Antonius Stefanus Enga Tifaona, Polisi Asal Lembata Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Seniman patung Dolorosa Sinaga menjelaskan tentang maket patung Birgjen Polisi Purnawirawan Antonius Stefanus Enga Tifaona sebelum diserahkan pihak keluarga ke Bupati. Antonius diusulkan sebagai pahlawan nasional . (Rita-KatongNTT.com)

Seniman patung Dolorosa Sinaga menjelaskan tentang maket patung Birgjen Polisi Purnawirawan Antonius Stefanus Enga Tifaona sebelum diserahkan pihak keluarga ke Bupati. Antonius diusulkan sebagai pahlawan nasional . (Rita-KatongNTT.com)

“Layak dicalonkan jadi pahlawan nasional. Pengabdiannya tidak ada cacat,” kata Yosep Adi Prasetyo.

Kupang–  Sosok Brigadir Jenderal Polisi purnawirawan Antonius Stefanus Enga Tifaona boleh jadi tidak dikenal dekat oleh generasi muda Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini. Namun, buah pemikiran dan karyanya sebagai polisi telah dirasakan mereka bahkan masyarakat Indonesia.  Misalnya tentang pemakaian helm di Indonesia yang dimulai dari Jawa Timur tahun 1984.

Berikutnya,  penertiban jalur Puncak Bogor  dengan sistem buka – tutup kendaraan yang melintas di kawasan wisata itu. Antonius atau disapa Anton juga menggagas konsep Pengadilan Terapung di Maluku tahun 1985 dan Latihan Bersama Polis Di Raja Malaysia dan Polisi Republik Indonesia (Latma Aman Malindo I tahun 1980).

Pria kelahiran Imulolong, Kabupaten Lembata, Provinsi NTT  juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan di masyarakat, baik di tanah kelahirannya, di tingkat nasional , hingga regional dan internasional.

Anton terus berkarya untuk masyarakat dan Indonesia hingga ajal menjemputnya pada 15 Oktober 2017.

“Mungkin masih banyak yang belum kenal dengan beliau (Anton). Inilah tokoh, bintang dari timur yang kita perjuangkan jadi pahlawan nasional,” kata Sinun Petrus Manuk, Ketua Forum Perjuangan Pahlawan Nasional NTT dalam Seminar Nasional tentang sosok Anton “Matahari dari Timur untuk Indonesia pada Sabtu, 27 Agustus 2022.

Menurut Petrus, seminar di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira),  selain mensosialisasikan kiprah dan pengabdian Anton juga untuk mendapatkan informasi dari masyarakat tentang Anton.

Dia menjelaskan, Bupati Lembata Marsianus Djawa telah memberikan dukungan penuh agar pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Anton. Sudah lebih dari 600 dukungan diberikan kepada Anton diberi gelar pahlawan nasional.

Bupati Marsianus diharapkan segera menulis surat resmi kepada Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat untuk usulan penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Anton. Selanjutnya, Gubernur akan menyurati Dinas Sosial NTT.

“Satu titik formal penting ada di Dinas Sosial. Kami, keluarga mohon dukungan Dinas,” ujarnya.

Setelah itu, Presiden akan mengeluarkan keputusan tentang usulan Forum yang didukung keluarga almarhum Anton.

 Wakil Rektor III Unwira Servatius Rodriques menjelaskan,  Anton telah menginspirasi banyak orang sehingga dinilai tepat hidupnya yang dibingkai ungkapan Pro Deo et Patria atau Untuk Tuhan dan Tanah Air.   

“Keteladanannya sebagai anggota polisi menginspirasi pemuda NTT menjadi anggota polisi dengan mengikuti jejak beliau,” kata Servatius.

Suasana Seminar Nasional tentang Brigjen Polisi Purnawirawan Antonius Stefanus Enga Taifona yang diusulkan jadi pahlawan nasional dan patungnya akan dibangun di Kabupaten Lembata, NTT. Seminar diselenggarakan di aula lantai 4 Universitas Katolik Widya Mandira di Penfui, Kota Kupang, NTT pada Sabtu, 27 Agustus 2022.

Anak Unggul

Yosep Adi Prasetyo, mantan Ketua Dewan Pers dan Wakil Ketua Komnas HAM menyebut Anton sebagai sosok pemimpin yang melampaui tugasnya sebagai polisi. Perjalanan hidup Anton dari masa kecil yang berat dan diberi kepercayaan mengajar adik kelasnya  menunjukkan bahwa Anton anak unggul. Unggul dari sisi fisik dan kecerdasannya.  “Dia anak unggul,” kata Yosep sebagai pembicara dalam seminar.

Dari sisi keteladanan, Yosep mencermati dari sisi karir Anton di kepolisian yang istimewa . Saat berpangkat brigadier tanpa punya pengalaman cukup di lapangan, mendadak diminta melanjutkan pendidikan di PTIK. Padahal untuk mengikuti pendidikan di PTIK, seorang polisi umumnya berpangkat AKP atau Komisaris Polisi (Kapten).

Dia juga disebut menguasai beberapa bahasa asing di antaranya Inggris, Latin, dan Italia. Anton meraih sejumlah penghargaan dari sejumlah lembaga termasuk pemerintah.

“Pasti bukan orang sembarangan,” ujar Yosep.

“Layak dicalonkan jadi pahlawan nasional. Pengabdiannya tidak ada cacat,” kata Yosep memberikan dukungan.

Pater Charles Beraf SVD menggarisbawahi bahwa Anton tidak memiliki catat terkait dengan profesinya. “Sebagai manusia tentu  kita manusia tidak ada yang sempurna,” kata Pater menanggapi pertanyaan seorang peserta seminar.

Dalam seminar, Dolorosa Sinaga yang dikenal sebagai seniman pematung menyerahkan maket patung Antonius Stefanus Enga Tifaona kepada Bupati Lembata Marianus Djawa. Patung yang akan ditempatkan di perempatan jalan utama di Lembata akan dibangun pada awal September 2022. Pembangunan  patung dijadwalkan rampung pada Desember 2022.  

Menurut Bona Beding sebagai Direktur Eksekutif Institut Kebudayaan Lembata-Ikal, patung memiliki dimensi tidak hanya mengingatkan, namun menempatkan pengharapan di dalamnya. Patung sebagai produk kebudayaan, lahir dan tumbuh dalam diri sendiri dan dari kegiatan-kegiatan kebudayaan.

“ Anton sangat taat dengan adat dan tradisinya,” ujar Bona dalam seminar.

Keberadaan Anton, ujarnya, tentu tidak hanya menginspirasi Lembata, tapi juga untuk Indonesia.

Sebagai dukungan konkrit  pemberian gelar pahlawan nasional,  Pemerintah Daerah Lembata akan mengganti  nama bandara di Lembata menjadi nama Antonius Stefanus Engga Tifaona. Begitu juga nama jalan, dan nama satu gedung.

Hingga tahun 2022, ada tiga tokoh asal NTT yang dianugerahi gelar pahlawan nasional yaitu : Herman Johanes (mantan rektor UGM di Yogyakarta dan ahli nuklir), Wilhemus Zakaria Johanes (ahli kesehatan), dan Izak Huru Doko (pendidik).  (Rita Hasugian)  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *