sekitar Pnom Penh. Sisa-sisa kekejaman Khmer Merah masih menghiasi beberapa sudut kota dan belum ada yang begitu menonjol dari pembangunan Kamboja saat itu.  Rupanya, Kamboja mulai menggeliat dalam satu dekade terakhir. Hal itu bersamaan dengan meningkatkan investasi asing dalam segala lini, termasuk sektor pangan.

Beberapa hari setelah keputusan impor beras dari Kamboja, sebuah media nasional menulis dengan judul “RI Makin Tertinggal! Kamboja Siap Jadi Raja Beras di ASEAN”. Mungkin saja, negara dengan 17 juta penduduk (3 kali penduduk Nusa Tenggara Timur/NTT) tidak serumit mengurus 260 juta penduduk di Indonesia. Apalagi jika raja Kamboja sebagai kepala negara dan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan memiliki visi yang sama.

Baca : Optimalkan Singkong, NTT Bisa Kurangi Ketergantungan Beras dari Luar

Keputusan impor tidak bisa dihindari. Harga beras terus meningkat dalam tiga pekan terakhir. Badan Pangan Nasional dan sejumlah lembaga terkait terus berupaya agar harga beras bisa ditekan. Satuan Tugas Mafia Pangan pun mulai bergerak. Saat-saat seperti inilah, kesadaran dan seruan mengurangi konsumsi nasi mulai bergema. Narasi pangan lokal semakin mendapat tempat dan masyarakat diajak mengonsumsi singkong, umbi-umbian dan pangan lokal lainnya.

Rekaman KatongNTT.com menunjukkan setidaknya ada dua pimpinan daerah (Kota Kupang dan Kabupaten Flores Timur) yang secara terbuka mengajak konsumsi pangan lokal dalam sebulan terakhir. Kemudian ada juga instansi yang mengajak mengoptimalkan lahan tidur dengan menanam singkong.

Pemerintah Kota Kupang meminta warga setempat mengkonsumsi pangan lokal dan untuk tidak hanya bergantung pada beras sebagai makanan pokok. “Kondisi pangan saat ini semakin terbatas apalagi Kota Kupang bukan merupakan daerah penghasil beras, sehingga masyarakat perlu melakukan variasi pangan untuk kebutuhan keluarga,” kata Penjabat Wali Kota Kupang Fahrensy P Funay di Kupang, Kamis (5/10/2023).

Ajakan itu terkait permintaan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian agar pemerintah terus mendorong masyarakat melakukan diversifikasi pangan guna mengantisipasi kekurangan pangan sebagai dampak kekeringan.

Sebelumnya, Penjabat Bupati Flores Timur Doris Alexander Rihi mengeluarkan imbauan tak makan nasi setiap Jumat kepada warganya. Penggantinya dengan makanan lokal bukan nasi antara lain ubi, pisang, jagung bose, jagung titi, sayur-sayuran lokal, ikan dan aneka olahan pangan lainnya.

Baca : Kemarau Landa NTT, Budidaya Singkong Jadi Pilihan Atasi Krisis Pangan

Maklumat tersebut disampaikan melalui Surat Edaran (SE) dengan Nomor: Distan KP.521/610/IX/2023 tentang Gerakan ‘Nona Sari Setia’ (No Nasi Satu Hari Sehat Bahagia dan Aman) per tanggal 21 September 2023, di tengah harga beras yang terus naik. SE itu ditujukan kepada Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat, Kepala Desa/Lurah, serta pimpinan BUMN dan BUMD di seluruh Kabupaten Flores Timur.

Imbauan puasa nasi itu merupakan upaya menyikapi inflasi daerah yang dipengaruhi kenaikan harga beras. Apakah Kota Kupang, Flores Timur, dan NTT secara umum punya kebijakan yang lebih sistematis dari sekadar seruan dan surat edaran? Ini tantangan yang tidak mudah karena kondisi yang sama juga terjadi secara nasional. Gema sorgum di Sumba yang pernah mendatangkan Presiden Joko Widodo pun mulai tenggelam. Justru gerakan-gerakan dari masyarakat sejak satu dekade silam sudah berkembang bagus, sekalipun minim sentuhan pemerintah.

Kebijakan tersistematis sangat diperlukan dan pimpinan daerah pun harus mulai mempraktikannya dalam konsumsi sehari-hari. Kita tunggu ada pejabat dari pusat hingga daerah yang konsisten konsumsi singkong seminggu sekali. [Heri SS]

Tags: #Beras#impor#Kamboja#singkong
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

by Gerardus Taena
13 April 2026
0

Konsep komunio merupakan salah satu pilar teologis yang mendasar dalam diskursus kekristenan, terutama dalam konteks Gereja dan kehidupan religius. Dalam...

Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

by Frumentiana Leto
8 April 2026
0

Pernahkah kita membayangkan seorang bapak yang berangkat sebelum fajar menyingsing, mendayung perahu ke tengah laut, dan pulang siang hari dengan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati