• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Rabu, September 16, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Opini

Anita Mahenu dan Jalan Baru Pertanian Sumba Barat

Semakin banyak nilai tambah yang dapat bertahan di daerah, semakin besar pula peluang pertanian ikut menggerakkan ekonomi masyarakat.

Teguh Lamentur Takalapeta by Teguh Lamentur Takalapeta
1 hari ago
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Ilustrasi rantai pertanian (Dok.KatongNTT)

Ilustrasi rantai pertanian (Dok.KatongNTT)

0
SHARES
17
VIEWS

Pelantikan Anita Nidya Mahenu sebagai Ketua DPC Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Sumba Barat pada Selasa, 15 September 2026, di Kupang, bagi saya menarik untuk dibaca lebih jauh dari sekadar pergantian kepengurusan sebuah organisasi. Ada harapan yang ikut diletakkan di sana, terutama tentang bagaimana HKTI dapat mengambil bagian lebih nyata dalam memperkuat pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani Sumba Barat.

Harapan itu penting karena pembicaraan mengenai pertanian selama ini sering dimulai dari produksi: berapa luas lahan yang ditanam, berapa bibit yang dibagikan, berapa ton yang dipanen, atau berapa pupuk yang disalurkan. Semua itu tentu penting. Namun, kehidupan petani pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi, melainkan juga oleh nilai ekonomi yang mereka peroleh setelah hasil pertanian sampai ke pasar.

BacaJuga

Saling Cuci Tangan Hadapi Penolakan Bendungan Kolhua

Jokowi ke NTT : Dengarkan Kegelisahan Rakyat, Jangan Hanya Urus Partai

31 Juli 2026

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

13 April 2026

Baca juga: Sektor Pertanian NTT Terancam Minimnya Jumlah Petani Milenial

Di titik inilah pernyataan Anita setelah menerima tanggung jawab sebagai Ketua HKTI Sumba Barat menarik dicatat. Menurutnya, persoalan petani bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi, tetapi bagaimana produksi tersebut dapat menghadirkan kesejahteraan yang lebih baik. Ia berbicara tentang pupuk dan sarana produksi, teknologi, modal, pendampingan, hingga akses pasar. Cara pandang ini menunjukkan bahwa pertanian dipahami sebagai sebuah rantai yang perlu diperkuat dari hulu sampai hilir.

Petani memang berada pada bagian paling mendasar dari rantai itu. Mereka mengolah tanah, menanam, merawat tanaman, menghadapi perubahan cuaca dan hama, lalu memanen. Setelah hasil pertanian keluar dari kebun, masih ada proses pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, pengemasan, pemasaran, hingga penjualan. Di setiap tahap terdapat nilai tambah. Karena itu, salah satu pekerjaan penting ke depan adalah memastikan petani memperoleh manfaat yang semakin besar dari keseluruhan rantai ekonomi tersebut.

Gagasan Anita tentang HKTI yang bekerja dari hulu sampai hilir karena itu memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan. Jika petani menghasilkan jagung, misalnya, pembicaraan dapat dilanjutkan pada siapa yang membeli, bagaimana menjaga harga, bagaimana membuka pasar, dan apakah sebagian produk dapat diolah di Sumba Barat. Hal yang sama berlaku bagi beras, kopi, sayuran, buah, ternak, dan berbagai komoditas lokal lainnya. Semakin banyak nilai tambah yang dapat bertahan di daerah, semakin besar pula peluang pertanian ikut menggerakkan ekonomi masyarakat.

Dalam konteks itulah saya melihat Anita sebagai figur yang tepat dan layak menerima tanggung jawab ini. Dalam beberapa tahun terakhir, ia telah bergerak di ruang sosial, politik, dan pelayanan masyarakat. Kerja sosial memberinya pengalaman berjumpa langsung dengan kebutuhan masyarakat. Pengalaman politik memperluas jejaring dan pengenalannya terhadap ruang kebijakan. Sementara keterlibatannya dalam pengelolaan kebutuhan pangan melalui Program Makan Bergizi Gratis membuatnya bersentuhan dengan persoalan rantai pasok, kebutuhan bahan pangan, dan peluang melibatkan petani lokal.

Baca juga: Cerita Rumput Laut dari Tablolong: Petani Kesulitan Bibit, Hama Lendir, dan Tercemar Mikroplastik

Pertemuan berbagai pengalaman itu menjadi modal penting. Pertanian hari ini membutuhkan bukan hanya kemampuan meningkatkan produksi, tetapi juga kemampuan membangun hubungan antara petani dengan pemerintah, perbankan, dunia usaha, teknologi, dan pasar. Pada wilayah inilah Anita memiliki peluang besar untuk membuat HKTI menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai kepentingan tersebut dengan kebutuhan petani Sumba Barat.

Perhatian Anita terhadap generasi muda juga patut mendapat tempat. Ia mengajak anak-anak muda Sumba Barat untuk tidak melihat pertanian sebagai pekerjaan orang tua dan tidak malu menjadi petani. Menurut saya, pesan ini dapat dikembangkan lebih jauh dengan menjadikan pertanian sebagai pilihan yang semakin masuk akal secara ekonomi bagi generasi muda.

Anak muda akan semakin tertarik apabila di dalam pertanian tersedia ruang bagi teknologi, kreativitas, kewirausahaan, dan inovasi. Petani muda hari ini dapat mengelola kebun sambil membaca harga melalui HP, memasarkan produk lewat media sosial, membangun merek lokal, mengolah hasil panen, dan menciptakan lapangan pekerjaan. Dengan ekosistem seperti itu, pertanian tidak lagi dilihat sebagai pilihan terakhir, melainkan sebagai salah satu ruang masa depan.

Karena itu, pelantikan Anita dapat dibaca sebagai momentum yang membuka harapan baru. Dalam beberapa tahun mendatang, harapan tersebut dapat bertumbuh melalui semakin mudahnya petani memperoleh sarana produksi, akses pembiayaan yang lebih terbuka, munculnya pasar baru, berkembangnya pengolahan komoditas lokal, serta semakin banyak anak muda yang melihat peluang ekonomi di sektor pertanian. Semua proses itu pada akhirnya bermuara pada satu tujuan yang sama: meningkatnya kesejahteraan petani.

Baca juga: Petani Jagung NTT Kesulitan Pemasaran

Sumba Barat memiliki masyarakat yang telah bekerja dengan tanah dari generasi ke generasi. Modal kerja keras itu perlu dipertemukan dengan pasar, teknologi, pembiayaan, jaringan, dan kebijakan yang semakin mendukung. Karena itu, saya melihat kepemimpinan Anita Mahenu di HKTI bukan sekadar sebagai pergantian seorang ketua, tetapi sebagai kesempatan untuk memperkuat hubungan antara organisasi tani dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Anita memiliki modal sosial, pengalaman, dan jejaring untuk mengambil peran tersebut. Jika modal itu dapat diterjemahkan melalui kerja kolaboratif bersama petani, pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan generasi muda, HKTI Sumba Barat dapat tumbuh menjadi salah satu simpul penting pembangunan pertanian daerah.

Pada akhirnya, harapan kepada Anita sederhana: membuat HKTI semakin hadir dan berguna bagi petani. Jika itu berhasil, pelantikan hari ini kelak dapat dikenang sebagai awal dari sebuah langkah yang lebih besar, ketika petani Sumba Barat memperoleh kesempatan semakin luas untuk bertumbuh, mandiri, dan sejahtera. Ketika kesejahteraan petani meningkat, yang sedang dibangun sesungguhnya bukan hanya masa depan pertanian, melainkan juga fondasi bagi kesejahteraan Sumba Barat secara keseluruhan. *****

Tags: ##AnitaMahenu#HKTI#NTT#SumbaBarat
Teguh Lamentur Takalapeta

Teguh Lamentur Takalapeta

Baca Juga

Saling Cuci Tangan Hadapi Penolakan Bendungan Kolhua

Jokowi ke NTT : Dengarkan Kegelisahan Rakyat, Jangan Hanya Urus Partai

by Rio Hermanus
31 Juli 2026
0

Katangan Joko Widodo ke Nusa Tenggara Timur (NTT), yang salah satunya diisi dengan agenda Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Partai Solidaritas...

Konsep Komunio Leonardo Boff dan Relevansinya bagi Komunitas Religius

by Gerardus Taena
13 April 2026
0

Konsep komunio merupakan salah satu pilar teologis yang mendasar dalam diskursus kekristenan, terutama dalam konteks Gereja dan kehidupan religius. Dalam...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati