• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, Mei 13, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Perempuan dan Anak

Sejarah Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

Tanggal ini dipilih untuk menghormati tiga perempuan bersaudara, Mirabal bersaudara yakni Patria, Minerva dan Maria Teresa pada 25 November 1960 dibunuh secara keji oleh kaki tangan dictator Republik Dominika waktu itu, Rafael Trujillo.

Rita Hasugian by Rita Hasugian
6 bulan ago
in Perempuan dan Anak
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Perempuan berdemonstrasi untuk hak perempuan. (Freepik)

Perempuan berdemonstrasi untuk hak perempuan. (Freepik)

0
SHARES
62
VIEWS

Setiap tanggal 25 November kita memperingati Hari Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Kampanye selama 16 hari ini berpuncak pada 10 Desember yang diperingati sebagai Hari Hak Asasi Manusia Internasional. Kampanye ini untuk mendorong upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia.

Nga sekadar memperingati, kita sebaiknya perlu mengetahui sejarah lahirnya 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang diperingati di seluruh dunia.

Siapa penggagas Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan?
Women’s Global Leadership Institute tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women”s Global Leadership.

BacaJuga

Para peserta Diskusi Komunitas Breaking Barries, Building Feature #KickOutGBV# berfoto bersama dilatari bola untuk olahraga sepak bola di Jakarta, 6 Maret 2026. (Foto: Magdalene)

Sepak Bola Jadi Wadah Promosi Ruang Aman untuk Perempuan

10 Maret 2026

Sewindu Komunitas Lakoat Kujawas, Jatuh Bangun Melestarikan Budaya Mollo

19 Februari 2026

Baca juga: Ribuan Kasus Kekerasan Menimpa Perempuan di NTT, Mengapa? 

Mengapa dipilih tanggal 25 November?
Sejumlah aktivis hak perempuan di Kongres Perempuan Amerika Latin dan Karibia pada tahun 1981 pertama kali mencetuskan tanggal 25 November sebagai hari melawan kekerasan berbasis gender. Tanggal ini dipilih untuk menghormati tiga perempuan bersaudara, Mirabal bersaudara yakni Patria, Minerva dan Maria Teresa pada 25 November 1960 dibunuh secara keji oleh kaki tangan dictator Republik Dominika waktu itu, Rafael Trujillo.

Mirabal bersaudara gigih memperjuangkan demokrasi dan keadilan serta menjadi simbol perlawanan terhadap kediktatoran Republik Dominika waktu itu. Sebelum dibunuh, Mirabal bersaudara berulang kali mendapat tekanan dan penganiayaan dari penguasa kediktatoran Republik Dominika.

 Apa saja agenda bersamanya?
Dalam rentang 16 hari, ada agenda bersama yang dikampanyekan, yakni:

  • Menggalang gerakan solidaritas berdasarkan kesadaran bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan pelanggaran HAM.
  • Mendorong kegiatan bersama untuk menjamin perlindungan yang lebih baik bagi para survivor (korban yang sudah mampu melampaui pengalaman kekerasan).
  • Mengajak semua orang untuk turut terlibat aktif sesuai dengan kapasitasnya dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Tema Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan setiap tahun berbeda namun saling menguatkan. Untk tahun 2025 UN Women di akun Instagram-nya memberi tema : UNiTE to End Digital Violence against All Women and Girls”. 

Baca juga: Mitos dan Tafsir Kitab Suci Picu Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan di NTT 

“Kampanye #UNiTE tahun ini mendorong pemerintah, perusahaan teknologi, komunitas, dan individu untuk bersama membangun ruang digital yang aman dan inklusif untuk semua orang,” ujar UN Women.


Hari penting apa saja dalam rentang 16 hari?

29 November:  Hari Perempuan Pembela HAM Internasional. Pertama kali diperingati pada tahun 2004 untuk merayakan aktivisme perempuan dalam membela hak asasi manusia di seluruh dunia, dalam semua dimensi dan konteks, baik individu maupun kolektif.

1 Desember : Hari AIDS Sedunia. Hari ini diluncurkan dalam konferensi internasional tingkat menteri kesehatan seluruh dunia pada 1988. Hari ini diperingati untuk menggalang dukungan publik serta mengembangkan suatu program yang mencakup kegiatan pencegahan penyebaran HIV/AIDS dan pendidikan seta penyadaran akan isu-isu seputar permasalahan AIDS.

3 Desember : Hari Penyandang Disabilitas Sedunia. Majelis Umum PBB pada tahun 1982 mengadopsi 3 Desember sebagai Hari Penyandang Disabilitas Sedunia. Tujuannya, untuk meningkatkan pemahaman publik akan isu mengenai penyandang disabilitas, mambangkitkan kesadaran akan manfaat yang dapat diperoleh, baik oleh masyarakat maupun penyandang disabilitas dengan mengintegrasikan keberadan mereka dalam segala aspek kehidupan masyarakat.

5 Desember : Hari Internasional bagi Sukarelawan yang ditetapkan PBB tahun 1985.

6 Desember : Hari Tidak Ada Toleransi bagi Kekerasan terhadap Perempuan. Hari ini untuk memperingati pembunuhan massal di Universitas Montreal, Kanada pada 6 Desember 1989. Sebanyak 14 mahasiswi tewas dan 13 lainnya terluka disebakan tembakan senjata semi otomatis kaliber 223.

Baca juga: Hadirkan Ruang Digital Aman untuk Perempuan

Pelaku bertindak brutal dengan alasan kehadiran para mahasiswi menyebabkan dirinya tidak diterima di universitas tersebut. Sebelum bunuh diri, pelaku meninggalkan sepucuk surat yang berisikan kemarahan pada para feminis dan juga daftar 19 perempuan terkemuka yang sangat dia benci.

9 Desember : Hari Pembela HAM Sedunia. Peringatan pertama kali dicanangkan dalam Deklarasi PBB tentang Pembela HAM dan diadopsi oleh Sekretaris Jenderal PBB pada 9 Desember 1998.

10 Desember : Hari HAM Internasional. Hari ini untuk merayakan penetapan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) oleh PBB di tahun 1948. Hari ini juga diperingati untuk menyebarluaskan prinsip-prinsip HAM.

Sumber: Komnas Perempuan/Konde.co/Tempo.co

 

 

 

 

Tags: #16HAKTP#Femisida#KBGO#Kekerasanterhadapperempuan#komnasperempuan#UNWomen
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Para peserta Diskusi Komunitas Breaking Barries, Building Feature #KickOutGBV# berfoto bersama dilatari bola untuk olahraga sepak bola di Jakarta, 6 Maret 2026. (Foto: Magdalene)

Sepak Bola Jadi Wadah Promosi Ruang Aman untuk Perempuan

by KatongNTT
10 Maret 2026
0

Siapa yang tidak kenal sepak bola, jenis olahraga paling populer seantero Indonesia bahkan dunia. Untuk merayakan Hari Perempuan Internasional pada...

Sewindu Komunitas Lakoat Kujawas, Jatuh Bangun Melestarikan Budaya Mollo

by Yanti Mesak
19 Februari 2026
0

Komunitas Lakoat Kujawas adalah salah satu komunitas yang berada di Desa Taiftop, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT....

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati