• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
Katong NTT
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi
No Result
View All Result
Katong NTT
No Result
View All Result
Home Sorotan

Komnas Disabilitas Ajak KWI Hapus Stigma dan Diskriminasi

Tim Redaksi by Tim Redaksi
4 tahun ago
in Sorotan
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Komisi Nasional Disabilitas (KND) saat berdialog dengan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) terkait penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas

Komisi Nasional Disabilitas (KND) saat berdialog dengan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) terkait penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas

0
SHARES
133
VIEWS

Stigmatisasi bagi penyandang disabilitas seringkali terdengar ditelinga dan mendiskreditkan mereka. Perjuangan mengangkat derajat penyandang disabilitas terus dilakukan. Salah satunya melalui Komisi Nasional Disabilitas (KND).

Dalam lawatan KND ke kantor Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jumat (4/2/2022) kemarin, KND mengajak peran serta KWI menghilangkan stigma negatif dan diskriminasi itu.

BacaJuga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

3 Maret 2026
Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

18 Agustus 2025

Ketua KND, Dante Rigmalia mengatakan, ada lima point utama dalam upaya menghapus stigma negatif dan anti ketidakadilan terhadap penyandang disabilitas.

Pertama, penyandang disabilitas harus memiliki aksesibilitas terhadap layanan keagamaan yang diyakininya. Kedua, aksesibilitas terhadap infrastruktur tempat beribadah. Ketiga, aksesibilitas pada berbagai layanan keagamaan.

Point keempat menurut Dante adalah kesepahaman tentang peran dan fungsi strategis untuk menghilangkan stigma negatif dan diskriminasi dan kelima melakukan sosialiasikan dan edukasi kepada masyarakat terkait penghormatan, pelindungan dan pendampingan Disabilitas.

“KND tidak bisa bekerja sendirian, sehingga harus berkolaborasi dengan semua pihak. Penyandang Disabilitas adalah bagian dari masyarakat yang tidak perlu dibedakan dalam mengakses segala bidang,” kata Dante.

KND mendatangi beberapa organisasi, diantaranya organisasi keagamaan untuk berkolaborasi menciptakan lingkungan inklusif. Khusus organisasi keagamaan, KWI merupakan organisasi kedua yang didatangi. Sebelumnya KND sudah berkunjung ke PBNU.

Dalam kunjungan ke kantor KWI di kawasan Cikini Jakarta, Dante didampingi empat Komisioner yakni Kikin Tarigan, Jonna Aman Damanik, Rachmita Maun Harahap, dan Fatimah Asri.

Komisioner Rachmita, seorang penyandang disabilitas Tuli berbagi pengalamannya saat bersekolah terkait aksesibilitas di bidang keagamaan. Menurutnya, saat dirinya bersekolah di sebuah SD Khatolik umum namanya SD Fransiskus, sekolah itu sangat inklusif dalam mata pelajaran pendidikan agama.

Rachmita bercerita, Sekolah itu menjalin kerja sama dengan SD Negeri umum agar siswanya yang beragama Islam bisa mendapatkan pelajaran. Dan setiap hari Jumat, Rachmita bisa belajar tentang agama Islam di sekolah Negeri itu.

Berbeda dengan saat ia masuk SLB-B Katolik di Medan. Meski ada jadwal mata pelajaran Agama, namun tidak disediakan pembelajaran agama Islam.

“Untuk itu KWI harus melakukan pendampingan terhadap disabilitas yang bersekolah di sekolah yang berbeda dengan agama yang dianutnya,” kata Rachmita yang menjelaskan pernyataannya dengan bahasa isyarat dibantu oleh juru bahasa isyarat.

Ia juga berharap gereja dan tempat ibadah lainnya dapat memiliki aksesibilitas. Aksesibilitas tersebut antara lain harus ada akses bagi penyandang disabilitas, ada AYL (Akomodasi Yang Layak) dan Unit Layanan Disabilitas (ULD).

Ketua KWI Kardinal Ignatius Suharyo menyambut baik apa yang disampaikan KND. Menurutnya, Konferensi Wali Gereja Indonesia bersama KND siap mengedukasi masyarakat terkait stigma negatif dan diskriminasi aksesibilitas.

Tahun ini, KWI mewujudkan penghormatan terhadap martabat manusia dalam gerakan Pancasila. Ada 5 tema besar yakni hormat terhadap martabat manusia, mengusahakan kebaikan, solidaritas, perhatian lebih pada saudara kita yang kurang beruntung, dan merawat ciptaan-Nya.

Kardinal Ignatius membuka pintu untuk bekerja sama mendukung upaya menghapus stigma negatif dan diskriminasi terhadap Penyandang Disabilitas.

“Saya yakin bahwa kesadaran untuk menghormati saudara kita yang berkebutuhan khusus saat ini makin meningkat dengan seringnya isu disabilitas diangkat. Ini adalah bagian dari penghormatan terhadap martabat manusia,” ujar Kardinal Ignatius.

Tags: #diskriminasidisabilitas#katongntt#Komisinasionaldisabilitas#konferensiwaligejeraindonesia#stigma
Tim Redaksi

Tim Redaksi

Media berita online berkantor di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fokus pada isu-isu ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, dan lingkungan.

Baca Juga

Erik Saka, anak Frans Xaver Saka dan istrinya Clotilde Min Mesak menuangkan angur kolesom saat sembahyang Imlek di rumah mereka di Weluli, Kabupaten Belu, NTT. (Yanti Mesak/KatongNTT)

Tradisi Sembahyang Imlek di Weluli

by Yanti Mesak
3 Maret 2026
0

Untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 yang dimulai pada 17 Februari 2026 dan berakhir pada 3 Maret 2026, keluarga Frans...

Jalan rusak parah di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT (Yohanes Fandi/KatongNTT)

Antara Jalan Rusak, Gagal Panen, Obat Kosong dan Semarak Kemerdekaan

by Difan Fandi
18 Agustus 2025
0

Desa Natarmage - Pagi itu, saya berangkat dari Desa Pruda menuju Natarmage, Kecamatan Waiblama, untuk mengikuti perayaan HUT RI ke-80...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Katong NTT

Merawat Suara Hati

Menu

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
Sign In with Linked In
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Sorotan
  • Perempuan dan Anak
  • Cuaca, Iklim dan Lingkungan
  • Pekerja Migran & Perdagangan Orang
  • Lainnya
    • Bisnis
      • Agribisnis
      • Industri Pariwisata
    • Inspirator
    • Opini
    • Pemilu 2024
    • Kolaborasi
      • Cerita Puan
      • Dekranasda Provinsi NTT
      • Kabar dari Badan Penghubung NTT
      • Media dan Literasi

Merawat Suara Hati