Bidan Desa Ernesty 7 Tahun Bekerja Tanpa Listrik, Air Bersih di Mabar

Bidan desa Ernesty Suharni Inggur (berkacamata) menolong persalinan seorang ibu di tepi jalan Dusun Baang, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Selasa pagi, 29 November 2021. (Arsip)

Bidan desa Ernesty Suharni Inggur (berkacamata) menolong persalinan seorang ibu di tepi jalan Dusun Baang, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Selasa pagi, 29 November 2021. (Arsip)

Bidan desa Ernesty Suharni Inggur baru saja mengikuti pelatihan penurunan angka stunting saat telepon genggamnya berdering pada Selasa pagi, 29 November 2021.

Terdengar suara memberitahukan pasiennya, Fenita Ngedes, 26 tahun segera melahirkan. Mereka meminta Bidan desa Ernesty segera memberikan pertolongan.

“Perhitungan saya melahirkan tanggal 3 Desember. Jadi, saya minta mereka ke sini (Puskesmas) pakai mobil ambulans,” kata Ernesty saat diwawancarai KatongNTT.com melalui Whatsapp, Selasa malam.

Namun dia kemudian memutuskan untuk menjemput pasiennya yang tinggal di Dusun Baang, Desa Golo Ndari, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Perempuan berusia 30 tahun asal Manggarai Barat ini bergegas meninggalkan pelatihan yang dihadiri Camat Welak untuk menyelamatkan pasiennya. Jarak Puskesmas dengan Dusun Baang sekitar 5 kilometer. Musim hujan menyisakan genangan air di jalan desa, sehingga butuh perjuangan lebih untuk mencapai Dusun Baang.

Sudah hampir 7 tahun Ernesty mengabdi sebagai bidan desa di desa Golo Ndari. Dusun Baang berada di wilayah desa itu. Desa terpencil yang tidak ada akses jalan layak untuk ke Dusun.

Bidan Desa Ernesty Suharni Inggur, 26 tahun. (Arsip)

Keluarga pasien berjalan kaki menggunakan tandu membawa ibu yang sudah mengeluarkan tanda segera melahirkan. Tujuan mereka ke Puskesmas. Mereka bertemu Bidan desa Ernesty dalam perjalanan yang sudah ditempuh sejauh 1 kilometer.

Ibu hamil tua itu tidak lagi mampu bertahan. Ernesty dibantu bidan sukarela Nelcy bergegas membantu Fenita melahirkan bayinya di pinggir jalan yang basah digenangi air hujan.

“Bayi lahir dengan selamat, langsung menangis. Karena kondisi ibunya perlu ditindaklanjuti, maka kami antar Ibu pakai oto sampai di tempat ambulans untuk dibawa ke Puskemas,” ujar Bidan desa Ernesty.

Memasuki malam hari, dia lega mengetahui kondisi ibu dan bayinya sehat dirawat di Puskesmas.

Ini potret keseharian Bidan desa Ernesty selama hampir 7 tahun ditempatkan bekerja di desa dan dusun yang tidak tersentuh listrik, air bersih, jalan layak dan transportasi umum.

Ernesty kemudian menuturkan, warga Dusun Baang menggunakan panel surya untuk menerangi rumah dan kebutuhan sehari-hari. Aliran listrik mengalir ke rumah warga setempat hanya sebatas mimpi.

“Saya membeli genset karena listrik tidak ada. Setiap bulan saya membeli bahan bakarnya Rp 600 ribu dan ongkos ojek beli bahan bakar ke kota pulang pergi Rp 200 ribu,” tutur Ernesty.

Untuk air minum dan memasak makanan, dia setiap bulan membeli 5 kardus air kemasan ukuran besar. “Harga 1 dus Rp 40 ribu,” kata Ernesty.

Semua biaya itu dia rela keluarkan dari gajinya sebagai bidan desa.

Bagaimana air untuk mandi dan membersihkan pakaian dan peralatan dapur, misalnya? Dia tersenyum seraya menjelaskan, untuk mandi dia menggunakan air hujan atau air yang dialirkan dari mata air yang dialirkan dengan pipa besi ke rumahnya.

Saat musim kering (sekitar 8 bulan), air hanya menetes sedikit bahkan tidak mengalir. Darimana sumber air untuk mandi dan mencuci pakaian misalnya? Ernesty menjawab dengan tawa lepas: “Nikmati saja. Sudah menyatu dengan warga di sana.”

Kabupaten Manggarai Barat merupakan kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Manggarai. Ibukota Manggarai Barat adalah Labuan Bajo. Siapa yang tidak kenal Labuan Bajo, kawasan wisata alamnya yang super premium. Tapi di balik ketenaran namanya itu, ada kisah pahit dan getir yang dialami warganya seperti Fenitas Ngedes dan Bidan Desa Ernesty dan Nelcy. (Rita Hasugian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *