Kupang – Beberapa kasus bunuh diri terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama bulan Oktober 2023 ini yang dialami oleh mahasiswa bahkan pelajar.
Ada 3 mahasiswa dari perguruan tinggi berbeda yang mengakhiri hidup mereka sendiri sebulan lalu. Kompas juga menulis dua kasus itu terjadi di Kota Kupang dan 1 lainnya terjadi di Ruteng, Manggarai.
Baca juga : Tekan Angka Bunuh Diri di NTT, Psikolog di Tiap Puskesmas Jadi Kebutuhan
Tidak ada fakta tunggal yang mendorong seseorang untuk bunuh diri. Dalam kasus ini mencuat beberapa faktor penyebab para mahasiswa ini memilih jalan akhir seperti itu. 2 mahasiswa di Kota Kupang misalnya, polemik personal dan perkuliahan diperkirakan jadi pemicu.
Sedangkan di dalam lingkungan kampus sendiri dinilai tak ada tempat bagi mahasiswa untuk terbuka menyampaikan tekanan yang mereka alami, berbanding dengan tuntutan yang mereka lakoni selama berkuliah.
Baca juga : NTT Kekurangan Psikolog Dampingi Anak Korban Pelecehan
Dosen Psikologi Universitas Nusa Cendana (Undana), Indra Yohanes Kiling, di ruang kerjanya, pada Jumat, 3 November 2023 menekankan ketimpangan itu.
Padahal dalam lingkungan kampus sendiri dituntut oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk sudah memiliki layanan psikologi.
Menurut Indra layanan psikologi harusnya sudah mulai berfungsi di semua kampus di NTT sesuai Undang-undang Pendidikan dan Layanan Psikologi yang disahkan Juli 2022 lalu.
Baca juga : Transformasi Irene Kanalasari dari Penyintas Kekerasan Seksual Menjadi Pengacara Anak
Namun menurut Wakil Dekan I Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana ini layanan tersebut justru hanya pelengkap tercapainya penilaian akreditasi. Layanan ini cuman muncul berkala dan biasanya tak berfungsi pasca pemeriksaan atau evaluasi itu.
Baca juga : 3 Kabupaten di NTT Tak Punya Unit Khusus Tangani Perempuan dan Anak
“Ada fakultas yang punya tapi ada juga baru bikin kalau ada evaluasi akreditasi. Ini yang harusnya diseriusi bukan dipikirkan belakangan,” tukasnya.
Fungsi layanan psikologi ini sebenarnya untuk mendalami penyebab mengapa performa Indek Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa anjlok, mengapa tunggakan administrasi terjadi, atau berbagai hal lainnya yang bisa dideteksi dari mahasiswa.
Contohnya, masalah performa mahasiswa dalam perkuliahan yang juga diduga dialami 2 mahasiswa di Kota Kupang hingga berujung pada kasus kematian akibat bunuh diri.
Baca juga : Kehidupan Anak Pekerja Migran Yang Terabaikan
Menurutnya ini menjadi pekerjaan rumah atau PR bagi semua kampus untuk lebih bisa mendeteksi lebih cepat kebutuhan mahasiswa secara psikis dan mencegah risiko kehilangan nyawa.
Urusan pendidikan bukan saja soal menyediakan gedung tinggi atau infrastruktur semata, tutur Indra, akan tetapi bagaimana menghasilkan pribadi yang mampu bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Baca juga : Harus Izin Menteri ESDM, Potensi Sumur Bor Liar di NTT Bakal Bertambah
“Kita selalu tipikal memikirkan fisik tapi pelayanan untuk mental jadi nomor ke sekian maka jadi PR lagi untuk kita,” ungkap dia.
Tidak saja mahasiswa, sebelumnya seorang siswi SMA di Timor Tengah Utara (TTU) pun nekad mengakhiri hidupnya September lalu.
Peran dari guru bimbingan konseling atau guru BK dalam layanan konseling bisa lebih dipertegas lagi di seluruh sekolah dengan gerakan yang masif.
Baca juga : Anak Kota Kupang Rentan Jadi Korban Kekerasan Online
Menurutnya perlu disesuaikan jam-jam khusus untuk berbicara lepas dan saling mendengar pengeluhan satu dengan yang lainnya. Praktek ini bisa diterapkan di pada mahasiswa maupun juga para pekerja kantoran.
Indra mengatakan bentuknya bisa seperti kelompok atau komunitas positif yang bertemu dan membangun komunikasi yang bisa menumbuhkan empati.
“Haruslah itu dibuat di kantor, di sekolah, nantinya terbiasa agar orang yang tertutup bagaimana pun, begitu satu lingkaran itu sudah berbagi cerita maka dia pun akan bercerita,” tukasnya.
Baca juga : 10 Pria di Kupang Setubuhi Anak Hingga Pendarahan
Menurutnya masyarakat saat ini memerlukan ruang untuk berbagi pengeluhan dan berbicara mengenai kondisi kerja di kantor atau tekanan atasan, kehidupan remaja dan pendidikan, maupun hubungan dengan pasangan.
“Seminggu sekali atau sejam untuk berbicara atau berbagi pengeluhan. Luangkan waktu untuk berbicara bersama, bebas tanpa tema, itu pendekatan di Amerika seperti itu,” tambah Wakil Dekan I Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana ini. ****




