• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Selasa, April 21, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Opini

Tentang Paus Fransiskus (2)

Oleh: Tonnio Irnawan, Pembaca buku sejarah

Tim Redaksi by Tim Redaksi
2 tahun ago
in Opini
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Paus Fransiskus (ANSA)

Paus Fransiskus (ANSA)

0
SHARES
40
VIEWS

Pengantar: Pemimpin umat Katolik sedunia (Holy See), Paus Fransiskus akan berkunjung ke Indonesia pada tangga 3-6 September 2024. Ini merupakan kunjungan kenegaraan Paus Fransiskus yang pertama ke Indonesia.  Dalam kunjungan Paus Fransiskus ke kawasan Asia Pasifik, Indonesia menjadi negara pertama dikunjungi untuk kemudian Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura.

Paus yang dikenal dekat dengan orang-orang yang disingkirkan atau tidak dianggap keberadaannya akan mengadakan sejumlah pertemuan kenegaraan dan memimpin misa dengan ribuan umat Katolik di Jakarta. Menurut data Kementerian Agama, jumlah umat Katolik hingga akhir 2022 sebanyak 8,5 juta jiwa atau sekitar 3,06 persen dari total populasi warga Indonesia yakni 277,75 juta jiwa. 

BacaJuga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

13 April 2026
Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

8 April 2026

 

Rabu pagi, 27 Februari 2013 waktu Roma, pesawat udara yang Jorge Mario Bergoglio tumpangi dari Buenos Aires, ibu kota Argentina, mendarat di lapangan udara internasional – Leonardo da Vinci, Roma. Jorge adalah satu dari 115 kardinal yang akan mengikuti konklaf untuk memilih paus menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri karena alasan usia lanjut.

Baca juga: Tentang Paus Fransiskus (1)

Tidak seperti konklaf untuk memilih pengganti Paus Yohanes Paulus II, kali ini tidak ada kardinal yang disebut – sebut memiliki peluang besar. Pada konklaf sebelumnya, Kardinal Joseph Ratzinger disebut – sebut mempunyai peluang dan ternyata ia yang dipilih sebagai paus ke-265. Ratzinger memilih nama Benediktus XVI.

Karena tidak ada yang disebut – sebut memiliki peluang besar, maka 115 kardinal yang datang dari seluruh dunia memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih.

Meski sore sudah berganti malam dan gerimis jatuh, puluhan ribu umat tetap bertahan di Lapangan Santo Petrus – Vatikan. Mereka menantikan munculnya asap putih dari cerobong asap Kapel Sistina. Sebelumnya yang ke luar adalah asap hitam tanda para kardinal belum berhasil memilih seorang kardinal sebagai Paus.

Namun malam itu kesetiaan menanti mendapatkan yang mereka kehendaki. Asap putih ke luar dari cerobong asap. Umat spontan berteriak gembira dan bertepuk tangan. Sudah terpilih paus baru. Hidup paus!  Hidup paus!

Baca juga: Mendobrak Cara Pandang dalam Beragama

Rabu malam (13/3/2013) atau Kamis (14/3/2013) WIB jendela besar teras utama Basilika Santo Petrus dibuka. Tampaklah Kardinal Proto-Diakon Jean-Louis Tauran membacakan pengumuman telah terpilihnya paus ke-266 yakni Kardinal Jorge Mario Bergoglio yang memilih nama Fransiskus.

Ada dua Fransiskus dalam daftar santo : Fransiskus Xaverius dan Fransiskus Asisi. Yang mana yang dipilih Kardinal Jorge Mario Bergoglio?

Meski ia seorang Jesuit, kardinal ini menunjuk Fransiskus Asisi yang ia maksudkan. Fransiskus Asisi adalah pendiri Ordo Fransiskan atau Ordo Saudara-saudara Hina Dina (OFM). Sedangkan Fransiskus Xaverius adalah salah seorang pendiri Ordo Serikat Jesus (SJ).

Paus baru berkewarganegaraan Argentina, sehingga 3 paus terakhir adalah nonItalia. Paus Yohanes Paulus II adalah orang Polandia dan Paus Benediktus XVI adalah orang Jerman.

Meski warga negara Argentina, Paus Fransiskus berdarah Italia dari ayah ibunya. (Bersambung)

 

Tags: #BasilikaSantoPetrus#Fransiskus Xaverius#FransiskusAsisi#JorgeMarioBergoglio#PausFransiskus#PemilihanPaus#SerikatJesuit
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

by Gerardus Taena
13 April 2026
0

Konsep komunio merupakan salah satu pilar teologis yang mendasar dalam diskursus kekristenan, terutama dalam konteks Gereja dan kehidupan religius. Dalam...

Ilustrasi Perdagangan Orang (Jalastoria)

Paradoks Kemiskinan di NTT

by Frumentiana Leto
8 April 2026
0

Pernahkah kita membayangkan seorang bapak yang berangkat sebelum fajar menyingsing, mendayung perahu ke tengah laut, dan pulang siang hari dengan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati