Kupang – Akar masalah dan pemicu seseorang bunuh diri tidaklah tunggal. Emile Durkheim, Bapak Sosiologi Modern, dalam bukunya yang terkenal Suicide (1987), menyebutkan ada empat jenis bunuh diri. Ini didasarkan pada dua kekuatan sosial yakni pertama, integritas sosial berupa kemampuan individu untuk terikat pada tatanan masyarakat. Kedua, regulasi moral berupa aturan atau norma yang mengatur kehidupan individu.
Baca juga: Masyarakat NTT Punya Andil Besar Dalam Kasus Bunuh Diri
Berikut empat jenis bunuh diri menurut Durkheim:
- Egoistik. Bunuh diri egoistik akibat terlalu sedikitnya integrasi sosial yang berhasil dilakukan seseorang dengan kelompok sosial seperti bergaul dan berinteraksi.
- Altruistik. Bunuh diri altruistik terjadi akibat dari integrasi sosial yang terlalu kuat sehingga individu mengorbankan dirinya untuk kepentingan kelompoknya. Contohnya aksi bunuh diri (kamikaze) para pilot Jepang yang menabrakkan pesawat tempurnya ke sejumlah kapal induk sekutu pada Perang Dunia II.
- Anomik. Bunuh diri anomik yang dilakukan ketika tatanan, hukum, serta aturan moralitas sosial mengalami kekosongan.
- Fatalistik. Bunuh diri fatalistik terjadi ketika nilai dan norma yang berlaku di masyarakat meningkat. Sehingga membuat individu atau kelompok tertekan oleh nilai atau norma itu.
Baca juga: Fakta Penting Mengapa Usia Muda Rentan Bunuh Diri
Mengutip Tempo.co Psikolog Tience Debora Valentina mengemukakan perempuan tiga kali lebih rentan melakukan percobaan bunuh diri daripada pria. Namun, pria yang meninggal karena bunuh diri empat kali lebih banyak dibandingkan perempuan.
Menurutnya, laki-laki lebih cenderung melakukan tindakan bunuh diri fatal yang berakibat pada kematian. *****




