Kupang- Angka bunuh diri cenderung meningkat di beberapa daerah termasuk Nusa Tenggara Timur. Kasus anak-anak bunuh diri karena tidak memiliki ruang untuk berbagi masalah dengan orangtua dan keluarga.
Era digital saat ini membuat banyak anak muda menghabiskan waktu di media sosial daripada bercengkrama dengan orangtua atau keluarga. Perubahan perilaku ini berdampak pada pilihan mengatasi persoalan. Anak-anak menjadi tertutup dengan orangtua maupun anggota keluarga lainnya dan memilih mengungkapkan masalahnya di media sosial.
Baca juga: Fakta Penting Mengapa Usia Muda Rentan Bunuh Diri
“Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah mereka membaca informasi di media sosial. Mereka memandang bahwa bunuh diri adalah solusi karena banyak dilakukan oleh orang-orang yang mereka lihat di medsos,” kata Maria Ikun dalam Live di Instagram Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) NTT, Rabu, 29 November 2023.
Maria Ikun menjelaskan, komentar-komentar berbau ajakan bunuh diri berseliweran di media sosial. Komentar tersebut diduga berasal dari orang-orang yang memiliki permasalahan dan belum menemukan solusi. Komentar ini membuat pembaca berpikir bahwa bunuh diri sebagai solusi.
“Sangat banyak kita jumpai contohnya di Tiktok waktu kasus bunuh diri diposting lalu ada yang ‘berkomentar: ’kak aku ikut ya’, dan sangat banyak sekali komentar seperti itu. Komentar di medsos yang seolah olah memvalidasi bunuh diri sebagai tindakan yang benar,” kata Mozes Touw yang memandu diskusi Live Himpsi.
Baca juga: Mahasiswa NTT Bunuh Diri, Layanan Psikologi Kampus Hanya ‘Hiasan’ Akreditasi
Maria kemudian menyarankan agar orangtua dapat membangun kedekatan dan komunikasi yang intens dengan anak mereka. Sehingga anak memiliki tempat yang nyaman untuk berbagi dan mencari solusi.
” Jadikan rumah tempat yang nyaman dan tempat untuk semua anak dapat diterima dalam keadaan apapun karena ada kasih sayang yang mereka dapatkan,” ujar Maria Ikun.
Sehingga media sosial berperan hanya sebagai alat hiburan, bukan untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi.
Baca juga: Potret Bunuh Diri di Sumba, WHO: 700 Ribu Orang Setiap Tahun
Dosen Psikologi Universitas Nusa Cendana (Undana), Indra Yohanes Killing mengatakan, perilaku masyarakat turut memicu terjadi bunuh diri. Misalnya masyarakat yang terlalu cepat menghakimi, kurang mendengar, membanding-bandingkan kehidupan orang lain. Lalu mereka enggan memahami dan menilai semua orang punya ketahanan mental yang sama.
“Kita kurang budaya ‘kasih telinga’ untuk orang lain dan masyarakat kita umumnya lebih cepat menggurui orang yang mempunyai pengeluhan padahal kadang mereka hanya butuh seseorang untuk mendengar saja,” kata dia di ruang kerjanya, 3 November 2023.
Baca juga: Film “Langkah-langkah Kecil”, Refleksi Dunia Pendidikan Indonesia dari Sumba-NTT
Indra menyebut mental sama halnya dengan tubuh. Tubuh bisa sakit, mental pun bisa sakit akibat sesuatu, itu hal yang manusiawi. Ada orang yang secara fisik mampu menerima pukulan tapi mentalnya mungkin tidak demikian ketika terjadi sesuatu masalah. Ada yang fisiknya rentan tapi mentalnya mampu menadah tekanan yang kuat.
Masyarakat NTT umumnya tidak mau melihat lebih dalam kondisi mental seseorang berdasarkan serangkaian peristiwa, emosi atau pengaruh lingkungan terhadapnya. (Ayunda)


