BI NTT Paparkan 6 Langkah Menekan Inflasi

Kepala BI NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja (tiga dari kanan) bersama Wakil Wali Kota Kupang Hermanus Man menaman cabe di Kelurahan Kayu Putih sebagai upaya menekan inflasi (Joe-KatongNTT)

Kepala BI NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja (tiga dari kanan) bersama Wakil Wali Kota Kupang Hermanus Man menaman cabe di Kelurahan Kayu Putih sebagai upaya menekan inflasi (Joe-KatongNTT)

Kupang – Bank Indonesia Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT) memamparkan 6 langkah Menekan inflasi di wilayah tersebut. Per Juli 2022, inflasi tahun ke tahun sebesar 5,3 persen. Sedangkan di Indonesia, inflasi tahun ke tahun pada bulan Juli sebesar 4,9 persen.

Inflasi gabungan 3 Kota di NTT yakni Kota Kupang, Maumere dan Waingapu pada bulan Juli sebesar 1,05 persen. NTT tercatat mengalami inflasi 2 bulan berturut-turut, mulai Juni 2022 sebesar 0,52 persen meningkat dari bulan sebelumnya yakni 0,23 persen.

Kepala BI Perwakilan NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja pada pekan lalu menjelaskan, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) NTT telah menyepakati langkah-langkah menghadapi laju inflasi. Ada 6 langkah yang akan dilakukan oleh TPID NTT.

Pertama, operasi pasar akan lebih intensif. Nyoman menguraikan operasi pasar itu antara lain operasi pasar murah dan sidak pasar untuk pemantauan harga.

Kedua, mengintensifkan kerja sama antar daerah. Upaya itu, kata Nyoman untuk memenuhi kebutuhan pangan yang bisa dipasok dari daerah-daerah dalam NTT.

“Kota Kupang ini masih perlu ada bawang merah dari Rote atau dari Semau atau dari (daerah) lain. Begitu juga dengan cabe, bisa dari Bajawa atau Sumba,” jelas Nyoman.

Ketiga, perlu ada pemetaan produksi dan distribusi serta update data base prodiksi termasuk kebutuhan. Menurutnya, dengan data kebutuhan maupun produksi yang valid, maka arus transportasi dari daerah produsen ke daerah konsumen dapat direncanakan dengan baik.

Keempat, penggunaan produk olahan dalam daerah. Nyoman mencontohkan minyak goreng bisa diganti dengan minyak kelapa yang selama ini digunakan masyarakat di pedesaan.

“Jadi produk olahan seperti minyak kelapa, bubuk cabe, gula lokal. Pakai aja gula lontar nga apa-apa,” kata Nyoman.

Langkah kelima, kata Nyoman adalah subsidi biaya transportasi pengangkutan komoditas. Dan terakhir adalah inisiasi Kampung Sadar Inflasi melalu program nasional pengendalian inflasi (PNPI).

Untuk kampung sadar inflasi sendiri sudah dimulai dari Kota Kupang. Awal bulan ini, BI Perwakilan NTT bersama TPID Kota Kupang meluncurkan program tersebut di Kelurahan Kayu Putih.

Sebanyak 3.000 anak cabe dibagikan kepada warga Kelurahan Kayu Putih. Melalui program ini, BI NTT dan TPID mengajak masyarakat turut serta dalam pengendalian inflasi melalui pemanfaatan pekarangan. Timah untuk menanam tanaman pengendali inflasi sepeti cabe, bawang merah dan sayur-sayuran.

Nyoman menjelaskan, program tersebut akan dilanjutkan di Kota Maumere dan Waingapu. Sebanyak 77 ribu anakan cabe akan dibagi kepada masyarakat di 3 Kota tersebut.

Nyoman menjelaskan, untuk mewujudkan program tersebut, perlu koordinasi dan kolaborasi. Pihaknya terus membangun koordinasi bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang tergabung dalam TPID.

“Pemerintah daerah juga bisa mengalokasikan bibit untuk masyarakat karena ada dinas pertanian,” kata Nyoman.(Joe)

Baca juga: Kelompok Transportasi Sumbang Kenaikan Inflasi Terbesar di NTT Juli 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *