• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Pekerja Migran & Perdagangan Orang

7 ABK Indonesia Telah 11 Bulan Hilang di Afrika, Dibunuh?

Rita Hasugian by Rita Hasugian
4 tahun ago
in Pekerja Migran & Perdagangan Orang
Reading Time: 2 mins read
A A
0
0
SHARES
1.2k
VIEWS

Kupang– Sebanyak 7 ABK (Anak Buah Kapal) berkewarganegaraan Indonesia sudah 11 bulan hilang. Mereka terakhir kali diketahui berlayar di perairan Mauritius, Afrika.

Ketujuhnya tidak dapat dihubungi sejak 26 Februari 2021 hingga hari ini. Upaya pencarian terus diupayakan anggota keluarga, namun para ABK belum juga ditemukan.

BacaJuga

Rumput laut milik nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang rusak disebabkan limbah batubara PLTU Timor-1. (Dok. Oktaf Saketu)

PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

8 Januari 2026
Penjara Kluang, Johor, Malaysia tempat PMI NTT tak berdokumen menjalani hukuman sebelum dideportasi pulang. (icrc.uthm.edu)

PMI NTT Ungkap Penjara dan Detensi Imigrasi Malaysia Tidak Manusiawi

27 Desember 2025

“Saya ayah kandungnya Petrus,” kata Gabriel Ulu Tunabenani kepada KatongNTT melalui pesan Whatsapp pada 11 Januari 2022.

“Terakhir komunikasi tgl 26 Februari 2021 jam 17.00 WITA,” ujarnya.

Gabriel Ulu Tunabenani, ayah dari ABK Petrus Crisologus Tunabebani yang sudah 11 bulan hilang di Laut Mauritius, Afrika. (KatongNTT.com)

Petrus yang dimaksud Gabriel adalah Petrus Crisologus Tunabenani. Dia kelahiran Covalima, 30 Juli 1994.

Enam ABK lainnya yang hilang adalah Rudi Herdiana (Brebes, 23 Mei 1988), Dadan (Ciamis, 20 Juli 1994), Klaudius Ukat (Abat, 15 Februari 1997), Galih Candra Kusuma (Kebumen, 5 Februari 1996, Muhamad Fajar, dan Anton Pradana.

Baca juga: https://katongntt.com/nasib-7-abk-indonesia-hilang-belum-jelas-agen-klaim-asuransi/

Dalam pembicaraan terakhir itu, Petrus menjelaskan kepada ayahnya bahwa dia dan 6 rekan kerjanya sedang bersandar di pelabuhan Port Louis di Mauritius, Afrika Selatan.

Pada 3 Maret 2021, Gabriel menerima informasi dari beberapa ABK kapal lain bahwa mereka kehilangan kontak dengan tujuh ABK itu.

Gabriel juga menerima informasi bahwa terjadi keributan antara ABK Vietnam bersama mandor serta kapten kapal berhadapan dengan 7 ABK Indonesia di kapal ikan Wei Fa. kapal sedang bersandar di area pelabuhan Port Louis.

“Anak saya terkena bacokan di wajahnya,” kata Gabriel yang menerima foto wajah anaknya berdarah.

Saat terjadi perkelahian itu, kapal ikan tersebut berlayar meninggalkan pelabuhan ke tengah laut.

“Apakah ada perencanaan pembunuhan terhadap para ABK ini?” tanya Gabriel dalam suratnya meminta bantuan hukum kepada Padma Indonesia, 10 Desember 2021.

Baca juga: https://katongntt.com/pemerintah-minta-saksi-bersuara-tentang-7-abk-hilang-di-mauritius/

Dia juga belum mengetahui pasti mengapa sampai terjadi keributan yang membuat anaknya jadi korban bacokan.

Sesuai jadwal, menurut Gabriel, masa kontrak kerja anaknya sudah berakhir.Bahkan dia sudah membeli tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia pada 28 Februari 2021.

“Kami keluarga korban hanya ingin mengetahui keberadaan mereka.” (Rita Hasugian)

Tags: #7ABKHilang#Mauritius#PadmaIndonesia
Rita Hasugian

Rita Hasugian

Baca Juga

Rumput laut milik nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang rusak disebabkan limbah batubara PLTU Timor-1. (Dok. Oktaf Saketu)

PLN Klaim Usut Dugaan Batubara PLTU Timor-1 Cemari Laut Timor

by Rita Hasugian
8 Januari 2026
0

Kupang – PT PLN sedang menelusuri dan memvalidasi informasi dari nelayan Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang bahwa aktivitas bongkar muat batubara...

Penjara Kluang, Johor, Malaysia tempat PMI NTT tak berdokumen menjalani hukuman sebelum dideportasi pulang. (icrc.uthm.edu)

PMI NTT Ungkap Penjara dan Detensi Imigrasi Malaysia Tidak Manusiawi

by Rita Hasugian
27 Desember 2025
0

Kupang – Marselinus Seke menahan rasa sakit pada kedua kakinya yang bengkak setiap kali melangkah. Kulit kakinya melepuh,  mengeluarkan cairan...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati