Atasi Mata Katarak, YTB Bentuk Desa Sehat Mata di TTS

Kepala Desa Enoneontes, Samgar Neonane menuliskan komitmen bersama bentuk Desa Sehat Mata, Rabu, 16 Februari 2022 (YTB-KatongNTT)

Kepala Desa Enoneontes, Samgar Neonane menuliskan komitmen bersama bentuk Desa Sehat Mata, Rabu, 16 Februari 2022 (YTB-KatongNTT)

Yayasan Tanpa Batas (YTB) Kupang bersama Komite Penyandang Disabilitas (KIPDA) Timor Tengah Selatan (TTS) membentuk Desa Sehat Mata di Kabupaten TTS, Rabu (16/2/2022). Desa Enoneontes, Kecamatan Kuatnana dipilih sebagai salah satu Desa Sehat Mata.

Yohan Xiemenes, staf YTB menjelaskan, gangguan mata paling banyak dialami masyarakat di Indonesia adalah katarak. Sebagian katarak terjadi karena faktor penambahan usia. Rata-rata katarak terjadi pada usia 50 tahun ke atas.

Katarak terjadi akibat beberapa faktor. Melansir alodokter.com, katarak disebabkan oleh penuaan, diabetes dan kebiasaan merokok. Faktor lainnya adalah trauma fisik dan bisa disebabkan oleh paparan langsung sinar matahari.

Katarak juga bisa terjadi pada anak atau dikenal dengan katarak kongenital yang terbentuk sebelum kelahiran atau 1 tahun pertama kehidupan bayi. Katarak jenis ini diakibatkan oleh bayi yang lahir prematur, atau memiliki keluarga dengan riwayat kongenital.

“Penyebab lainnya adalah infeksi yang diderita Ibu selama masa kehamilan,” kata Yohan.

Desa Sehat Mata merupakan bagian dari program I-SEE NTT yang nantinya dijadikan contoh bagi Desa lainnya dalam penanganan gangguan penglihatan yang inklusif.

Berdasarkan hasil survei cepat untuk kebutaan yang bisa dicegah, yang dilakukan pada beberapa Provinsi di Indonesia tahun 2014-2016, prevalensi kebutaan pada masyarakat usia 50 tahun ke atas berkisar pada 1,4 persen sampai 4,5 persen.

Di NTT, prevalensi kebutaan berada pada angka 2 persen. Jumlah penduduk di NTT berdasarkan data BPS pada tahun 2017 sebanyak 5.287.302 orang. Warga berusia 50 tahun keatas sebanyak 843. 998 orang.

Dari jumlah tersebut, 16.880 orang diperkirakan mengalami kebutaan. 12. 660 orang diantaranya mengalami buta katarak. Jumlah kasus baru katarak di NTT diperkirakan mencapai 2,532 kasus per tahun.

“Dengan melihat persoalan gangguan penglihatan yang sangat besar di NTT, maka upaya penyadaran berbasis masyarakat menjadi point penting,” jelas Yohan.

Program Desa Sehat Mata digagas untuk melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam penanganan gangguan penglihatan.

Yohan mengatakan, keterlibatan masyarakat, Pemerintah Desa dan LSM guna mempersiapkan layanan inklusif bagi masyarakat yang memiliki gangguan penglihatan.

Desa Enoneontes merupakan Desa Sehat Mata ke-10 di TTS. Yohan menjelaskan, Desa Enoneontes dipilih sebagai salah satu Desa contoh sebab jumlah pasien yang cukup banyak di Desa tersebut. Didukung oleh kepedulian dan harapan sembuh yang tinggi dari warga penderita mata katarak.

Kepala Desa Enoneontes, Samgar Neonane menyambut baik kehadiran Desa Sehat Mata. Gerakan sembuh dari gangguan penglihatan dinilai sebagai sebuah gebrakan positif membantu sesama mengatasi masalah penglihatan.

Dirinya berharap Desa Enoneontes menjadi contoh pelayanan inklusif mengatasi gangguan penglihatan.

“Kita harus memulai gebrakan baru dengan menyayangi mata sendiri terlebih dahulu. Menyembuhkan gangguan mata adalah salah satu gerakan untuk peduli terhadap orang lain. Selanjutnya kita bicara tentang gerakan pembangunan,” kata Samgar.

Pembentukan Desa Sehat Mata merupakan komitmen bersama Pemerintah dan masyarakat. Melalui Dana Desa, akan dianggarkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan terkait kesehatan mata.

“Fokus kita tidak hanya pada masyarakat yang mengalami katarak, tapi juga edukasi untuk semua masyarakat dalam Desa Sehat Mata tentang bagaimana menjaga kesehatan mata,” ujar Yohanes. (K-04)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *